Banten

Gentengisasi Nasional Didorong Teknologi Baru Kopdes Merah Putih, Menkop Ungkap Formula Lebih Kuat dan Ramah Lingkungan

Moehamad Dheny Permana | 8 Februari 2026, 06:13 WIB
Gentengisasi Nasional Didorong Teknologi Baru Kopdes Merah Putih, Menkop Ungkap Formula Lebih Kuat dan Ramah Lingkungan

Akurat Banten - Menteri Koperasi dan UKM Ferry Juliantono mengungkapkan bahwa produksi genteng oleh Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih didorong untuk memanfaatkan inovasi teknologi agar menghasilkan produk yang lebih kuat, ringan, dan memiliki nilai tambah bagi masyarakat.

Menurut Ferry, teknologi yang dimaksud memanfaatkan bahan campuran turunan limbah batu bara yang dipadukan dengan tanah liat sebagai bahan baku utama genteng, sehingga kualitasnya dapat meningkat tanpa mengorbankan aspek lingkungan.

Ia menjelaskan bahwa sisa batu bara yang diolah kembali tersebut dapat berfungsi sebagai material penguat yang membuat genteng lebih tahan lama sekaligus lebih ringan dibanding genteng konvensional.

“Itu bisa dijadikan bahan campuran untuk menjadikan genteng yang berbahan baku tanah, ditambah sedikit bahan dari sisa batu bara, sehingga hasil produknya akan lebih ringan dan lebih kuat,” kata Ferry.

Ferry menyampaikan bahwa pendekatan teknologi ini sejalan dengan gagasan Presiden Prabowo Subianto yang mendorong gerakan nasional penggantian atap seng menjadi genteng berbahan tanah liat atau yang dikenal dengan istilah gentengisasi.

Ia menilai perhatian Presiden terhadap genteng tidak semata soal konstruksi bangunan, tetapi juga berkaitan erat dengan upaya menjaga kebersihan lingkungan di tengah persoalan sampah yang masih menjadi pekerjaan rumah di banyak daerah.

“Presiden ingin masalah resik atau kebersihan, karena sekarang persoalan sampah terjadi di mana-mana dan belum ada solusi tuntas,” ujar Ferry.

Menurutnya, pemerintah tengah menyiapkan sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi dengan konsep pengolahan di sumbernya, sehingga tidak seluruhnya dibuang ke tempat pembuangan akhir.

Selain aspek lingkungan, Ferry menilai penggunaan genteng juga memberikan dampak positif dari sisi estetika dan kenyamanan hunian masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.

Baca Juga: Lonjakan Penumpang Kereta di Jawa Tengah Pertegas Peran Transportasi Rel di Kawasan Aglomerasi

Ia menyebut masih banyak rumah yang menggunakan atap seng, yang cenderung membuat suhu di dalam rumah menjadi panas serta rentan berkarat dalam jangka waktu tertentu.

“Kalau Presiden lewat, di atas genteng itu masih banyak rumah-rumah yang menggunakan seng, padahal seng itu panas dan mudah karat,” kata Ferry.

Ia menambahkan bahwa rumah dengan atap genteng dinilai lebih teduh, nyaman untuk ditinggali, dan memiliki ketahanan yang lebih baik jika diproduksi dengan standar kualitas yang tepat.

Dengan dukungan teknologi baru, Ferry optimistis genteng dapat diproduksi dengan biaya yang lebih efisien sehingga harganya tetap terjangkau bagi masyarakat luas.

“Presiden sampai memikirkan hal ini karena sebenarnya genteng bisa diproduksi lebih murah dengan pendekatan-pendekatan baru,” ujarnya.

Ferry juga menekankan bahwa hampir seluruh daerah di Indonesia memiliki ketersediaan bahan baku tanah, sehingga produksi genteng oleh koperasi desa dinilai sangat realistis untuk dikembangkan secara nasional.

“Kalau tanah, semua daerah juga punya,” ucapnya singkat.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Kabupaten Bogor, menyoroti masih dominannya penggunaan atap seng di perumahan masyarakat.

Baca Juga: Momentum HPN 2026, Pers Dinilai Strategis Jaga Penegakan Hukum

Ia menilai kondisi tersebut tidak hanya mengurangi keindahan lingkungan, tetapi juga berdampak pada kenyamanan penghuni rumah.

“Saya ingin semua atap Indonesia pakai genteng, jadi nanti gerakannya adalah proyek gentengisasi seluruh Indonesia,” ujar Prabowo.

Presiden menegaskan bahwa proyek gentengisasi nasional tersebut akan melibatkan Kopdes Merah Putih sebagai ujung tombak produksi sekaligus penggerak ekonomi desa di berbagai daerah.***

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.