Gebrak Meja PBB dan Banjir Panggilan Kepala Negara: Strategi ‘Jalan Tengah’ Prabowo Curi Perhatian Dunia

AKURAT BANTEN-Presiden Prabowo Subianto baru saja menyelesaikan lawatan luar negeri yang padat dan bersejarah. Namun, sorotan utama tertuju pada penampilan perdananya di panggung global: Sidang Umum ke-80 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, 23 September 2025.
Bukan hanya soal pidatonya yang berapi-api, yang bahkan membuatnya sampai delapan kali menggebrak meja mimbar PBB, tetapi juga respons luar biasa yang datang setelahnya.
"Terkesan Ingin Cari Titik Tengah": Prabowo Dihubungi Petinggi Negara
Sekembalinya ke Tanah Air pada Sabtu (27/9/2025), Presiden Prabowo membeberkan bahwa pidatonya mendapat sambutan yang sangat positif, bahkan dari kalangan pemimpin negara.
"Ya, beberapa Kepala Negara yang menelepon saya, ada yang datang juga ke saya, mereka terkesan oleh sikap Indonesia yang benar-benar ingin mencari titik tengah," kata Prabowo di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Meskipun tidak merinci siapa saja petinggi negara yang menghubunginya, Prabowo menekankan bahwa mereka terkesan dengan sikap Indonesia yang tegas mencari penyelesaian substantif terhadap konflik global.
Respon positif ini mengindikasikan bahwa posisi Indonesia sebagai mediator yang berupaya mencari jalan tengah resonansi kuat di kancah internasional.
Bahkan, Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya membocorkan sebagian kecil dari respons tersebut, menyebutkan: "Presiden AS (Donald Trump) hadir, PM Kanada, Raja Belanda, bahkan Presiden Macron menelpon langsung untuk menyampaikan apresiasi."
Baca Juga: FTA Pertama Indonesia di Amerika Utara Segera Terealisasi, Prabowo Mulai Kunjungan ke Ottawa
Terobosan Gaza: Komitmen Pasukan Perdamaian dan Harapan Gencatan Senjata
Isu yang menjadi magnet utama dalam pidato Prabowo adalah komitmen Indonesia terhadap perdamaian dunia, khususnya di Gaza, Palestina.
Presiden Prabowo tidak hanya menyerukan gencatan senjata, tetapi juga mengajukan tawaran konkret: mengirim lebih dari 20.000 Pasukan Perdamaian Indonesia ke Gaza, sebagai bagian dari upaya menegakkan perjanjian damai di masa depan.
Tawaran ini menunjukkan keseriusan Indonesia sebagai kontributor signifikan bagi Pasukan Penjaga Perdamaian PBB.
"Saya penuh harapan, mungkin kali ini bisa tercapai terobosan, khususnya di persoalan Palestina-Gaza," ungkap Prabowo.
Ia yakin ada "itikad yang baik dari banyak pihak" dan mendesak agar gencatan senjata untuk rakyat Gaza serta penyelesaian konflik secara substantif dapat tercapai dalam waktu dekat.
Baca Juga: Pidato PBB Prabowo Dipuja-puja, Pakar Sebut Nilai Pancasila Dijunjung Tinggi Sang Presiden
Sorotan Media Global
Keseriusan Indonesia ini langsung menarik perhatian media internasional. Channel News Asia (CNA), media berbasis di Singapura, secara khusus menyoroti pidato tersebut.
CNA menggarisbawahi posisi tegas Indonesia yang tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Israel, dalam mendukung Solusi Dua Negara dan komitmen militer signifikan yang diajukan Prabowo di hadapan panggung dunia.
Diplomasi Maraton 4 Negara: Capaian Penting Bagi Indonesia
Selain debut gemilang di PBB, lawatan luar negeri Presiden Prabowo dari 19 hingga 26 September 2025 juga mencatatkan berbagai hasil penting di tiga negara lain:
1. Amerika Serikat: Pidato Perdana di PBB
Agenda berlanjut ke AS, di mana Prabowo untuk pertama kalinya menyampaikan pidato sebagai Presiden RI dalam Sidang Majelis Umum ke-80 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.
Indonesia mendapat giliran ketiga di podium, setelah Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva dan Presiden AS Donald Trump. Pidato Prabowo disebut mendapat sambutan positif dari para pemimpin dunia.
“Berani, tegas, konkret. Presiden AS hadir, PM Kanada, Raja Belanda, bahkan Presiden Macron menelpon langsung untuk menyampaikan apresiasi,” ungkap Teddy.
2. Jepang: Banjir Investasi Rp380 Triliun
Di Jepang, keikutsertaan Indonesia pada Expo Osaka 2025 disebut berhasil mencatatkan komitmen investasi senilai $23,8 miliar atau setara Rp380 triliun.
3. Kanada: Peluang Ekspor Terbuka Lebar
Kunjungan ke Kanada menghasilkan penandatanganan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Kanada.
Perjanjian ini akan menghapus sekitar 90,5% tarif barang Indonesia, membuka peluang besar bagi produk dalam negeri untuk berekspansi ke pasar Kanada.
4. Belanda: Pengembalian 30.000 Artefak Bersejarah
Agenda terakhir di Belanda membuahkan kesepakatan bersejarah dengan Raja Willem-Alexander.
Belanda menyetujui pengembalian sekitar 30.000 benda bersejarah asal Indonesia, termasuk artefak Jawa, fosil, dan dokumen penting.
Secara keseluruhan, lawatan ini bukan hanya menandai debut Presiden Prabowo di PBB, tetapi juga menegaskan peran aktif dan strategis Indonesia di kancah global.
Sebuah diplomasi maraton yang tidak hanya menggalang investasi tetapi juga menorehkan komitmen perdamaian dan mengembalikan warisan budaya bangsa (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










