Banten

Kartini di Balik Seragam: Kompol Susida, Kepemimpinan Empatik dari Polsek Ciledug

Handrian Setiawan | 24 April 2026, 09:34 WIB
Kartini di Balik Seragam: Kompol Susida, Kepemimpinan Empatik dari Polsek Ciledug
Kartini di Balik Seragam: Kompol Susida, Kepemimpinan Empatik dari Polsek Ciledug (foto: istimewa)

AKURAT BANTEN – Hari Kartini bukan sekadar seremoni tahunan bagi Kompol Susida. Bagi Kapolsek Ciledug itu, semangat R.A. Kartini hidup setiap hari di balik seragam polisi, ruang pelayanan masyarakat, hingga medan konflik sosial yang tak selalu terlihat publik.

Sebagai perempuan yang memimpin institusi kepolisian di wilayah padat dan dinamis, Kompol Susida memaknai Hari Kartini sebagai simbol perjuangan perempuan yang mampu berdiri sejajar dengan laki-laki.

“Perempuan juga pejuang. Tidak kalah dengan laki-laki,” ujarnya kepada Akurat Banten, Rabu (22/4/2026).

Baca Juga: Sinar Mas Land World-Class Education Expo 2026 Dikunjungi 1.000 Peserta, Perkuat BSD City sebagai Kota Pendidikan Global

Menurutnya, nilai perjuangan R.A. Kartini tetap relevan hingga kini, termasuk dalam dunia kepolisian modern. Tugas Polwan saat ini, kata dia, memiliki tantangan berat yang sejalan dengan semangat emansipasi yang diperjuangkan Kartini pada masanya.

Tantangan Nyata di Lapangan

Memimpin Polsek Ciledug menghadirkan tantangan tersendiri. Salah satu persoalan yang paling sering dihadapi adalah meningkatnya keterlibatan remaja dalam tindak kekerasan.

“Tantangan terbesar adalah menghadapi anak-anak di bawah umur yang sudah melakukan kejahatan dengan kekerasan, seperti tawuran hingga melukai temannya sendiri,” ungkapnya.

Baca Juga: Rahasia Militer Israel Bocor! 2 Teknisi Jet Tempur Dituduh Jadi Mata-Mata Iran

Namun di tengah kerasnya dinamika keamanan wilayah, Susida percaya kepemimpinan perempuan memiliki pendekatan berbeda.

Menurutnya, perempuan cenderung membawa sentuhan keibuan dalam menyelesaikan konflik sosial.

“Perempuan lebih halus. Hatinya lebih ke ibu, jadi pendekatannya sering lebih mengena ke masyarakat,” katanya.

Pendekatan empati tersebut, lanjutnya, sangat penting terutama dalam menangani kasus kekerasan dalam rumah tangga yang membutuhkan sensitivitas emosional tinggi.

Baca Juga: Awas! Wabah Difteri Meningkat 2026, Penyakit Paling Menular dan Picu Kematian Sejumlah Wilayah di Indonesia

Perjuangan yang Tak Selalu Terlihat

Di balik tugas pengamanan yang terlihat publik, Susida menyebut ada bentuk perjuangan Polwan yang jarang diketahui masyarakat: keterlibatan dalam misi perdamaian dunia.

“Polwan juga ikut misi perdamaian PBB,” ujarnya.

Baginya, itu merupakan bentuk nyata emansipasi perempuan Indonesia di level global ketika perempuan tidak hanya menjaga keamanan di dalam negeri, tetapi juga berkontribusi menjaga stabilitas dunia.

Terinspirasi Sosok Ibu

Dalam perjalanan kariernya, sosok perempuan paling berpengaruh bagi Susida bukan figur publik, melainkan ibunya sendiri.

“Ibu saya single parent yang tidak pernah lelah berjuang menghidupi anak-anaknya,” tutur dia.

Baca Juga: Wacana Pajak Kapal Selat Malaka Muncul, Pemerintah Hitung Potensi Pemasukan Baru

Nilai ketangguhan itulah yang menjadi fondasi semangat pengabdiannya di institusi Polri profesi yang ia sebut sebagai pekerjaan yang dicintainya sepenuh hati.

Kartini Masa Kini

Bagi Susida, Kartini masa kini adalah perempuan yang aktif, berani mengambil peran, dan tidak membatasi diri oleh stigma.

Ia mencontohkan semakin banyak perempuan Indonesia yang kini menjadi penerbang hingga terlibat dalam berbagai profesi strategis yang dahulu didominasi laki-laki.

Dalam kesehariannya, ia juga berusaha menyeimbangkan peran sebagai polisi dan anggota keluarga dengan berbagi tanggung jawab bersama suami serta membangun komunikasi yang baik dengan keluarga.

Baca Juga: Video Syur Viral Pasangan di Batang Berujung Pernikahan, Polisi Buru Penyebar Konten

Pesan untuk Perempuan Indonesia

Di momen Hari Kartini, Kompol Susida menyampaikan pesan sederhana namun kuat bagi perempuan Indonesia.

“Jangan pernah patah semangat. Kita hidup hanya sekali, dan semua lapangan pekerjaan bisa dilakukan perempuan. Jangan mau kalah dengan laki-laki,” pesannya.

Di tengah perubahan zaman, kisah Kompol Susida menunjukkan bahwa semangat Kartini tidak hanya hidup dalam sejarah, tetapi hadir nyata menjaga keamanan, memulihkan konflik, dan mengabdi dalam sunyi. ***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.