Banten

Istilah Termul Kembali Ramai, JK Singgung Peran di Balik Kemenangan Jokowi

Riski Endah Setyawati | 20 April 2026, 19:20 WIB
Istilah Termul Kembali Ramai, JK Singgung Peran di Balik Kemenangan Jokowi
Potret Jusuf Kalla (Istimewa)

AKURAT BANTEN - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla kembali memicu perhatian publik setelah menyinggung istilah “termul” saat membahas kiprahnya dalam mengantarkan Joko Widodo menuju kursi Presiden periode 2014–2019.

Istilah tersebut kini semakin sering terdengar dalam percakapan politik, khususnya di media sosial yang menjadi ruang utama pertukaran opini publik.

Banyak pihak kemudian mempertanyakan makna di balik sebutan “termul” yang disebut JK dalam pernyataannya.

Baca Juga: Gempa M 7,4 Guncang Jepang, BMKG Pastikan Indonesia Aman dari Ancaman Tsunami

Pengamat politik Adi Prayitno menjelaskan bahwa masyarakat pada umumnya memahami istilah itu sebagai label bagi kelompok pendukung loyal Jokowi.

"Secara umum publik tahunya Termul itu sebutan untuk pendukung setia Jokowi," ujar Adi.

Ia menambahkan bahwa popularitas istilah tersebut berkembang pesat dalam diskursus politik belakangan ini, meskipun asal-usulnya tidak sepenuhnya jelas.

Baca Juga: Kejari Tangsel Periksa BSD Sinarmas Land Terkait Dugaan Pencemaran Taman Tekno

Menariknya, istilah “termul” juga mulai muncul dalam penjelasan berbasis teknologi, termasuk dalam hasil pencarian Artificial Intelligence.

Menurut Adi, istilah tersebut kerap diartikan sebagai singkatan dari “ternak Mulyono”.

Nama Mulyono sendiri merupakan nama kecil Jokowi yang digunakan saat lahir di Solo pada 21 Juni 1961, sebelum kemudian diganti menjadi Joko Widodo karena alasan kesehatan yang dikaitkan dengan kepercayaan budaya Jawa.

Baca Juga: Ketegangan Memuncak, Korea Utara Tiba-Tiba Tembakkan Rudal Diduga Sindir Trump

"Bahkan kalo tanya AI soal termul akan muncul penjelasannya bahwa termul adalah istilah gaul politik yang merupakan singkatan dari Ternak Mulyono," jelasnya.

Lebih jauh, Adi menilai kemunculan istilah ini tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari tradisi panjang pelabelan dalam politik Indonesia.

Fenomena tersebut menunjukkan kecenderungan masyarakat yang terus menciptakan istilah baru untuk menggambarkan kelompok atau afiliasi politik tertentu.

Baca Juga: Kejari Tangsel Periksa BSD Sinarmas Land Terkait Dugaan Pencemaran Taman Tekno

Ia mencontohkan, sebelumnya publik telah akrab dengan istilah “cebong” dan “kampret” yang mencerminkan polarisasi politik pada masa lalu.

Kini, istilah baru seperti “termul” hingga “anak abah” kembali muncul dan memperkaya kosakata politik yang berkembang dinamis.

"Di negara ini sangat produktif melahirkan istilah-istilah dalam politik," kata Adi.

Baca Juga: Iran Tutup Selat Hormuz, Satu Tanker LPG Indonesia Berhasil Keluar di Menit Terakhir

Sementara itu, JK juga melontarkan pernyataan tegas yang kembali mengaitkan istilah tersebut dengan perjalanan politik Jokowi.

"Kasih tahu semua itu termul-termul itu. Jokowi jadi Presiden karena saya. Setuju? Setuju. Tanpa Gubernur mana bisa jadi Presiden," ucap JK.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah polemik yang menyeret namanya, sekaligus sebagai respons atas berbagai kritik yang ditujukan kepadanya.

Baca Juga: Gempa M 7,4 Guncang Jepang, BMKG Pastikan Indonesia Aman dari Ancaman Tsunami

JK kemudian mengungkap kembali peran yang ia klaim dalam mendorong langkah awal Jokowi di panggung politik nasional.

Ia menyebut pernah meyakinkan Megawati Soekarnoputri untuk mengusung Jokowi sebagai calon Gubernur DKI Jakarta.

Menurutnya, keputusan itu menjadi pintu awal yang membuka jalan Jokowi hingga akhirnya memenangkan pemilihan presiden.

Baca Juga: Ketegangan Memuncak, Korea Utara Tiba-Tiba Tembakkan Rudal Diduga Sindir Trump

JK juga menegaskan bahwa dirinya maju sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2014 atas permintaan langsung Megawati untuk mendampingi Jokowi.

Pernyataan ini kembali memantik perbincangan publik, sekaligus memperkuat dinamika istilah “termul” yang kini semakin melekat dalam wacana politik nasional.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.