Harga Minyak Dunia Mendidih! Ketegangan Selat Hormuz Memanas usai Isu Trump Sita Kapal Iran

AKURAT BANTEN - Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait penyitaan kapal kargo berbendera Iran oleh angkatan laut AS.
Langkah tersebut langsung memicu respons cepat dari pasar global yang selama ini sangat sensitif terhadap dinamika konflik di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: China Kirim Kapal Induk ke Selat Taiwan, Tantang Kekuatan Sekutu AS
Situasi ini semakin memperuncing ketegangan di Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi salah satu titik paling penting dalam distribusi energi dunia.
Tak lama setelah pernyataan itu muncul, harga minyak mentah jenis Brent langsung melonjak lebih dari 4 persen hingga menyentuh kisaran USD94 per barel, setelah sebelumnya sempat mengalami pelemahan.
Lonjakan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global, terutama jika konflik di kawasan tersebut terus memburuk.
Baca Juga: Misteri 7 Pekan Jenazah Ali Khamenei: Mengapa Teheran Belum Berani Menguburkan Sang Pemimpin?
Sebagai jalur yang mengangkut sekitar 20 persen kebutuhan energi dunia, gangguan sekecil apa pun di Selat Hormuz dapat berdampak besar terhadap stabilitas harga minyak internasional.
Di sisi lain, laporan mengenai pembatasan jalur pelayaran oleh Iran turut memperbesar kecemasan pelaku pasar, meskipun belum ada kepastian sejauh mana kebijakan tersebut akan berlangsung.
“Pasar minyak terus bergejolak sebagai respons terhadap pernyataan yang berubah-ubah dari AS dan Iran, bukan semata kondisi pasokan di lapangan,” kata Saul Kavonic.
Baca Juga: Terpantau dari Langit Kapal-Kapal Mulai Berani Melintas di Selat Hormuz, Tapi Masih Sepi
Analis menilai, ketidakpastian politik saat ini menjadi faktor dominan yang mendorong volatilitas harga energi, bahkan lebih kuat dibandingkan kondisi fundamental seperti produksi atau cadangan minyak global.
Jika eskalasi terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga energi akan kembali naik dan memberikan tekanan tambahan bagi negara-negara yang bergantung pada impor minyak, termasuk di kawasan Asia.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 6Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 7Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 8MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 9Ijazah SMA Gibran Kembali Dipertanyakan, Pernyataan Loyalis Jokowi Bikin Polemik Makin Panas
- 10Bikin Guru Terharu, Celine dari Pontianak Dipercaya Bawa Baki Merah Putih di Istana







