Banten

Bukan Lawan Biasa, Inilah 3 Negara yang Bikin Israel Murka karena Dukung Iran, Salah Satunya Kekuatan NATO!

Abdurahman | 21 April 2026, 10:15 WIB
Bukan Lawan Biasa, Inilah 3 Negara yang Bikin Israel Murka karena Dukung Iran, Salah Satunya Kekuatan NATO!
Ilustrasi Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, menuduh Prancis, China, dan Pakistan secara efektif mendukung Iran (Akurat Banten/dok.Gemini)

AKURAT BANTEN – Ketegangan di Timur Tengah kini memasuki babak baru yang lebih pelik. Bukan lagi sekadar adu rudal di udara, melainkan pecahnya persatuan diplomatik di panggung dunia.

Israel secara mengejutkan meluapkan kemarahan besar terhadap tiga negara yang dianggap "bermain dua kaki" dengan mendukung rezim Iran di tengah blokade panas Selat Hormuz.

Tudingan ini memicu guncangan hebat, terutama karena salah satu negara yang disemprot Israel adalah anggota utama NATO, aliansi yang seharusnya berdiri di garis depan bersama sekutu Barat.

Baca Juga: Gempar! Trump Hari ini Hardik Israel: 'DILARANG Serang Lebanon, Cukup Sudah!'

Tikaman dari Dalam: Anggota NATO di Pusaran Konflik

Negara yang memicu kemarahan paling besar adalah Prancis. Sebagai salah satu kekuatan militer dan diplomatik NATO, Prancis dituding telah melakukan kesepakatan rahasia dengan Teheran.

Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, secara terbuka mengonfrontasi perwakilan Prancis terkait adanya "jalur aman" bagi kapal-kapal komersial mereka di Selat Hormuz, sementara kapal negara lain dipaksa putar balik atau disita oleh garda revolusi Iran.

Politik luar negeri bukan tentang siapa yang paling keras berteriak di podium, melainkan tentang siapa yang tetap setia saat krisis melanda. Namun hari ini, kita melihat kesetiaan itu luntur demi kepentingan logistik yang dibayar dengan harga yang sangat mahal.

Baca Juga: Skenario Sabotase Terendus! Erdogan Peringatkan Dunia soal Ulah Israel di Balik Layar

China dan Pakistan: Aliansi Kepentingan yang Solid

Selain Prancis, dua negara lain yang menjadi sasaran tembak Israel adalah China dan Pakistan. China, sebagai raksasa ekonomi dunia, memang memiliki hubungan strategis dengan Iran.

Namun, keberanian mereka untuk mengamankan jalur pelayaran di bawah hidung blokade AS-Israel dianggap sebagai dukungan nyata bagi ketahanan ekonomi Teheran.

Pakistan pun demikian. Sebagai negara dengan kekuatan nuklir, posisinya yang diduga menjalin "kesepakatan bawah meja" dengan Iran membuat Israel merasa dikepung oleh kebijakan luar negeri yang tidak lagi memihak mereka.

Baca Juga: Dunia Terkecoh! Dana Rp263 Triliun untuk Korban Gaza Diduga 'Dibelokkan' Trump ke Israel

Skandal 'Upeti' di Selat Hormuz

Inti dari kemarahan Israel adalah dugaan adanya transaksi finansial atau konsesi politik.

Danny Danon dalam unggahannya yang viral di platform X mempertanyakan transparansi negara-negara tersebut.

"Saya bertanya kepada duta besar Prancis: Berapa banyak uang yang Anda bayarkan kepada Iran untuk memindahkan kapal dengan aman melalui Selat Hormuz?" tulis Danon.

Hingga saat ini, baik Prancis, China, maupun Pakistan dilaporkan hanya bisa terdiam tanpa memberikan jawaban pasti dalam sesi Majelis Umum PBB.

Baca Juga: Trump Guncang Dunia: Gencatan Senjata Israel-Lebanon Sah, Iran Segera 'Menyerah'?

Dampak Fatal bagi Stabilitas Global

Jika anggota NATO seperti Prancis mulai tidak sejalan dengan strategi AS-Israel dalam menekan Iran, maka sanksi internasional terancam gagal total.

Selat Hormuz, yang mengalirkan 20% energi dunia, kini bukan hanya menjadi medan tempur fisik, tapi juga menjadi alat tawar-menawar politik yang sangat kotor.

Langkah ketiga negara ini mengirimkan pesan kuat ke dunia: bahwa kepentingan ekonomi nasional terkadang jauh lebih penting daripada solidaritas aliansi militer.

Bagi Israel, ini adalah sinyal bahaya bahwa mereka mungkin harus berjuang sendirian menghadapi ambisi Iran yang semakin tak terbendung.(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman