Banten

Gelombang Penolakan di Eropa Menguat, Warga Spanyol hingga Inggris Tolak Serangan AS dan Israel ke Iran

Riski Endah Setyawati | 8 Maret 2026, 09:42 WIB
Gelombang Penolakan di Eropa Menguat, Warga Spanyol hingga Inggris Tolak Serangan AS dan Israel ke Iran
Ilustrasi Gelombang Penolakan di Eropa Menguat (Istimewa)

Akurat Banten - Sejumlah hasil survei terbaru mengungkapkan bahwa opini publik di berbagai negara Eropa cenderung menolak aksi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Temuan ini menunjukkan adanya gelombang kekhawatiran sekaligus penolakan terhadap eskalasi konflik yang dinilai berpotensi memperluas ketegangan global.

Jajak pendapat yang dipublikasikan pada Jumat 6 Maret memperlihatkan mayoritas responden di Spanyol, Italia, Jerman, dan Inggris tidak mendukung intervensi militer tersebut.

Sebagian besar warga di negara-negara tersebut justru menginginkan pemerintah mereka mengambil posisi hati-hati atau netral dalam menghadapi konflik internasional tersebut.

Baca Juga: Duka Menyelimuti Dunia Hiburan Indonesia Gibran hingga Deddy Corbuzier Sampaikan Belasungkawa atas Kepergian Vidi Aldiano

Di Spanyol, survei cepat yang dilakukan lembaga riset 40dB untuk media El Pais dan stasiun radio Cadena SER menunjukkan penolakan publik yang sangat tinggi terhadap serangan AS dan Israel ke Iran.

Hasil survei tersebut memperlihatkan sekitar 68 persen responden di Spanyol menyatakan tidak setuju dengan operasi militer yang dilakukan kedua negara itu.

Selain itu, lebih dari separuh responden juga mendukung keputusan pemerintah Spanyol yang memilih tidak memberikan dukungan militer kepada Amerika Serikat maupun Israel.

Sebanyak 57 persen warga menilai langkah pemerintah untuk tidak terlibat dalam operasi militer tersebut merupakan keputusan yang tepat.

Tidak hanya itu, 53 persen responden juga menilai Amerika Serikat seharusnya tidak diizinkan menggunakan pangkalan militer yang berada di wilayah Spanyol untuk mendukung serangan terhadap Iran.

Survei yang sama juga menyoroti bagaimana masyarakat Spanyol memandang cara pemerintah mereka menghadapi krisis tersebut.

Sekitar 42 persen responden menyatakan setuju dengan langkah Perdana Menteri Pedro Sanchez dalam mengelola situasi yang berkembang.

Baca Juga: Udah Gak Sakit Lagi: Pesan Haru Rekan Artis untuk Vidi Aldiano

Di sisi lain, hampir 80 persen responden mengaku mengikuti perkembangan konflik secara serius dan merasa khawatir dengan dampaknya terhadap stabilitas dunia.

Kecenderungan serupa juga terlihat di Italia.

Survei yang dilakukan perusahaan riset YouTrend untuk saluran televisi Sky TG24 menunjukkan mayoritas warga Italia menolak intervensi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Sebanyak 56 persen responden dalam survei tersebut menyatakan tidak mendukung operasi militer tersebut.

Meski demikian, pandangan warga Italia ternyata terbagi berdasarkan preferensi politik.

Sebagian besar pemilih dari kelompok kanan-tengah cenderung mendukung aksi militer, dengan tingkat dukungan mencapai sekitar 57 persen.

Sebaliknya, penolakan yang jauh lebih besar datang dari pemilih yang berada di kubu kiri-tengah.

Di kelompok ini, hampir 80 persen responden secara tegas menyatakan tidak setuju dengan serangan terhadap Iran.

Dalam hal sikap pemerintah, sekitar 48 persen responden menilai Italia sebaiknya mengambil posisi netral dan berperan sebagai mediator bagi pihak-pihak yang berkonflik.

Baca Juga: Duka Menyelimuti Dunia Hiburan Indonesia Gibran hingga Deddy Corbuzier Sampaikan Belasungkawa atas Kepergian Vidi Aldiano

Sementara itu, 29 persen responden berpendapat pemerintah Italia harus secara terbuka mengecam serangan tersebut dan segera menyerukan gencatan senjata.

Di Jerman, hasil survei yang dipublikasikan lembaga penyiaran publik ARD juga menggambarkan meningkatnya keraguan publik terhadap langkah Amerika Serikat dan Israel.

Survei tersebut menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Jerman menilai perang terhadap Iran tidak memiliki legitimasi yang kuat.

Sebanyak 58 persen responden mengatakan serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel tidak dapat dibenarkan.

Kekhawatiran terhadap potensi meluasnya konflik juga sangat tinggi di kalangan warga Jerman.

Sekitar 75 persen responden menyatakan takut bahwa konflik tersebut bisa berkembang menjadi perang yang melibatkan lebih banyak negara.

Dalam survei yang sama, tingkat kepercayaan publik Jerman terhadap Amerika Serikat juga mengalami penurunan signifikan.

Angka kepercayaan terhadap Washington tercatat hanya mencapai 15 persen, yang merupakan tingkat terendah dalam dua dekade terakhir.

Baca Juga: Udah Gak Sakit Lagi: Pesan Haru Rekan Artis untuk Vidi Aldiano

Survei itu juga memperlihatkan rendahnya kepercayaan warga Jerman terhadap Israel sebagai mitra internasional.

Hanya 17 persen responden yang menganggap Israel sebagai sekutu yang dapat diandalkan dalam hubungan global.

Sebagian besar responden bahkan memiliki pandangan pesimistis terhadap kondisi politik dunia saat ini.

Sebanyak 85 persen responden menilai sistem politik global kini semakin didominasi oleh logika kekuatan.

Mereka menggambarkan kondisi tersebut dengan ungkapan bahwa dalam politik internasional saat ini, "kekuatan menentukan kebenaran."

Di Inggris, sikap masyarakat terhadap serangan Amerika Serikat ke Iran juga tidak menunjukkan dukungan yang kuat.

Hasil survei yang dilakukan perusahaan riset YouGov memperlihatkan bahwa opini publik Inggris cenderung menolak operasi militer tersebut.

Dalam jajak pendapat yang digelar pada 2 Maret setelah serangan terjadi, sebanyak 49 persen warga Inggris menyatakan menentang serangan AS terhadap Iran.

Sementara itu, hanya sekitar 28 persen responden yang menyatakan dukungan terhadap operasi militer tersebut.

Mayoritas responden juga menolak penggunaan fasilitas militer Inggris untuk mendukung serangan terhadap Iran.

Survei yang dilakukan pada akhir Februari menunjukkan 58 persen responden tidak setuju jika pangkalan Angkatan Udara Inggris digunakan untuk operasi militer Amerika Serikat.

Bahkan ketika dalam survei lanjutan disebutkan bahwa serangan hanya akan menargetkan fasilitas rudal, tingkat penolakan masyarakat tetap tinggi.

Sekitar 50 persen responden tetap menolak penggunaan pangkalan tersebut.

Dalam hal sikap pemerintah, sebagian besar warga Inggris menilai pemerintah sebaiknya tidak secara terbuka memihak.

Sebanyak 45 persen responden berpendapat pemerintah Inggris tidak perlu memuji maupun mengecam serangan Amerika Serikat terhadap Iran.

Survei tersebut juga menyoroti penilaian publik terhadap kepemimpinan Perdana Menteri Keir Starmer dalam menghadapi krisis tersebut.

Sebanyak 47 persen responden menilai Starmer menangani ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran dengan buruk.

Sementara itu, 34 persen responden menilai ia telah menangani situasi tersebut dengan baik.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah sendiri meningkat tajam setelah serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Baca Juga: China Murka Usai Serangan AS dan Israel Tewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.000 orang.

Di antara korban tewas terdapat Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, lebih dari 150 siswi sekolah, serta sejumlah pejabat militer senior.

Peristiwa tersebut kemudian memicu ketidakstabilan yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Iran juga melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah lokasi yang berkaitan dengan kepentingan Amerika Serikat di wilayah tersebut.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.