Banten

China Murka Usai Serangan AS dan Israel Tewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei

Riski Endah Setyawati | 8 Maret 2026, 09:26 WIB
China Murka Usai Serangan AS dan Israel Tewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei
Ali Khamenei (Istimewa)

Akurat Banten - Pemerintah China melontarkan kecaman keras terhadap serangan yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam operasi militer yang disebut melibatkan Amerika Serikat dan Israel.

Pernyataan tersebut disampaikan melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Rakyat China yang dipublikasikan di situs resmi kementerian.

Dalam pernyataan itu, Beijing menilai tindakan militer yang menyebabkan kematian pemimpin tertinggi Iran merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan sebuah negara.

Baca Juga: Akhir Pekan di Jakarta Penuh Hiburan, Ini 5 Event Seru yang Wajib Dikunjungi Warga Ibu Kota

Pemerintah China juga menegaskan bahwa langkah tersebut berpotensi memperburuk situasi keamanan di kawasan Timur Tengah yang selama ini sudah berada dalam kondisi sensitif.

“Tindakan tersebut menginjak-injak tujuan dan prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa serta norma-norma dasar dalam hubungan internasional,” demikian bunyi pernyataan resmi pemerintah China.

Selain menyampaikan kecaman, Beijing juga menyerukan agar semua pihak segera menghentikan operasi militer yang berpotensi memperbesar konflik.

China menilai penghentian tindakan bersenjata menjadi langkah penting untuk mencegah ketegangan meluas ke negara-negara lain di kawasan tersebut.

Lebih jauh, pemerintah China mengajak komunitas internasional untuk bersama-sama menjaga stabilitas global serta memastikan konflik tidak berkembang menjadi krisis regional yang lebih besar.

Seruan itu muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran dunia terhadap dampak geopolitik dari peristiwa tersebut.

Ali Khamenei sendiri merupakan figur sentral dalam politik Iran selama puluhan tahun terakhir.

Ia menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran sejak tahun 1989 setelah sebelumnya memegang posisi presiden Iran pada periode 1981 hingga 1989.

Laporan yang beredar menyebutkan bahwa Khamenei tewas dalam serangan yang terjadi di Teheran dan dikaitkan dengan operasi militer Amerika Serikat bersama Israel.

Kabar kematian tokoh penting Iran itu langsung memicu reaksi luas baik di dalam negeri Iran maupun di tingkat internasional.

Baca Juga: Polisi Beberkan Motif Pembunuhan Pria di Tigaraksa Tangerang, Dipicu Permintaan Nikah Lagi

Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari sebagai bentuk penghormatan terhadap pemimpin tertinggi negara tersebut.

Selain itu, pemerintah juga memutuskan untuk meliburkan aktivitas kerja selama satu pekan di berbagai sektor pemerintahan.

Dalam masa transisi tersebut, tugas kepemimpinan tertinggi untuk sementara akan dijalankan secara kolektif oleh beberapa pejabat tinggi negara.

Tiga pihak yang disebut mengambil alih tanggung jawab tersebut adalah presiden Iran, ketua lembaga peradilan, serta seorang anggota dari Dewan Wali Iran.

Serangan yang dilaporkan terjadi di Teheran itu juga disebut menimbulkan korban jiwa dari kalangan pejabat militer penting Iran.

Beberapa nama yang dilaporkan termasuk dalam daftar korban antara lain Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran Mohammad Pakpour.

Selain itu terdapat pula Kepala Staf militer Iran Abdulrahim Mousavi yang juga dilaporkan tewas dalam peristiwa tersebut.

Menteri Pertahanan Iran Aziz Nasirzadeh serta Sekretaris Dewan Pertahanan Ali Shamkhani juga disebut menjadi korban dalam serangan yang sama.

Peristiwa tersebut memicu gelombang kemarahan di berbagai wilayah Iran.

Di ibu kota Teheran, ribuan warga turun ke jalan untuk menyampaikan duka sekaligus protes atas kematian pemimpin mereka.

Massa berkumpul di Lapangan Inkilap sambil membawa bendera Iran serta poster bergambar Ali Khamenei.

Dalam aksi tersebut para demonstran juga menyuarakan kecaman terhadap Amerika Serikat dan Israel yang dituding bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Aksi serupa juga terlihat di sejumlah kota lain di Iran.

Di kota Qom, masyarakat berkumpul di sekitar makam Hazrat Masume sebagai bagian dari rangkaian penghormatan terhadap pemimpin yang telah wafat.

Sementara itu di kota Mashhad suasana berkabung tampak ketika bendera hitam dikibarkan di atas kubah Makam Imam Reza.

Pengibaran bendera hitam tersebut menjadi simbol duka yang mendalam bagi masyarakat Iran.

Baca Juga: Perjuangan Si 'Smiling Warrior' Berakhir: Vidi Aldiano Meninggal Dunia, Pesan Terakhirnya di Tanah Suci Kini Jadi Kenyataan

Di tengah situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut memberikan pernyataan yang menuai perhatian dunia.

Trump menyebut Ali Khamenei sebagai “salah satu orang paling jahat dalam sejarah”.

Ia juga mengatakan bahwa kemampuan intelijen Amerika Serikat serta koordinasi erat dengan Israel membuat Khamenei tidak dapat menghindari serangan tersebut.

Pernyataan itu semakin menambah panas situasi geopolitik yang sedang berkembang di kawasan Timur Tengah.

Ketegangan regional pun kini meningkat tajam seiring berbagai reaksi dari negara-negara di dunia terhadap peristiwa tersebut.

Banyak pihak khawatir insiden ini dapat memicu konflik yang lebih luas jika tidak segera diredam melalui upaya diplomasi internasional.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.