Banten

Freeport Tunda Operasi Penuh Grasberg hingga 2028, Ini Penyebab Utamanya

Viona Sebastian Nolani | 10 Mei 2026, 15:06 WIB
Freeport Tunda Operasi Penuh Grasberg hingga 2028, Ini Penyebab Utamanya
Evakuasi longsor di tambang Grasberg Block Cave milik PT Freeport Indonesia. (dok. Freeport Indonesia)

AKURAT BANTEN - PT Freeport Indonesia melakukan penyesuaian jadwal dalam proses "pemulihan produksi" di tambang tembaga bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC).

Juru bicara perusahaan menyampaikan bahwa operasional penuh tambang tersebut kini ditargetkan kembali berjalan pada 2028.

"Penyesuaian terhadap target pemulihan produksi GBC dilakukan karena adanya pekerjaan tambahan pada infrastruktur logistik dan penanganan bijih di tambang bawah tanah menyusul insiden September lalu," kata Katri Krisnati, juru bicara Freeport Indonesia.

Tambang Grasberg sebelumnya terdampak aliran lumpur cukup parah pada September tahun lalu.

Baca Juga: Jaringan Sel Tidur ISIS di Poso Terbongkar, Densus 88 Amankan 8 Orang dan Ungkap Peran Mereka

Setelah kejadian itu, CEO Tony Wenas sempat menyebut bahwa tambang diperkirakan dapat kembali beroperasi penuh pada 2027.

Keterangan tersebut muncul setelah rilis pers yang mengungkapkan bahwa Freeport-McMoRan menunda kembali pengoperasian penuh tambang Grasberg selama satu tahun.

Perusahaan kini menargetkan produksi penuh baru tercapai pada awal 2028.

"Operasi saat ini berada dalam fase pemulihan setelah insiden tambang bawah tanah GBC, dengan produksi saat ini sekitar 40 persen hingga 50 persen, ujar Tony Wenas.

Baca Juga: Timnas U17 di Ujung Tanduk! Jepang Jadi Penentu Nasib Garuda Muda

"Perusahaan menargetkan kembali ke kapasitas penuh pada awal tahun 2028," paparnya.

Perusahaan menjelaskan kondisi material yang lebih basah dibanding perkiraan membuat penyesuaian pada sistem pengangkutan bijih dan fasilitas pendukung perlu dilakukan agar kegiatan operasional tetap aman.

Pada April lalu, Freeport juga menyebut penundaan terjadi karena adanya perubahan pada peralatan pemuatan bijih ke kereta api.

Langkah itu dilakukan setelah bijih bawah tanah menjadi lebih basah akibat infiltrasi air tanah usai penghentian operasi tambang pada September.

Krisnati mengatakan produksi di area tambang bawah tanah GBC yang tidak terdampak sudah mulai kembali berjalan secara bertahap sejak April 2026.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.