Banten

Intan Nurul Hikmah dan Jalan Panjang Emansipasi dari Tangerang

Handrian Setiawan | 21 April 2026, 18:49 WIB
Intan Nurul Hikmah dan Jalan Panjang Emansipasi dari Tangerang
Intan Nurul Hikmah dan Jalan Panjang Emansipasi dari Tangerang (foto: istimewa)

AKURAT BANTEN - Bagi Wakil Bupati Tangerang, Intan Nurul Hikmah, Hari Kartini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia memaknainya sebagai pengingat bahwa perjuangan perempuan belum selesai.

“Emansipasi bukan peristiwa yang sudah selesai, tetapi proses historis yang harus terus diperjuangkan,” ujarnya Intan dalam wawancara khusus kepada Akurat Banten, Selasa (21/4/2026).

Menurutnya, data menunjukkan partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia masih berada di kisaran 54-55 persen, jauh di bawah laki-laki yang melampaui 80 persen.

Baca Juga: JK Hadirkan Pelaku Sejarah Poso dan Ambon untuk Jawab Polemik Pernyataan yang Viral

Kondisi itu menjadi refleksi bahwa kesetaraan harus hadir nyata dalam kebijakan, bukan hanya simbol perayaan.

Perempuan, Motor Ekonomi Daerah

Di Kabupaten Tangerang, Intan melihat perempuan sebagai kekuatan utama pembangunan sosial dan ekonomi.

Ia menilai dominasi perempuan dalam sektor UMKM yang secara nasional mencapai sekitar 60 persen. Itu membuktikan perempuan bukan sekadar pelengkap pembangunan, tetapi fondasi ekonomi kerakyatan.

“Perempuan hari ini adalah motor ekonomi keluarga sekaligus penjaga stabilitas sosial daerah,” katanya.

Baca Juga: Hujan Meteor Lyrid Hiasi Langit Indonesia Dini Hari Ini, Ini Waktu Terbaik Menyaksikannya

Tiga Fokus Kebijakan Perempuan

Sebagai pimpinan daerah sekaligus kader partai politik, Intan menegaskan arah kebijakan pemberdayaan perempuan berfokus pada tiga hal utama. Yaitu pemberdayaan ekonomi, perlindungan perempuan, peningkatan kapasitas dan kepemimpinan.

Langkah tersebut dilakukan karena indeks pemberdayaan gender nasional masih berada di kisaran angka 70-an, menandakan kesenjangan partisipasi ekonomi dan politik masih terjadi.

Program pelatihan kewirausahaan, akses permodalan, hingga penguatan perlindungan hukum menjadi agenda yang terus didorong pemerintah daerah.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Mendidih! Ketegangan Selat Hormuz Memanas usai Isu Trump Sita Kapal Iran

Perempuan Harus Hadir dan Memimpin

Dalam dunia politik, Intan menyoroti masih rendahnya representasi perempuan di parlemen yang baru menyentuh sekitar 20–21 persen, di bawah target afirmasi 30 persen.

Menurutnya, perempuan tidak cukup hanya hadir dalam politik, tetapi harus berani mengambil posisi kepemimpinan agar kebijakan lebih inklusif dan responsif gender.

Tantangan Zaman: Beban Ganda hingga Kekerasan Digital

Meski peluang semakin terbuka, perempuan masih menghadapi tantangan besar. Mulai dari kesenjangan upah hingga beban ganda antara peran domestik dan publik.

Di era digital, tantangan baru juga muncul berupa meningkatnya kekerasan berbasis online yang banyak menyasar perempuan.

Baca Juga: Terpantau dari Langit Kapal-Kapal Mulai Berani Melintas di Selat Hormuz, Tapi Masih Sepi

“Kesetaraan bukan hanya soal kesempatan kerja, tapi juga rasa aman dan penghargaan,” tegasnya.

Sosok Inspiratif: Seorang Ibu

Di balik perjalanan kariernya, Intan menyebut sosok perempuan paling berpengaruh dalam hidupnya adalah ibunya sendiri. “Ibu saya adalah mentor saya,” ungkapnya singkat.

Ia pun memiliki nilai kehidupan yang selalu ia pegang sederhana namun kuat “Berbuat baiklah kepada semua orang yang kita temui, karena kebaikan yang kita berikan akan kembali kepada kita nanti.”

Menjadi Pemimpin Tanpa Melupakan Keluarga

Sebagai perempuan yang memegang jabatan publik sekaligus anggota keluarga, Intan mengaku kunci keseimbangan hidup terletak pada manajemen waktu.

“Yang penting bisa mengatur waktu dan tetap punya quality time bersama keluarga di hari libur,” katanya.

Baca Juga: Terungkap Kapal Gamsunoro Tanpa Kru WNI, Pertamina Bongkar Fakta Sebenarnya

Momen Paling Berkesan

Dari berbagai tugas pemerintahan, satu momen yang paling membekas baginya adalah ketika berhasil membantu masyarakat merenovasi rumah di Kecamatan Kresek. Baginya, kepemimpinan bukan soal jabatan, melainkan dampak nyata yang dirasakan masyarakat.

Warisan untuk Anak Perempuan Tangerang

Di akhir wawancara, Intan menyampaikan harapan besar bagi generasi perempuan muda di Kabupaten Tangerang.

Ia ingin meninggalkan warisan berupa kesempatan pendidikan yang luas melalui program Beasiswa Tangerang Gemilang.

Baca Juga: Misteri 7 Pekan Jenazah Ali Khamenei: Mengapa Teheran Belum Berani Menguburkan Sang Pemimpin?

“Saya ingin anak-anak perempuan di Kabupaten Tangerang bisa sekolah tinggi. Mereka harus percaya bahwa mimpi mereka tidak memiliki batas,” ujarnya.

Hari Kartini, bagi Intan, bukan sekadar mengenang masa lalu. Ia adalah panggilan untuk memastikan setiap anak perempuan hari ini memiliki jalan menuju masa depan yang lebih setara. ***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.