Banten

AKHIR DRAMATIS! Dedi Mulyadi Pasang Badan untuk Guru Subang yang Diminta Ganti Rugi Visum Rp150 Ribu, Kasus Berakhir Damai

Saeful Anwar | 7 November 2025, 08:51 WIB
AKHIR DRAMATIS! Dedi Mulyadi Pasang Badan untuk Guru Subang yang Diminta Ganti Rugi Visum Rp150 Ribu, Kasus Berakhir Damai

AKURAT BANTEN– Polemik guru SMP Negeri 2 Jalancagak, Rana Saputra, yang menampar siswa berinisial ZR karena melompat pagar sekolah, telah mencapai klimaks dengan intervensi figur publik Dedi Mulyadi.

Kasus ini sempat memanas setelah sang guru yang menangis dan ketakutan, dihadapkan pada tagihan ganti rugi biaya visum sebesar Rp150 ribu dari orang tua siswa.

Perkembangan terbaru menunjukkan, setelah pertemuan dengan Dedi Mulyadi, kedua belah pihak sepakat menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan, tanpa melanjutkan ke proses hukum.


Rana Saputra mengakui menampar ZR yang dikenal siswa bermasalah dan kedapatan meloncat pagar baru sekolah untuk bolos. Setelah video Rana dimarahi orang tua ZR viral, mediasi damai sempat digelar. Namun, kesepakatan itu tak bertahan lama.

Rana tiba-tiba dihubungi lagi dan diperlihatkan surat visum serta kwitansi senilai Rp150.000, diminta sebagai biaya ganti rugi. Rana merasa ganjil, sebab kondisi ZR sehat dan langsung bersekolah kembali tanpa luka.

"Memperlihatkan surat visum, di kwitansi Rp150 ribu. Sehat, anaknya langsung sekolah lagi besoknya, tidak (memar). Ujung-ujungnya minta diganti uang pengobatan," ungkap Rana dalam pertemuan dengan Dedi Mulyadi.

Rana, yang serba salah dan takut, bahkan bersedia menandatangani surat perjanjian untuk mengganti biaya tersebut. Ia mengaku bingung mendidik siswa, khawatir tindakannya selalu berujung tuntutan.

"Saya jadi takut pak, jadi serba salah. kalau saya mau cari aman enak-enak aja, tapi saya panggilan jiwa," ucapnya menahan tangis.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Pasang Badan! Guru Penampar Siswa di Subang Diminta Ganti Rugi Rp150 Ribu Biaya Visum

Dedi Mulyadi 'Pasang Badan': Ini Soal Esensi Pendidikan!

Melihat kondisi Rana, Dedi Mulyadi, mantan Gubernur Jabar, langsung meminta Rana untuk membatalkan perjanjian ganti rugi tersebut dan menyiapkan pengacara jika kasus ini berlanjut.

Dedi berpendapat bahwa tuntutan ganti rugi kepada guru atas setiap upaya pendisiplinan akan merusak esensi pendidikan.

"Kalau setiap siswa yang akan dididik oleh gurunya, kemudian gurunya selalu menghadapi harus ganti rugi, baik materil maupun formil, nanti guru akan cuek semuanya pada muridnya... melakukan pembiaran," tegas Dedi Mulyadi, menekankan pentingnya guru berani bertindak tegas.

Dedi Mulyadi bahkan berbagi pengalaman pribadinya: "Saya pernah dipukul oleh guru saat sekolah. Berkahnya sekarang jadi gubernur."

 Baca Juga: Air Mata dan Janji Setia di Tengah Badai: Begini Reaksi Pilu Habib Jafar Atas Penangkapan Onad

Intervensi Dedi Mulyadi Tuai Kritik Keras

Sikap Dedi Mulyadi yang cenderung membela guru dan menganggap tindakan keras sebagai upaya pendisiplinan, menuai kritik keras dari pihak lain.

Wakil Ketua Umum PSI, Ronald Aristone Sinaga (Bro Ron), bereaksi tajam, menilai pernyataan Dedi Mulyadi berpotensi menormalisasi kekerasan di sekolah.

"Harus keras tidak juga nampoel, Pak. Jangan ngawur lah!" ujar Bro Ron menanggapi pernyataan Dedi Mulyadi, menekankan bahwa pendisiplinan tidak harus melibatkan kekerasan fisik.

 Baca Juga: Tegas dan Blasteran! Prabowo Sentil Balik Isu 'Dikendalikan Jokowi': Untuk Apa Saya Takut Sama Beliau?

Akhir Damai: Tidak Ada Proses Hukum

Meski sempat memicu perdebatan publik dan kritik, kasus ini akhirnya dipastikan selesai secara damai setelah Dedi Mulyadi juga bertemu dengan orang tua ZR.

Ayah ZR menyatakan insiden ini menjadi pelajaran bagi semua pihak.

"Dengan adanya masalah ini yang saya hadapi, semoga ke depannya lebih baik lagi buat anak saya terutama dan buat anak-anak yang lain. Yang keduanya untuk para guru juga biar lebih semangat lagi untuk mendidik anak-anaknya dan hindari kekerasan," ujarnya.

Dedi Mulyadi menjamin kasus ini tidak akan dibawa ke ranah hukum dan menutup persoalan dengan komitmen perdamaian antara guru dan keluarga siswa demi masa depan pendidikan di Jawa Barat (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman