Istilah Termul Kembali Ramai, JK Singgung Peran di Balik Kemenangan Jokowi

AKURAT BANTEN - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla kembali memicu perhatian publik setelah menyinggung istilah “termul” saat membahas kiprahnya dalam mengantarkan Joko Widodo menuju kursi Presiden periode 2014–2019.
Istilah tersebut kini semakin sering terdengar dalam percakapan politik, khususnya di media sosial yang menjadi ruang utama pertukaran opini publik.
Banyak pihak kemudian mempertanyakan makna di balik sebutan “termul” yang disebut JK dalam pernyataannya.
Baca Juga: Gempa M 7,4 Guncang Jepang, BMKG Pastikan Indonesia Aman dari Ancaman Tsunami
Pengamat politik Adi Prayitno menjelaskan bahwa masyarakat pada umumnya memahami istilah itu sebagai label bagi kelompok pendukung loyal Jokowi.
"Secara umum publik tahunya Termul itu sebutan untuk pendukung setia Jokowi," ujar Adi.
Ia menambahkan bahwa popularitas istilah tersebut berkembang pesat dalam diskursus politik belakangan ini, meskipun asal-usulnya tidak sepenuhnya jelas.
Baca Juga: Kejari Tangsel Periksa BSD Sinarmas Land Terkait Dugaan Pencemaran Taman Tekno
Menariknya, istilah “termul” juga mulai muncul dalam penjelasan berbasis teknologi, termasuk dalam hasil pencarian Artificial Intelligence.
Menurut Adi, istilah tersebut kerap diartikan sebagai singkatan dari “ternak Mulyono”.
Nama Mulyono sendiri merupakan nama kecil Jokowi yang digunakan saat lahir di Solo pada 21 Juni 1961, sebelum kemudian diganti menjadi Joko Widodo karena alasan kesehatan yang dikaitkan dengan kepercayaan budaya Jawa.
Baca Juga: Ketegangan Memuncak, Korea Utara Tiba-Tiba Tembakkan Rudal Diduga Sindir Trump
"Bahkan kalo tanya AI soal termul akan muncul penjelasannya bahwa termul adalah istilah gaul politik yang merupakan singkatan dari Ternak Mulyono," jelasnya.
Lebih jauh, Adi menilai kemunculan istilah ini tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari tradisi panjang pelabelan dalam politik Indonesia.
Fenomena tersebut menunjukkan kecenderungan masyarakat yang terus menciptakan istilah baru untuk menggambarkan kelompok atau afiliasi politik tertentu.
Baca Juga: Kejari Tangsel Periksa BSD Sinarmas Land Terkait Dugaan Pencemaran Taman Tekno
Ia mencontohkan, sebelumnya publik telah akrab dengan istilah “cebong” dan “kampret” yang mencerminkan polarisasi politik pada masa lalu.
Kini, istilah baru seperti “termul” hingga “anak abah” kembali muncul dan memperkaya kosakata politik yang berkembang dinamis.
"Di negara ini sangat produktif melahirkan istilah-istilah dalam politik," kata Adi.
Baca Juga: Iran Tutup Selat Hormuz, Satu Tanker LPG Indonesia Berhasil Keluar di Menit Terakhir
Sementara itu, JK juga melontarkan pernyataan tegas yang kembali mengaitkan istilah tersebut dengan perjalanan politik Jokowi.
"Kasih tahu semua itu termul-termul itu. Jokowi jadi Presiden karena saya. Setuju? Setuju. Tanpa Gubernur mana bisa jadi Presiden," ucap JK.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah polemik yang menyeret namanya, sekaligus sebagai respons atas berbagai kritik yang ditujukan kepadanya.
Baca Juga: Gempa M 7,4 Guncang Jepang, BMKG Pastikan Indonesia Aman dari Ancaman Tsunami
JK kemudian mengungkap kembali peran yang ia klaim dalam mendorong langkah awal Jokowi di panggung politik nasional.
Ia menyebut pernah meyakinkan Megawati Soekarnoputri untuk mengusung Jokowi sebagai calon Gubernur DKI Jakarta.
Menurutnya, keputusan itu menjadi pintu awal yang membuka jalan Jokowi hingga akhirnya memenangkan pemilihan presiden.
Baca Juga: Ketegangan Memuncak, Korea Utara Tiba-Tiba Tembakkan Rudal Diduga Sindir Trump
JK juga menegaskan bahwa dirinya maju sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2014 atas permintaan langsung Megawati untuk mendampingi Jokowi.
Pernyataan ini kembali memantik perbincangan publik, sekaligus memperkuat dinamika istilah “termul” yang kini semakin melekat dalam wacana politik nasional.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 6Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 7Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 8MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 9Ijazah SMA Gibran Kembali Dipertanyakan, Pernyataan Loyalis Jokowi Bikin Polemik Makin Panas
- 10Bikin Guru Terharu, Celine dari Pontianak Dipercaya Bawa Baki Merah Putih di Istana







