Banten

Emas Diprediksi Melonjak Tembus 6.000 Dolar AS, Ini Alasan di Baliknya

Riski Endah Setyawati | 27 Maret 2026, 06:22 WIB
Emas Diprediksi Melonjak Tembus 6.000 Dolar AS, Ini Alasan di Baliknya
Ilustrasi Emas (Istimewa)

Akurat Banten - Pengamat ekonomi sekaligus analis komoditas Ibrahim Assuaibi menilai prospek harga emas global masih sangat kuat meski sempat mengalami penurunan tajam dalam beberapa waktu terakhir.

Ia melihat peluang kenaikan harga logam mulia tersebut tetap terbuka lebar, bahkan berpotensi menyentuh kisaran 5.000 hingga 6.000 dolar AS per troy ons dalam periode tahun ini.

“Saya optimistis bahwa harga emas dunia tahun 2026 akan tembus di atas level 6.000 dolar AS per troy ons. Kenapa? Karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi,” ujarnya.

Menurut Ibrahim, fluktuasi harga emas tidak bisa dilepaskan dari berbagai faktor global yang saling berkaitan, mulai dari kondisi geopolitik hingga arah kebijakan moneter negara-negara besar.

Baca Juga: Kapan PNS dan Pegawai Swasta Mulai WFH Lagi? Ini Penjelasan Lengkap Airlangga Hartarto

Ia menjelaskan bahwa ketegangan di kawasan Timur Tengah masih menjadi salah satu pendorong utama yang memengaruhi pergerakan harga emas.

Selain itu, konflik berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina di Eropa Timur juga turut menambah ketidakpastian global yang membuat investor mencari aset aman seperti emas.

Di sisi lain, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada langkah bank sentral Amerika Serikat yang dinilai akan sangat menentukan arah harga emas ke depan.

Kondisi politik domestik di AS, termasuk potensi pergantian kepemimpinan, diperkirakan akan memengaruhi kebijakan suku bunga yang pada akhirnya berdampak pada pergerakan harga emas.

Meski isu perang dagang sempat menjadi sorotan, Ibrahim menilai topik tersebut untuk sementara waktu meredup karena perhatian investor lebih terfokus pada konflik geopolitik yang sedang berlangsung.

Baca Juga: Bukan Orang Sembarangan! Ini Kekayaan Haji Bustaman, Pemilik Restoran Sederhana yang Kini Jadi Keluarga Haji Isam

Tak hanya itu, faktor fundamental seperti keseimbangan permintaan dan pasokan emas global juga menjadi penentu penting dalam menentukan arah harga.

Akumulasi emas oleh bank sentral di berbagai negara disebut ikut mendorong permintaan dan menjaga harga tetap berada pada tren positif.

Untuk pasar dalam negeri, Ibrahim memperkirakan harga emas berpotensi bergerak di kisaran Rp3,5 juta hingga Rp4 juta per gram sepanjang tahun ini.

Proyeksi tersebut didukung oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang diperkirakan dapat menyentuh level Rp17.400 per dolar AS.

Ia juga menilai bahwa koreksi harga emas yang terjadi belakangan ini dipicu oleh penguatan dolar AS serta kenaikan harga minyak dunia.

Kondisi tersebut meningkatkan ekspektasi inflasi global sehingga mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.

Baca Juga: Tok! Sekolah Daring Batal: Menko PMK Pastikan Siswa Tetap Masuk Kelas Meski Krisis Global, Ini Alasannya

Akibatnya, sebagian investor memilih memindahkan dananya ke aset berbasis dolar AS yang dianggap lebih menguntungkan dalam jangka pendek.

Meski demikian, Ibrahim menegaskan bahwa tekanan terhadap harga emas tidak akan berlangsung lama dan cenderung bersifat sementara.

Hal ini karena ketidakpastian global yang masih tinggi tetap menjadikan emas sebagai instrumen lindung nilai yang diminati.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh pengamat pasar uang Ariston Tjendra yang menilai bahwa penurunan harga emas saat ini tidak lepas dari lonjakan harga minyak mentah dunia.

Menurutnya, harga minyak yang telah menembus angka 100 dolar AS per barel memicu kekhawatiran terhadap inflasi global.

Situasi ini turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang membuat investor beralih ke instrumen berbasis dolar.

Peralihan tersebut terutama terlihat pada investasi emas nonfisik yang memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas secara keseluruhan.

Ariston menyebut bahwa tekanan terhadap emas masih berpotensi berlanjut jika konflik antara Iran dan Amerika Serikat terus memengaruhi pasokan minyak dunia.

Baca Juga: Kapan PNS dan Pegawai Swasta Mulai WFH Lagi? Ini Penjelasan Lengkap Airlangga Hartarto

Namun, jika ketegangan mereda dan harga minyak mulai stabil, maka peluang penguatan harga emas kembali terbuka lebar.

“Secara historis, karena harga minyak naik, harga emas pernah terkoreksi antara 16-22 persen, tapi akhirnya naik lagi,” kata Ariston.

Dengan berbagai dinamika tersebut, emas dinilai masih menjadi aset strategis yang memiliki prospek cerah di tengah ketidakpastian ekonomi global.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.