Banten

Eropa Terbelah Soal Serangan AS-Israel ke Iran, Tekanan Trump Picu Perdebatan Baru

Riski Endah Setyawati | 8 Maret 2026, 09:39 WIB
Eropa Terbelah Soal Serangan AS-Israel ke Iran, Tekanan Trump Picu Perdebatan Baru
Ilustrasi Eropa Terbelah Soal Serangan AS-Israel ke Iran (Istimewa)

Akurat Banten - Negara-negara di kawasan Eropa menunjukkan perbedaan sikap yang cukup tajam dalam merespons serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Perpecahan ini semakin terlihat ketika Washington meningkatkan tekanan kepada para sekutunya agar memberikan dukungan politik maupun strategis terhadap operasi militer tersebut.

Sejumlah negara anggota Uni Eropa serta Inggris lebih memilih mendorong pendekatan diplomasi dan penghormatan terhadap hukum internasional dibandingkan mendukung aksi militer secara terbuka.

Namun hingga kini, negara-negara Eropa belum mampu menyepakati satu strategi bersama untuk menghadapi krisis Timur Tengah yang semakin kompleks dan berpotensi memicu dampak global.

Pemerintah Amerika Serikat sendiri berharap sekutu-sekutunya di Eropa berdiri di belakang Washington dan Tel Aviv.

Baca Juga: Duka Menyelimuti Dunia Hiburan Indonesia Gibran hingga Deddy Corbuzier Sampaikan Belasungkawa atas Kepergian Vidi Aldiano

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyampaikan bahwa Presiden Donald Trump mengharapkan dukungan penuh dari negara-negara Eropa.

Ia menegaskan bahwa Gedung Putih melihat konflik tersebut sebagai isu keamanan internasional yang memerlukan solidaritas dari sekutu Barat.

Trump bahkan secara terbuka menyampaikan kritik terhadap sejumlah pemerintah Eropa yang dinilai ragu memberikan dukungan.

Ia juga menyindir Perdana Menteri Inggris Keir Starmer setelah London memutuskan tidak ikut mendukung operasi militer tersebut.

“Ini bukan Winston Churchill yang kita hadapi,” kata Trump.

Sindiran tersebut merujuk pada sikap Starmer yang sebelumnya menegaskan bahwa Inggris tidak mendukung upaya “perubahan rezim dari langit” melalui serangan militer.

Sementara itu, Uni Eropa justru menekankan pentingnya pengendalian diri serta langkah diplomatik untuk meredakan ketegangan.

Blok tersebut menilai eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi membawa konsekuensi serius bagi stabilitas global apabila tidak segera diredam.

Para menteri luar negeri Uni Eropa bahkan menggelar pertemuan darurat secara virtual setelah konflik pecah untuk membahas perkembangan situasi di Iran dan kawasan sekitarnya.

Baca Juga: Akhir Pekan di Jakarta Penuh Hiburan, Ini 5 Event Seru yang Wajib Dikunjungi Warga Ibu Kota

Dalam pernyataan bersama, Uni Eropa menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap situasi yang berkembang.

Blok tersebut juga menyerukan agar semua pihak menahan diri dan menghindari tindakan yang dapat memperburuk konflik.

Seorang juru bicara Komisi Eropa mengatakan Uni Eropa akan tetap mendukung jalur diplomasi sebagai cara utama mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

Selain itu, Uni Eropa menegaskan pentingnya perlindungan terhadap warga sipil di tengah meningkatnya ketegangan.

Mereka juga menekankan bahwa semua pihak harus menghormati Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa serta hukum humaniter internasional.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas mengingatkan bahwa krisis yang terus membesar menunjukkan melemahnya penghormatan terhadap hukum internasional.

“Tanpa memulihkan hukum internasional dan akuntabilitas, kita akan terus menyaksikan pelanggaran hukum, gangguan, dan kekacauan,” kata Kallas.

Di sisi lain, Inggris memilih mengambil posisi yang lebih berhati-hati dalam merespons konflik tersebut.

Pemerintah Inggris tetap mengkritik kebijakan Iran, tetapi pada saat yang sama mendorong penyelesaian melalui diplomasi.

Perdana Menteri Keir Starmer menyatakan bahwa solusi terbaik untuk meredakan ketegangan adalah melalui kesepakatan yang dinegosiasikan dengan Iran.

Baca Juga: China Murka Usai Serangan AS dan Israel Tewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei

Menurutnya, perundingan dapat membuka peluang bagi Iran untuk menghentikan ambisi pengembangan senjata nuklirnya.

Inggris sebelumnya sempat membatasi penggunaan pangkalan militer Diego Garcia oleh Amerika Serikat.

Namun kemudian London mengizinkan fasilitas tersebut dipakai untuk mendukung keamanan kawasan dan perlindungan terhadap Israel.

Sebagai langkah defensif, Inggris juga meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah.

Langkah itu dilakukan dengan mengirimkan tambahan jet tempur Typhoon ke Qatar.

Prancis juga menekankan pentingnya menjaga hukum internasional dalam merespons konflik tersebut.

Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan bahwa tindakan militer yang dilakukan di luar kerangka hukum internasional dapat merusak stabilitas dunia.

Ia juga mendorong pembahasan darurat mengenai situasi tersebut di Dewan Keamanan PBB.

Paris berupaya menjaga keseimbangan antara hubungan dengan Washington dan sikap kritis terhadap eskalasi konflik.

Prancis mengutuk serangan balasan yang dilakukan Iran tetapi juga menegaskan perlunya pengendalian diri.

Pemerintah Prancis bahkan mengizinkan pesawat militer Amerika Serikat berada sementara di sejumlah pangkalan mereka.

Baca Juga: China Murka Usai Serangan AS dan Israel Tewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei

Namun Paris memberikan syarat bahwa pesawat tersebut tidak digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran.

Kehadiran pesawat itu disebut hanya untuk mendukung operasi pertahanan kawasan.

Prancis juga mengirimkan kapal induk Charles de Gaulle beserta sejumlah aset militer lainnya ke wilayah tersebut.

Langkah ini dilakukan untuk melindungi kepentingan strategis Prancis, termasuk pangkalan militer mereka di Abu Dhabi.

Sementara itu, Perdana Menteri Belanda Rob Jetten mengakui bahwa Iran menimbulkan ancaman bagi keamanan kawasan.

Namun ia menilai serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel tidak sejalan dengan prinsip hukum internasional.

Berbeda dengan sejumlah negara Eropa Barat, Jerman justru terlihat lebih sejalan dengan sikap Washington.

Kanselir Jerman Friedrich Merz menyebut Iran sebagai ancaman besar bagi keamanan internasional.

Menurutnya, sanksi ekonomi dan upaya diplomasi selama puluhan tahun belum mampu menghentikan aktivitas destabilisasi yang dilakukan Teheran.

Dalam kunjungannya ke Gedung Putih pekan ini, Trump bahkan memuji Merz.

Trump menyebut Merz sebagai “pemimpin yang sangat baik”.

Pujian itu juga disertai apresiasi terhadap keputusan Berlin yang mengizinkan pasukan Amerika Serikat menggunakan Pangkalan Udara Ramstein di Jerman.

Meski demikian, Merz tetap mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan bukanlah kepentingan negara-negara Barat.

“Perang tanpa akhir bukan kepentingan kita,” kata Merz.

Ia juga memperingatkan bahwa runtuhnya negara Iran dapat memicu dampak luas bagi Eropa.

Dampak tersebut bisa mencakup gangguan pasokan energi, meningkatnya risiko keamanan, hingga gelombang migrasi baru.

Spanyol termasuk negara yang paling keras mengkritik serangan terhadap Iran.

Perdana Menteri Pedro Sánchez menyebut operasi militer tersebut sebagai “kesalahan luar biasa”.

Ia juga memperingatkan bahwa konflik tersebut dapat mengancam stabilitas global.

Madrid bahkan menolak memberikan izin bagi pasukan Amerika Serikat untuk menggunakan pangkalan udara maupun laut di Spanyol dalam operasi militer terhadap Iran.

Keputusan ini memicu kritik tajam dari Trump.

Presiden AS tersebut bahkan sempat mengancam akan memutus hubungan dagang dengan Spanyol.

Namun Sánchez tetap mempertahankan sikapnya.

Menurutnya, aliansi internasional seharusnya tetap memberikan ruang bagi perbedaan pandangan.

“Kami tidak akan mengambil sikap yang bertentangan dengan nilai dan prinsip kami karena takut terhadap pembalasan pihak lain. Kami mengatakan ‘tidak’ pada perang,” ujar Sánchez.

Italia juga menyoroti aspek hukum dari operasi militer tersebut.

Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto menyatakan bahwa serangan Amerika Serikat dan Israel berada di luar kerangka hukum internasional.

Ia memperingatkan bahwa situasi di kawasan Timur Tengah dapat semakin memburuk apabila konflik terus meningkat.

Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani menegaskan bahwa Italia tidak berada dalam kondisi perang.

Ia juga mendorong semua pihak untuk kembali menempuh jalur diplomasi demi mencegah konflik regional yang lebih luas.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni turut mengingatkan bahwa konflik tersebut berpotensi menimbulkan konsekuensi yang tidak dapat diprediksi.

Di sisi lain, beberapa negara di Eropa Timur justru menunjukkan dukungan yang lebih jelas terhadap langkah Amerika Serikat.

Presiden Polandia Karol Nawrocki menilai tindakan Iran merupakan ancaman terhadap stabilitas internasional.

Meski demikian, Polandia menegaskan tidak terlibat langsung dalam operasi militer tersebut.

Menteri Pertahanan Polandia Władysław Kosiniak-Kamysz juga mengatakan bahwa Warsawa tidak menerima permintaan untuk berpartisipasi dalam operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran.

Sementara itu, Perdana Menteri Republik Ceko Petr Fiala menyebut program nuklir Iran sebagai ancaman serius bagi keamanan dunia.

Ia menilai serangan terhadap fasilitas nuklir Iran dapat dipahami sebagai upaya untuk mencegah pengembangan senjata nuklir.

Fiala bahkan menyatakan optimistis bahwa tekanan militer tersebut dapat mendorong Iran kembali ke meja perundingan.

Menurutnya, langkah tersebut juga berpotensi membuka peluang deeskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.