Kartini di Balik Seragam: Kompol Susida, Kepemimpinan Empatik dari Polsek Ciledug

AKURAT BANTEN – Hari Kartini bukan sekadar seremoni tahunan bagi Kompol Susida. Bagi Kapolsek Ciledug itu, semangat R.A. Kartini hidup setiap hari di balik seragam polisi, ruang pelayanan masyarakat, hingga medan konflik sosial yang tak selalu terlihat publik.
Sebagai perempuan yang memimpin institusi kepolisian di wilayah padat dan dinamis, Kompol Susida memaknai Hari Kartini sebagai simbol perjuangan perempuan yang mampu berdiri sejajar dengan laki-laki.
“Perempuan juga pejuang. Tidak kalah dengan laki-laki,” ujarnya kepada Akurat Banten, Rabu (22/4/2026).
Menurutnya, nilai perjuangan R.A. Kartini tetap relevan hingga kini, termasuk dalam dunia kepolisian modern. Tugas Polwan saat ini, kata dia, memiliki tantangan berat yang sejalan dengan semangat emansipasi yang diperjuangkan Kartini pada masanya.
Tantangan Nyata di Lapangan
Memimpin Polsek Ciledug menghadirkan tantangan tersendiri. Salah satu persoalan yang paling sering dihadapi adalah meningkatnya keterlibatan remaja dalam tindak kekerasan.
“Tantangan terbesar adalah menghadapi anak-anak di bawah umur yang sudah melakukan kejahatan dengan kekerasan, seperti tawuran hingga melukai temannya sendiri,” ungkapnya.
Baca Juga: Rahasia Militer Israel Bocor! 2 Teknisi Jet Tempur Dituduh Jadi Mata-Mata Iran
Namun di tengah kerasnya dinamika keamanan wilayah, Susida percaya kepemimpinan perempuan memiliki pendekatan berbeda.
Menurutnya, perempuan cenderung membawa sentuhan keibuan dalam menyelesaikan konflik sosial.
“Perempuan lebih halus. Hatinya lebih ke ibu, jadi pendekatannya sering lebih mengena ke masyarakat,” katanya.
Pendekatan empati tersebut, lanjutnya, sangat penting terutama dalam menangani kasus kekerasan dalam rumah tangga yang membutuhkan sensitivitas emosional tinggi.
Perjuangan yang Tak Selalu Terlihat
Di balik tugas pengamanan yang terlihat publik, Susida menyebut ada bentuk perjuangan Polwan yang jarang diketahui masyarakat: keterlibatan dalam misi perdamaian dunia.
“Polwan juga ikut misi perdamaian PBB,” ujarnya.
Baginya, itu merupakan bentuk nyata emansipasi perempuan Indonesia di level global ketika perempuan tidak hanya menjaga keamanan di dalam negeri, tetapi juga berkontribusi menjaga stabilitas dunia.
Terinspirasi Sosok Ibu
Dalam perjalanan kariernya, sosok perempuan paling berpengaruh bagi Susida bukan figur publik, melainkan ibunya sendiri.
“Ibu saya single parent yang tidak pernah lelah berjuang menghidupi anak-anaknya,” tutur dia.
Baca Juga: Wacana Pajak Kapal Selat Malaka Muncul, Pemerintah Hitung Potensi Pemasukan Baru
Nilai ketangguhan itulah yang menjadi fondasi semangat pengabdiannya di institusi Polri profesi yang ia sebut sebagai pekerjaan yang dicintainya sepenuh hati.
Kartini Masa Kini
Bagi Susida, Kartini masa kini adalah perempuan yang aktif, berani mengambil peran, dan tidak membatasi diri oleh stigma.
Ia mencontohkan semakin banyak perempuan Indonesia yang kini menjadi penerbang hingga terlibat dalam berbagai profesi strategis yang dahulu didominasi laki-laki.
Dalam kesehariannya, ia juga berusaha menyeimbangkan peran sebagai polisi dan anggota keluarga dengan berbagi tanggung jawab bersama suami serta membangun komunikasi yang baik dengan keluarga.
Baca Juga: Video Syur Viral Pasangan di Batang Berujung Pernikahan, Polisi Buru Penyebar Konten
Pesan untuk Perempuan Indonesia
Di momen Hari Kartini, Kompol Susida menyampaikan pesan sederhana namun kuat bagi perempuan Indonesia.
“Jangan pernah patah semangat. Kita hidup hanya sekali, dan semua lapangan pekerjaan bisa dilakukan perempuan. Jangan mau kalah dengan laki-laki,” pesannya.
Di tengah perubahan zaman, kisah Kompol Susida menunjukkan bahwa semangat Kartini tidak hanya hidup dalam sejarah, tetapi hadir nyata menjaga keamanan, memulihkan konflik, dan mengabdi dalam sunyi. ***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 4Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 7MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 8Ijazah SMA Gibran Kembali Dipertanyakan, Pernyataan Loyalis Jokowi Bikin Polemik Makin Panas
- 9Bukan Cuma Mbappé dan Vinicius, Mourinho Siapkan 4 Pilar Real Madrid untuk Era Barunya
- 10Rodri Dapat Nomor 16 Barcelona, Fermín López Rela Melepas: “Akan Berada di Tangan yang Tepat”










