Banten

Piala Dunia 2026 Dibayangi Perang Iran dan Harga Tiket Gila-Gilaan, FIFA Mulai Panik?

Viona Sebastian Nolani | 12 Mei 2026, 10:34 WIB
Piala Dunia 2026 Dibayangi Perang Iran dan Harga Tiket Gila-Gilaan, FIFA Mulai Panik?
Piala Dunia FIFA 2026 bakal segera digelar di AS. (Instagram/@fifa)

AKURAT BANTEN - Hitung mundur satu bulan menuju Piala Dunia FIFA 2026 resmi dimulai pada 11 Mei.

Namun, antusiasme publik terhadap turnamen terbesar sepak bola dunia itu kini bercampur dengan rasa khawatir.

Sebab harga tiket yang melonjak tajam, situasi politik di AS di bawah kepemimpinan Donald Trump, hingga perang di Iran yang ikut membayangi atmosfer turnamen sejak awal.

Sebanyak 48 negara peserta bersama jutaan suporter diperkirakan akan memadati AS, Kanada, dan Meksiko dalam edisi pertama Piala Dunia yang digelar bersama oleh tiga negara.

Baca Juga: Ketegangan Memuncak, Iran Beri Peringatan Keras Negara Pendukung AS soal Selat Hormuz

Turnamen akbar yang berlangsung hampir enam pekan itu akan dibuka di Estadio Azteca pada 11 Juni sebelum mencapai partai puncak di MetLife Stadium yang memiliki kapasitas 82.500 penonton pada 19 Juli.

Meski demikian, proses persiapan yang diwarnai berbagai polemik membuat edisi ke-23 Piala Dunia terancam meninggalkan kesan kurang nyaman bahkan sebelum kick-off dimulai.

Kekhawatiran soal biaya, politik, hingga konflik internasional disebut telah mengurangi euforia publik terhadap ajang tersebut.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, menilai berbagai kekhawatiran menjelang turnamen terlalu dibesar-besarkan.

Baca Juga: Maung MV3 Garuda Limousine Tampil di KTT ASEAN, Bukti Industri Pertahanan Indonesia Makin Diakui

Ia bahkan menyebut banyak pemberitaan bernada negatif terhadap Piala Dunia sebagai "pemberitaan negatif".

"Sejujurnya, sangat sulit untuk menemukan sesuatu yang negatif seputar Piala Dunia ini," kata Infantino.

Namun, optimisme besar dari bos FIFA tersebut rupanya tidak sepenuhnya diterima di kalangan sepak bola global.

Lonjakan harga tiket turnamen memicu kritik luas dari berbagai negara dan membuat FIFA serta Infantino harus bekerja keras meredam dampak buruk terhadap citra publik mereka.

Baca Juga: Heboh Obat Tramadol dan Eximer Menyasar Buruh Pabrik, DPR Sebut Banyak Pekerja Tak Sadar Bahayanya

Kelompok suporter Football Supporters Europe bahkan menyebut sistem harga tiket Piala Dunia sebagai bentuk "pemerasan" dan "pengkhianatan monumental".

Mereka menilai harga tiket membuat turnamen yang diperkirakan menghasilkan US$13 miliar atau sekitar S$16,5 miliar bagi FIFA menjadi sulit dijangkau banyak penggemar.

Sebagai perbandingan, tiket final Piala Dunia 2022 dijual sekitar US$1.600. Sementara untuk edisi 2026, harga tiket termahal yang dipasarkan FIFA kini menyentuh angka fantastis US$32.970.

Infantino menilai harga itu masih wajar untuk pasar AS yang menjadi tuan rumah mayoritas pertandingan.

"Kita harus melihat pasar, kita berada di pasar di mana industri hiburan paling maju di dunia. Jadi kita harus menerapkan tarif pasar," kata Infantino.

FIFA juga mengklaim telah menerima lebih dari 500 juta permintaan tiket, jauh lebih tinggi dibanding gabungan 50 juta permintaan pada turnamen 2018 dan 2022.

Meski begitu, di tengah klaim tiket terjual habis, sejumlah laga masih memiliki tiket tersedia di pasar sekunder, termasuk pertandingan pembuka AS melawan Paraguay di Los Angeles pada 12 Juni.

Bahkan Trump, yang dikenal dekat dengan Infantino, ikut terkejut dengan mahalnya harga tiket setelah mengetahui biaya menonton laga kontra Paraguay mencapai US$1.000.

"Saya tidak tahu angka itu. Saya tentu ingin berada di sana, tetapi jujur saja, saya juga tidak akan membayarnya," kata Trump.

Di tengah mahalnya biaya menonton langsung, kritik lain juga diarahkan pada situasi politik yang memanas di AS, negara yang menjadi tuan rumah 78 dari total 104 pertandingan.

Kembalinya Trump ke Gedung Putih disebut mengubah gambaran awal Piala Dunia 2026 sebagai simbol persatuan tiga negara Amerika Utara.

Sejak kembali menjabat, Trump beberapa kali melontarkan pernyataan mengenai kemungkinan menjadikan Kanada sebagai "negara bagian ke-51" AS sambil tetap melanjutkan perang dagang dengan dua negara tetangga tersebut.

Human Rights Watch memperingatkan bahwa Piala Dunia berpotensi diwarnai "pengucilan dan ketakutan" akibat kebijakan keras Trump terhadap imigrasi, demonstrasi, dan kebebasan pers.

Sementara Amnesty International menilai turnamen tersebut bisa berubah menjadi "panggung untuk penindasan".

Di sisi lain, serangan militer gabungan AS-Israel terhadap Iran pada Februari lalu turut mengguncang ekonomi global.

Bank Dunia bahkan memperingatkan konflik Timur Tengah dapat mendorong jutaan orang ke jurang kelaparan.

Perang itu juga memunculkan tanda tanya besar terkait keikutsertaan Iran di Piala Dunia.

Situasi ini menjadi pertama kalinya negara tuan rumah terlibat konflik militer dengan negara peserta menjelang turnamen berlangsung.

Awalnya, Trump sempat menyarankan Iran mundur dari turnamen demi "kehidupan dan keselamatan" mereka sendiri.

Namun, Infantino memastikan Iran tetap akan tampil sesuai jadwal meski proposal pemindahan laga ke Meksiko ditolak.

Iran dijadwalkan memainkan tiga pertandingan fase grup di AS.

"Tentu saja, Iran akan berpartisipasi di Piala Dunia FIFA 2026," kata Infantino kepada Kongres FIFA di Vancouver pada 30 April.

"Dan, tentu saja, Iran akan bermain (di) AS," tambahnya.

Trump, yang berharap mendapat keuntungan politik dari penyelenggaraan Piala Dunia menjelang pemilu paruh waktu 2026, kemudian menyatakan dirinya "tidak masalah" dengan kehadiran Iran di turnamen tersebut.

FIFA dan Infantino kini berharap seluruh kontroversi itu akan mereda ketika pertandingan dimulai dan Piala Dunia kembali menghadirkan drama serta kemegahan sepak bola yang menjadi daya tarik utamanya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.