Rekening Bisa Terkuras Seketika, Modus QRIS Palsu Mengintai Pengguna Tanpa Disadari

Akurat Banten - Bagi Anda yang terbiasa menggunakan QRIS dalam aktivitas transaksi harian, penting untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap maraknya penipuan berbasis kode QR palsu.
Modus ini terbilang licin karena pelaku memanfaatkan kelengahan pengguna saat melakukan pembayaran digital.
Korban yang memindai kode QR tersebut tanpa curiga justru bisa kehilangan seluruh saldo dalam rekeningnya.
Hal ini terjadi karena kode QR palsu dibuat sangat mirip dengan milik pedagang asli, mulai dari nama usaha hingga nominal transaksi.
Akibatnya, banyak pengguna tidak menyadari bahwa transaksi yang dilakukan sebenarnya mengarah ke rekening penipu.
Fenomena ini bukan hal baru dan sebelumnya telah menjadi perhatian serius otoritas keuangan di Indonesia.
Pihak Bank Indonesia bahkan telah memberikan peringatan terkait potensi risiko dari penyalahgunaan sistem pembayaran digital ini.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, menegaskan bahwa QRIS sebenarnya telah dirancang dengan standar keamanan tinggi.
Sistem tersebut juga mengacu pada praktik terbaik di tingkat global untuk menjamin keamanan transaksi pengguna.
Namun demikian, keamanan QRIS tidak hanya bergantung pada sistem, melainkan juga membutuhkan peran aktif dari seluruh pihak.
"QRIS keamanannya itu tanggung jawab bersama. BI, ASPI dan pelaku industri PJP selalu melakukan sosialisasi dan edukasi terkait keamanan transaksi QRIS kepada para merchant," ujarnya.
Baca Juga: Rahasia di Balik Desil Bansos Terungkap, Ini Penjelasan Lengkap Siapa yang Berhak Menerima di 2026
Ia menambahkan bahwa upaya pencegahan tidak bisa dilakukan secara sepihak, melainkan harus melibatkan semua elemen yang terlibat dalam ekosistem pembayaran digital.
Para pedagang, misalnya, memiliki peran penting dalam menjaga keamanan penggunaan QRIS di tempat usaha mereka.
Mereka diharapkan memastikan bahwa kode QR yang digunakan tidak diganti atau disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Selain itu, pengawasan terhadap proses transaksi juga perlu dilakukan secara konsisten.
Hal ini berlaku baik untuk pembayaran melalui pemindaian kode QR maupun penggunaan perangkat seperti mesin EDC.
Langkah lain yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa setiap transaksi benar-benar tercatat dengan baik.
Pedagang disarankan untuk selalu mengecek notifikasi pembayaran sebagai bukti bahwa transaksi telah berhasil dilakukan.
Dengan begitu, potensi penipuan dapat diminimalkan sejak awal.
Di sisi lain, pembeli juga tidak boleh bersikap pasif dalam menjaga keamanan transaksi mereka.
Setiap pengguna QRIS perlu lebih teliti sebelum melakukan pembayaran.
Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah memastikan identitas penerima sesuai dengan merchant yang dituju.
Filianingsih mengingatkan agar pengguna tidak mengabaikan detail kecil yang sebenarnya sangat krusial.
Baca Juga: Cukup Masukkan NIK KTP, Status Bansos 2026 Bisa Dicek Online Tanpa Ribet
"Namanya benar, jangan misalnya yayasan apa, tetapi namanya toko onderdil. Tidak pas," jelasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa ketidaksesuaian informasi bisa menjadi tanda awal adanya potensi penipuan.
Oleh karena itu, penting untuk selalu mencermati nama penerima sebelum menyelesaikan transaksi.
Tidak hanya itu, pengguna juga disarankan untuk menghindari memindai kode QR yang terlihat mencurigakan atau ditempel secara sembarangan.
Apalagi jika kode tersebut berada di lokasi yang tidak biasa atau tampak baru ditempel di atas kode asli.
Kewaspadaan sederhana seperti ini dapat menjadi langkah efektif untuk melindungi diri dari kejahatan digital.
Bank Indonesia bersama ASPI dan para penyedia jasa pembayaran terus melakukan pengawasan secara berkala.
Mereka juga berkomitmen untuk memperkuat perlindungan konsumen dalam penggunaan QRIS.
"Di BI dan ASPI kita selalu melakukan pengawasan terhadap PJP QRIS dan terhadap perlindungan konsumen. Jadi itu tanggung jawab kita bersama," pungkasnya.
Dengan meningkatnya penggunaan pembayaran digital, risiko kejahatan siber juga ikut berkembang.
Karena itu, kesadaran dan kehati-hatian menjadi kunci utama agar masyarakat tidak menjadi korban.
Memastikan keaslian kode QR sebelum transaksi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Langkah kecil ini dapat mencegah kerugian besar yang bisa terjadi dalam hitungan detik.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










