Banten

Sorotan Tajam: Janji Biaya Pengobatan Korban Ledakan SMAN 72 Dipertanyakan, Orang Tua Korban: Sampai Kapan Ditanggung?

Saeful Anwar | 12 November 2025, 19:00 WIB
Sorotan Tajam: Janji Biaya Pengobatan Korban Ledakan SMAN 72 Dipertanyakan, Orang Tua Korban: Sampai Kapan Ditanggung?

AKURAT BANTEN–Komitmen pemerintah untuk menanggung seluruh biaya pengobatan korban ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, mulai dipertanyakan oleh keluarga korban.

Meskipun janji telah disampaikan oleh Menteri Sosial dan Gubernur DKI Jakarta, seorang ayah korban yang anaknya mengalami luka parah mengaku belum mendapatkan kepastian skema, batas waktu tanggungan, bahkan kunjungan dari pejabat berwenang.

Ketidakpastian ini menimbulkan kekhawatiran besar, terutama mengingat parahnya kondisi luka yang diderita sang anak.

Baca Juga: SKANDAL Calo Polisi Jalur 'Penghargaan': Oknum Briptu Polda Banten Buron Usai Diduga Gelapkan Uang Miliaran Rupiah!

Ketidakjelasan Nasib dan Cita-cita di Balik Janji Pemerintah

Andre, ayah dari salah satu korban luka parah, menyampaikan kegelisahannya. Ia khawatir beban biaya akan membengkak seiring lamanya proses pemulihan yang diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun.

"Korban ledakan ini ditanggung oleh pemerintah, saya kan juga enggak tahu ya ditanggungnya itu sampai kapan," ungkap Andre kepada awak media pada Selasa, 11 November 2025. "Karena ini masalah anak saya lukanya itu sangat-sangat parah."

Andre menegaskan, kondisi anaknya tidak akan pulih dalam waktu singkat. "Dan tidak mungkin dalam kondisi satu tahun atau dua tahun itu baru sembuh," tuturnya.

Kritik tajam disampaikan Andre terkait minimnya komunikasi dari pihak berwenang. Ia mengaku belum pernah ditemui oleh pejabat terkait untuk menjelaskan secara rinci skema tanggungan biaya perawatan tersebut.

"Jadi saya berharap dari pihak pemerintah sampai sekarang Alhamdulillah tidak ada yang menemui saya. Dari pemerintahan DKI Jakarta, dari Kapolri, Kapolda, tidak ada yang menemui saya," kata Andre dengan nada kecewa.

Baginya, kepastian tanggungan biaya bukan hanya soal uang, tetapi menyangkut masa depan sang anak. "Jadi saya ingin memastikan, ini anak juga punya cita-cita, ke depannya dia mau jadi apa. Apa cita-citanya itu tenggelam gitu aja," pungkasnya, menyentuh isu psikologis dan masa depan korban.

Baca Juga: Unpam Gandeng Desa Curug, Perkuat Tridharma Perguruan Tinggi Lewat Pengabdian Masyarakat di Era Digital

Komitmen Jangka Panjang
Di sisi lain, pemerintah sebelumnya telah mengeluarkan pernyataan yang menguatkan komitmen mereka:

Menteri Sosial Gus Ipul pada Minggu, 9 November 2025, memastikan dukungan tidak hanya terbatas pada biaya rumah sakit, tetapi juga mencakup rehabilitasi, masa pemulihan, hingga program pemberdayaan jangka panjang.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada Jumat, 7 November 2025, secara tegas menyatakan bahwa Pemprov DKI akan menanggung seluruh biaya rumah sakit korban tanpa terkecuali dan sampai dengan selesai.

Janji dari level kementerian hingga kepala daerah ini menunjukkan niat baik pemerintah. Namun, gap antara pernyataan publik dengan realitas di lapangan yang dialami oleh Andre dan keluarga korban lainnya menunjukkan adanya masalah serius dalam hal koordinasi dan komunikasi.

Keluhan Andre menjadi alarm keras bagi pemerintah pusat dan daerah. Meskipun komitmen telah disampaikan, transparansi mengenai mekanisme operasional, batas waktu (jika ada), dan siapa narahubung resmi yang harus dihubungi oleh keluarga korban menjadi hal yang mendesak untuk segera diklarifikasi.

Pemerintah kini ditantang untuk membuktikan janji mereka tidak hanya di depan media, tetapi juga melalui aksi nyata dan komunikasi yang intensif langsung kepada keluarga korban yang terdampak parah (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman