Iran Balas Serangan Israel di Lebanon, Upaya Gencatan Senjata AS Terancam Gagal

AKURAT BANTEN - Perang Timur Tengah kembali memanas setelah serangan besar-besaran Israel ke Lebanon mengguncang kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat.
Insiden ini menimbulkan ketegangan baru yang berpotensi memperluas konflik di kawasan.
Pada Rabu, 8 April 2026, Israel meluncurkan sekitar 100 rudal ke wilayah Lebanon. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai ratusan lainnya.
Baca Juga: Ratusan Pengembang di Kota Tangerang Belum Serahkan PSU, BPK Ingatkan Risiko Kerugian Daerah
Adapun yang menjadi sorotan, serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat diumumkan.
Langkah Israel tersebut memicu pertanyaan besar tentang efektivitas dan cakupan gencatan senjata yang telah disepakati, terutama karena Lebanon tidak termasuk secara eksplisit dalam perjanjian tersebut.
Sebagai respons cepat, Iran meluncurkan serangan balasan berupa rudal yang menargetkan Israel serta beberapa wilayah di negara-negara Teluk. Tidak hanya itu, Iran juga kembali memberlakukan blokade di Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar 20% perdagangan minyak mentah dunia melalui laut.
Langkah ini meningkatkan kekhawatiran global terhadap potensi gangguan pasokan energi dan lonjakan harga minyak dunia.
Iran menegaskan bahwa setiap kesepakatan damai harus mencakup Lebanon, mengingat keterlibatan kelompok Hizbullah yang didukung Teheran. Namun, Amerika Serikat dan Israel memiliki pandangan berbeda.
Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa konflik di Beirut merupakan isu terpisah dari kesepakatan gencatan senjata dengan Iran. Ia menilai Lebanon dikecualikan karena faktor keberadaan Hizbullah.
Baca Juga: Bukan Saja Jadi Penonton, China Akhirnya Turun Tangan, Dukung Gencatan Senjata AS-Israel: Ada Apa?
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa operasi militer tersebut bertujuan menghadapi ancaman eksistensial, khususnya dari Iran dan sekutunya di Lebanon.
Situasi ini menempatkan Trump dalam posisi sulit. Ia dihadapkan pada tiga pilihan besar yakni melanjutkan konflik militer, mendorong jalur diplomasi, atau menekan Israel agar menghentikan eskalasi.
Di dalam negeri Iran sendiri, ketidakpercayaan terhadap proses diplomasi semakin meningkat. Kelompok garis keras menilai serangan Israel sebagai bentuk “pengkhianatan” terhadap upaya perdamaian yang sedang berlangsung.
Baca Juga: Gencatan Senjata AS–Iran Buat Harga Minyak Dunia Turun hingga 17 Persen!
Banyak pihak kini mendesak agar Lebanon dimasukkan dalam cakupan gencatan senjata untuk mencegah konflik semakin meluas.
Keputusan Iran untuk kembali memblokade Selat Hormuz menjadi perhatian serius dunia internasional. Jalur ini merupakan salah satu titik vital distribusi energi global, sehingga gangguan di kawasan ini dapat berdampak langsung pada ekonomi dunia. ***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










