Banten

Harga Minyak Dunia Mendidih! Ketegangan Selat Hormuz Memanas usai Isu Trump Sita Kapal Iran

Varin VC | 21 April 2026, 16:45 WIB
Harga Minyak Dunia Mendidih! Ketegangan Selat Hormuz Memanas usai Isu Trump Sita Kapal Iran
Dampak Aksi AS ke Iran, Harga Minyak Dunia Melonjak Signifikan (REUTERS/Costas Baltas)

AKURAT BANTEN - Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait penyitaan kapal kargo berbendera Iran oleh angkatan laut AS.

Langkah tersebut langsung memicu respons cepat dari pasar global yang selama ini sangat sensitif terhadap dinamika konflik di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: China Kirim Kapal Induk ke Selat Taiwan, Tantang Kekuatan Sekutu AS

Situasi ini semakin memperuncing ketegangan di Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi salah satu titik paling penting dalam distribusi energi dunia.

Tak lama setelah pernyataan itu muncul, harga minyak mentah jenis Brent langsung melonjak lebih dari 4 persen hingga menyentuh kisaran USD94 per barel, setelah sebelumnya sempat mengalami pelemahan.

Lonjakan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global, terutama jika konflik di kawasan tersebut terus memburuk.

Baca Juga: Misteri 7 Pekan Jenazah Ali Khamenei: Mengapa Teheran Belum Berani Menguburkan Sang Pemimpin?

Sebagai jalur yang mengangkut sekitar 20 persen kebutuhan energi dunia, gangguan sekecil apa pun di Selat Hormuz dapat berdampak besar terhadap stabilitas harga minyak internasional.

Di sisi lain, laporan mengenai pembatasan jalur pelayaran oleh Iran turut memperbesar kecemasan pelaku pasar, meskipun belum ada kepastian sejauh mana kebijakan tersebut akan berlangsung.

“Pasar minyak terus bergejolak sebagai respons terhadap pernyataan yang berubah-ubah dari AS dan Iran, bukan semata kondisi pasokan di lapangan,” kata Saul Kavonic.

Baca Juga: Terpantau dari Langit Kapal-Kapal Mulai Berani Melintas di Selat Hormuz, Tapi Masih Sepi

Analis menilai, ketidakpastian politik saat ini menjadi faktor dominan yang mendorong volatilitas harga energi, bahkan lebih kuat dibandingkan kondisi fundamental seperti produksi atau cadangan minyak global.

Jika eskalasi terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga energi akan kembali naik dan memberikan tekanan tambahan bagi negara-negara yang bergantung pada impor minyak, termasuk di kawasan Asia.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Varin VC
Reporter
Varin VC
Varin VC
Editor
Varin VC