Banten

Aksi Coret Jilbab Polwan Saat Demo di Mabes Polri Tuai Sorotan Polda Metro Jaya

Riski Endah Setyawati | 28 Februari 2026, 21:34 WIB
Aksi Coret Jilbab Polwan Saat Demo di Mabes Polri Tuai Sorotan Polda Metro Jaya
Aksi coret jilbab polwan (Istimewa)

Akurat Banten - Polda Metro Jaya angkat bicara terkait insiden seorang mahasiswa yang mencoret kain penutup kepala atau jilbab milik polisi wanita saat aksi unjuk rasa di kawasan Mabes Polri.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menegaskan bahwa jilbab yang dikenakan oleh personel Polwan bukan sekadar atribut biasa, melainkan bagian dari kelengkapan seragam sekaligus penutup aurat yang harus dihormati.

"Kain penutup kepala yang digunakan personel Polwan merupakan bagian dari kelengkapan berpakaian dan memiliki fungsi sebagai penutup aurat sehingga tidak semestinya dijadikan sarana ekspresi yang bernuansa provokatif," ujar Budi.

Ia menambahkan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat tetap dijamin, namun harus dilakukan dengan cara yang santun dan tidak merendahkan pihak lain.

Baca Juga: Acosta Tampil Menggila di Thailand Kalahkan Marquez dalam Duel Dramatis Sprint MotoGP

Menurutnya, tindakan yang berpotensi memancing emosi atau mencederai martabat seseorang seharusnya dihindari dalam setiap aksi demonstrasi.

Budi juga mengingatkan bahwa penyampaian aspirasi di ruang publik perlu memperhatikan etika agar tidak menimbulkan ketegangan di lapangan.

Ia menegaskan bahwa Polri selalu mengedepankan pendekatan humanis dalam mengawal jalannya aksi unjuk rasa.

“Personel kami di lapangan melayani kegiatan penyampaian pendapat secara humanis. Namun cara menyampaikan aspirasi juga harus menjaga etika serta menghormati pihak lain,” katanya.

Baca Juga: Konflik AS vs Iran Kian Membara, Prabowo Nyatakan Siap Terbang ke Teheran Jadi Mediator

Meski terdapat insiden yang dinilai kurang pantas, Polda Metro Jaya tetap memberikan apresiasi terhadap jalannya demonstrasi yang berlangsung relatif aman dan tertib.

Budi menyebut bahwa secara umum kegiatan penyampaian aspirasi tersebut berjalan damai tanpa gangguan besar.

Namun demikian, ia tidak menampik adanya oknum peserta aksi yang melontarkan kata-kata kasar kepada aparat, bahkan melakukan tindakan yang dinilai tidak pantas terhadap atribut Polwan.

Menurutnya, kejadian tersebut menjadi refleksi bersama tentang pentingnya kesabaran dalam menjaga situasi tetap kondusif.

Baca Juga: Harga Emas Antam Alami Kenaikan Hari ini, Cek Disini!

"Ini menjadi pembelajaran bagi kita semua bahwa kesabaran itu bisa membuat situasi semua aman, kondusif, dan dapat dikendalikan," ucapnya.

Dalam pengamanan aksi tersebut, Polda Metro Jaya mengerahkan ribuan personel guna memastikan jalannya demonstrasi tetap terkendali.

Sebanyak 3.992 anggota diterjunkan, terdiri dari 3.093 personel dari Polda Metro Jaya serta tambahan dari jajaran polres.

Langkah ini diambil sebagai upaya preventif agar kegiatan unjuk rasa tetap berjalan tertib sekaligus menjaga aktivitas masyarakat tidak terganggu.

Baca Juga: Perang Memanas! Iran Balas Serangan AS dan Israel, Incar Pangkalan Militer di Arab Saudi, Qatar dan UEA

Budi menjelaskan bahwa pengamanan juga difokuskan untuk menjaga stabilitas lingkungan, terutama mengingat momentum bulan suci Ramadhan yang membutuhkan suasana kondusif.

Sebelumnya, rencana aksi demonstrasi ini sempat beredar luas melalui media sosial, salah satunya dari akun Instagram.

Dalam unggahan tersebut, disebutkan bahwa aksi di Mabes Polri, Jakarta Selatan.

Aksi itu berkaitan dengan kasus kematian seorang siswa madrasah berinisial AT (14) yang diduga melibatkan oknum anggota Brimob.

Selain itu, sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan momen saat seorang mahasiswi mengenakan jaket kuning mengambil jilbab milik salah satu Polwan yang bertugas sebagai negosiator.

Baca Juga: Dunia Terguncang! AS-Israel Resmi Serang Jantung Iran, Teheran Balas Hantam Pangkalan Militer Amerika

Setelah itu, mahasiswi tersebut menuliskan kata-kata yang dianggap tidak pantas pada kain tersebut.

Aksi tersebut kemudian didokumentasikan dengan cara memperlihatkan tulisan di atas kain putih yang sudah dicoret.

Peristiwa ini pun memicu perhatian publik dan menjadi sorotan karena dinilai melewati batas etika dalam menyampaikan aspirasi di ruang publik.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.