Tragedi Maut Bekasi Timur Buka Borok Sistem Keselamatan Kereta Nasional

AKURAT BANTEN - Kecelakaan tragis yang melibatkan KA Argo Bromo dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026 menjadi sorotan tajam publik sekaligus memunculkan kritik serius dari anggota Komisi VI DPR, Mufti Anam.
Insiden yang merenggut 16 nyawa tersebut dinilai bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan sinyal kuat adanya persoalan mendasar dalam sistem keselamatan transportasi rel di Indonesia.
Mufti menegaskan, tragedi ini menunjukkan bahwa tata kelola keamanan perkeretaapian nasional masih memiliki celah besar yang berbahaya.
"Peristiwa tabrakan kereta di wilayah Bekasi ini menunjukkan bahwa ada yang tidak beres dalam tata kelola keselamatan perkeretaapian kita," ujarnya.
Rangkaian kejadian bermula ketika sebuah taksi listrik mogok di perlintasan sebidang dekat stasiun dan tertabrak KRL menuju Jakarta.
Benturan awal tersebut membuat KRL tujuan Cikarang berhenti di jalur.
Tak lama berselang, KA Argo Bromo yang melaju di jalur sama dari belakang menghantam rangkaian KRL, khususnya gerbong perempuan.
Mufti menyoroti dugaan keterlambatan sistem peringatan atau sinyal terhadap KA Argo Bromo terkait adanya kereta berhenti di depannya.
"Saya menerima informasi bahwa kereta api jarak jauh tidak mendapatkan sinyal terkait keberadaan kereta di depannya. Jika benar, maka ini adalah kegagalan sistem dan bahkan mungkin human error," katanya.
Baca Juga: ALVAboard Dorong Ekonomi Sirkular untuk Tekan Dampak Pemanasan Global
Ia pun mempertanyakan mengapa teknologi pengaman otomatis seperti Automatic Train Protection (ATP) belum diterapkan optimal di Indonesia, padahal sistem tersebut telah menjadi standar keselamatan di banyak negara.
Politikus PDIP itu juga menilai PT KAI belum maksimal menjalankan tanggung jawabnya, meski selama ini memperoleh dukungan besar dari negara melalui subsidi, perlindungan regulasi, dan berbagai fasilitas strategis.
"Kami kecewa, KAI sebagai salah satu BUMN yang paling privilege, justru gagal melindungi nyawa rakyat," tegas Mufti.
Menurutnya, investasi sektor kereta api selama ini terlalu terkonsentrasi pada pembangunan fisik seperti rel, stasiun, dan armada, sementara sistem keselamatan berbasis teknologi kurang mendapat prioritas.
Ia mendesak audit investigatif independen, percepatan sistem pengaman digital, evaluasi total budaya keselamatan operasional, penataan ulang komposisi gerbong, hingga penertiban seluruh perlintasan ilegal.
"Keselamatan transportasi adalah urusan hidup mati. Kalau hari ini tidak berbenah, besok yang jadi korban bisa siapa saja," tandasnya.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Geger! Survei SMRC Ungkap Skor Kepemimpinan Tokoh Nasional, Mahfud MD di Puncak, Gibran Terbawah
- 2Tiga Hari Lagi! Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026, Ini Daftar Produk yang Harus Punya Sertifikat
- 3Sengketa Honor LKM Ciomas: Penagihan Kredit Tembus Rp856 Juta, Upah Tim Likuidasi Malah Menggantung
- 4Adik Eks Kepala BNPB Diduga Gunakan Dana Bencana untuk Beli Saham, KPK Bongkar Kasusnya
- 5UMKM Wajib Tahu! Cara Daftar Sertifikat Halal Online, Ada 1,35 Juta Kuota Gratis pada 2026
- 6Real Madrid Menang Dramatis di Markas Roma, Mourinho Malah Tak Mau Selebrasi: Alasannya Bikin Haru!
- 7Mbappe Ukir Sejarah saat Real Madrid Comeback 4-3! Rekor Messi Resmi Terlewati, Golnya Tambah Catatan Gila
- 8Haaland Langgar Aturan Aneh Maresca di Liga Champions, Tapi Justru Jadi Pahlawan Man City di Tengah Kekalahan
- 9Yarmolyuk Menanduk Jacquet di Kotak Penalti, Kok Liverpool Malah Tak Dapat Penalti? Ini Aturannya!
- 10Chelsea Ketar-ketir Tanpa Reece James, 3 Gelandang Ini Masuk Radar Xabi Alonso untuk Januari 2027









