Banten

Rahasia Jemaah Haji Mandiri SUB 77, Lansia Bisa Adaptasi Cepat Berkat Cara Tak Biasa Ini

Viona Sebastian Nolani | 17 Mei 2026, 16:38 WIB
Rahasia Jemaah Haji Mandiri SUB 77, Lansia Bisa Adaptasi Cepat Berkat Cara Tak Biasa Ini
Moh Kamil berbagi cerita hangat pada tim Media Center Haji (MCH). (haji.go.id)

AKURAT BANTEN - Pagi itu, suasana lorong hotel jemaah di kawasan Ar-Rawdah, Makkah, masih relatif tenang.

Sebagian besar jemaah memilih beristirahat usai menunaikan salat subuh, sementara beberapa lainnya tampak berbincang santai di depan kamar.

Di tengah aktivitas pagi yang sederhana itu, Moh Kamil berbagi kisah kepada tim Media Center Haji (MCH).

Meski usianya belum mencapai 30 tahun, ia memegang tanggung jawab penting sebagai ketua rombongan untuk 43 jemaah haji mandiri asal Sumenep, Jawa Timur.

Mereka tergabung dalam Embarkasi Surabaya Kelompok Terbang (Kloter) 77 atau SUB 77.

Baca Juga: Persib Bandung Krisis Pemain Jelang Lawan PSM, Jalur Juara Mulai Terancam?

"Awalnya saya juga berpikir mungkin lebih aman kalau ada pendamping dari KBIHU (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah). Tapi setelah bertemu petugas-petugas kloter, kami merasa cukup didampingi," katanya saat ditemui di Hotel Rawdat Alsharia, Makkah, Kamis (14/5/2026).

Keputusan menjalani haji secara mandiri bukanlah sesuatu yang dipilih tanpa persiapan.

Sebelum berangkat, Kamil memperdalam pemahaman manasik dengan kembali belajar kepada para guru pesantrennya.

Walau tidak tinggal penuh di pondok, sejak kecil ia aktif mengikuti pengajian dan madrasah diniyah di kampung halamannya.

Baca Juga: Prediksi Skor PSM Makassar vs Persib Bandung, Parepare Bisa Jadi Tempat Penentuan Juara Liga 1

Bekal ilmu tersebut kini dimanfaatkannya untuk membantu anggota rombongan memahami tahapan ibadah haji.

Tantangan terbesar justru datang dari beragam kemampuan jemaah dalam menerima informasi, khususnya lansia yang belum terbiasa dengan teknologi digital.

"Kalau dijelaskan lewat tulisan panjang, banyak yang kesulitan memahami. Akhirnya kami buat video-video sederhana," ujarnya.

Video itu dibuat menggunakan campuran bahasa Indonesia dan Madura agar lebih mudah dipahami.

Kontennya sederhana namun praktis, mulai dari cara menggunakan lift hotel, menyiapkan koper, mengenali jalur menuju Masjidil Haram, hingga memahami fasilitas yang tersedia selama di Arab Saudi.

Pendekatan praktis tersebut terbukti efektif membantu jemaah lanjut usia beradaptasi lebih cepat.

Menurut Kamil, sebagian dari mereka bahkan masih mengalami kesulitan menggunakan aplikasi pesan singkat maupun melakukan panggilan video.

"Makanya harus dicari cara yang paling mudah dipahami," ucapnya.

Masih dalam rombongan yang sama, Suwaris Bahir mengaku sudah mantap memilih jalur haji mandiri sejak awal.

Pria yang sehari-hari bekerja di sektor perikanan itu mengatakan dirinya tidak terlalu cemas menjalani ibadah tanpa pendamping dari KBIHU.

Baginya, pembekalan manasik dari pemerintah sudah cukup lengkap sebagai panduan ibadah.

"Mulai dari naik pesawat, fasilitas hotel, sampai jalur masuk Masjidil Haram dijelaskan," ujarnya di kesempatan yang sama.

Suwaris bahkan mengikuti manasik beberapa kali, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten.

Dari proses itu, ia merasa jemaah awam seperti dirinya benar-benar diarahkan secara bertahap. Selain itu, petugas kloter dinilainya aktif memberikan pendampingan selama berada di Tanah Suci.

"Setiap perjalanan ibadah itu selalu ada yang mendampingi," katanya.

Ia merasa lebih nyaman menjalani ibadah haji mandiri karena tidak terlalu terikat dengan aturan tambahan.

Selain memberi keleluasaan, menurutnya jalur ini juga terasa lebih hemat dari sisi biaya. "Kalau saya pribadi, pelayanannya lebih daripada cukup," ucapnya.

Kisah lain datang dari E.A.A. Nurhayati Haddjad, seorang dosen asal Sumenep yang berangkat haji menggantikan almarhum ayahnya.

Porsi haji keluarga yang sebelumnya diperuntukkan bagi sang ayah akhirnya dialihkan kepadanya setelah ayahnya meninggal dunia.

Di tengah kesibukannya mengajar sekaligus merawat ibu yang mengalami stroke, Nurhayati tetap mempersiapkan diri secara bertahap.

Ia rutin berjalan kaki di sekitar desa maupun taman kota untuk menjaga stamina sebelum keberangkatan.

"Kadang jalan sambil lihat sawah atau ladang saja," katanya sambil tertawa kecil.

Selain menjaga kebugaran fisik, Nurhayati juga aktif mencari informasi melalui media sosial dan grup jemaah.

Menurutnya, akses informasi digital sangat membantu jemaah mandiri memahami perkembangan terbaru selama berada di Arab Saudi.

Namun, hal yang paling membekas baginya justru terletak pada kebersamaan antarsesama jemaah.

Pada malam hari, ia kerap membantu anggota rombongan lain mengisi data diri atau membaca dokumen perjalanan.

"Dari situ malah jadi dekat satu sama lain," ujarnya.

Soliditas jemaah mandiri SUB 77 rupanya dibangun melalui proses yang tidak singkat.

Ketua Kloter SUB 77, Asnawi, menjelaskan bahwa sejak awal pihaknya memahami pendampingan jemaah tanpa KBIHU membutuhkan pendekatan berbeda, terlebih lebih dari separuh anggota kloter merupakan lansia.

"Ini tantangan besar karena mereka menggantungkan diri pada petugas kloter," kata Asnawi.

Karena itu, sebelum keberangkatan, petugas kloter terlebih dahulu membangun kekompakan internal.

Setelahnya, para ketua regu dan ketua rombongan dikumpulkan untuk menyamakan pemahaman terkait pola pendampingan jemaah.

Asnawi kemudian menanamkan satu prinsip sederhana, yakni setiap ketua rombongan harus menjadi "kiai" bagi kelompok masing-masing.

"Ketika merasa punya tanggung jawab moral, mereka jadi lebih serius belajar dan mendampingi jemaah," ujarnya.

Pendekatan itu diperkuat melalui kunjungan rutin ke desa-desa hingga wilayah kepulauan di Sumenep selama dua sampai tiga bulan menjelang keberangkatan.

Petugas datang langsung untuk memberikan penjelasan tambahan, mendampingi simulasi manasik, sekaligus membangun kedekatan emosional dengan para jemaah.

Hasil pendekatan tersebut mulai terlihat saat rombongan tiba di Makkah.

Para jemaah tampak lebih tertib, mandiri, dan saling menjaga satu sama lain.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.