Banten

Petani Jawa Tengah Temukan Cara Tanam Padi Baru, Hasil Panen Naik dan Emisi Turun Drastis

Viona Sebastian Nolani | 20 Mei 2026, 13:04 WIB
Petani Jawa Tengah Temukan Cara Tanam Padi Baru, Hasil Panen Naik dan Emisi Turun Drastis
Uji coba awal yang dipimpin oleh Temasek Life Sciences Laboratory Singapura menunjukkan bahwa emisi metana dari pertanian padi dapat dikurangi hingga 50 persen. (CNA)

AKURAT BANTEN - Petani padi di Jawa Tengah mulai mencoba metode baru dalam budidaya salah satu komoditas pangan paling penting di dunia.

Cara ini dinilai mampu meningkatkan produksi panen sekaligus menekan emisi gas rumah kaca yang memicu perubahan iklim.

Uji coba tahap awal yang dipimpin oleh Temasek Life Sciences Laboratory menunjukkan emisi metana dari lahan persawahan dapat ditekan hingga 50 persen.

Tim peneliti menerapkan pendekatan baru dengan memadukan sistem irigasi yang dimodifikasi, formula pupuk khusus, serta penggunaan varietas padi yang lebih tahan terhadap dampak perubahan iklim.

Baca Juga: Sebut Misi Kemanusiaan 'Rencana Jahat', Netanyahu Puji Pasukan Israel yang Tangkap 9 WNI di Kapal Gaza, Ini Daftarnya!

Temuan serupa juga diperoleh melalui uji coba yang dilakukan secara paralel di India dan Laos.

Jawa Tengah sendiri dikenal sebagai salah satu sentra produksi beras terbesar di Indonesia dengan kontribusi lebih dari 16 persen terhadap total produksi nasional.

Kasno, petani asal Kabupaten Grobogan, mengungkapkan bahwa pada awalnya banyak petani masih ragu menerapkan sistem pertanian rendah emisi tersebut.

“Sebagian besar dari mereka cukup tradisional,” kata petani berusia 55 tahun itu yang menjadi salah satu dari 172 peserta dalam Proyek Dekarbonisasi Beras milik lembaga riset tersebut.

Baca Juga: Heboh! Kasus Chromebook Nadiem Makarim: Profesor Romli Atmasasmita Sebut Jaksa Tabrak KUHAP!

“Mereka khawatir proyek semacam itu mungkin tidak berhasil atau dapat menyebabkan gagal panen. Tetapi setelah kami menjelaskan metode dan bagaimana semuanya akan dilakukan, para petani secara bertahap menerimanya,” paparnya.

Sebelum mengikuti program itu, Kasno biasanya menghasilkan sekitar enam hingga tujuh ton gabah per hektar.

Setelah memakai metode baru tersebut, hasil panennya meningkat menjadi sekitar delapan hingga sembilan ton per hektar.

Menurut Kasno, keuntungan yang diperolehnya naik sekitar 30 persen.

Para petani peserta program mendapatkan dukungan berupa benih padi, pupuk, hingga pestisida.

Musim tanam perdana dimulai pada September tahun lalu dan selesai pada Februari tahun ini dengan cakupan hampir 100 hektar lahan sawah.

“Hasilnya positif dan kami dapat meningkatkan hasil panen petani sebesar 6 persen meskipun terjadi banjir,” kata Ramachandran Srinivasan, peneliti utama senior di Temasek Life Sciences Laboratory.

Tanaman padi umumnya dibudidayakan di lahan yang tergenang air karena metode tersebut efektif menekan pertumbuhan gulma.

Namun, genangan air menciptakan kondisi minim oksigen yang memicu aktivitas mikroba untuk mengurai bahan organik dan menghasilkan gas metana.

Tanaman padi kemudian berfungsi seperti cerobong alami yang membantu metana bergerak dari tanah tergenang melalui akar hingga terlepas ke atmosfer.

Secara global, sawah tergenang menyumbang sekitar 12 persen emisi metana dunia atau sekitar 60 juta ton per tahun.

Metana diketahui memiliki kekuatan 27 hingga 30 kali lebih besar dibanding karbon dioksida sebagai gas rumah kaca penyebab pemanasan global.

Riset mengenai budidaya padi rendah emisi metana sebenarnya telah dimulai sejak beberapa tahun lalu di laboratorium di Singapura.

Pada tahun lalu, Proyek Dekarbonisasi Beras meraih penghargaan lingkungan dalam ajang Giving to Amplify Earth Action Awards yang digelar oleh World Economic Forum.

"Ada sejumlah ilmu pengetahuan yang telah dikembangkan yang dapat dibagikan kepada peneliti lain sehingga dapat ditingkatkan," kata CEO Temasek Life Sciences Laboratory, Peter Chia.

Ia menambahkan bahwa pihaknya telah membangun jaringan mitra yang kuat dan berpengalaman dalam menangani tantangan lintas negara, sekaligus membuktikan bahwa riset ilmiah yang serius mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Saat ini, musim kedua uji coba berskala besar sedang berlangsung dan laporan akhirnya ditargetkan rampung pada akhir tahun ini.

Tahap berikutnya berupa perluasan penerapan di berbagai negara Asia dijadwalkan dimulai tahun depan.

Mitra proyek menargetkan produksi 50.000 ton beras rendah metana dalam dua tahun mendatang.

“Kami memiliki kehadiran operasional yang sangat kuat di Indonesia. Kami sudah bekerja sama dengan banyak jaringan petani di seluruh Jawa,” ujar Sheetal Sharma, kepala inovasi dan proyek karbon di perusahaan agritech Rize.

Pendanaan proyek sebagian besar berasal dari Philanthropy Asia Alliance, sebuah inisiatif berbasis di Singapura di bawah Temasek Trust yang mendukung proyek lingkungan, kesehatan, dan sosial di Asia.

Hingga saat ini, aliansi tersebut telah menghimpun dana filantropi sekitar US$5 juta dengan dukungan jaringan mitranya.

“Kami ingin memastikan bahwa beras ramah iklim, (yang) kurang merusak lingkungan, pada akhirnya akan benar-benar dibeli di supermarket,” kata CEO Philanthropy Asia Alliance, Shaun Seow.

Dalam jangka panjang, Proyek Dekarbonisasi Beras menargetkan produksi satu juta ton beras berkelanjutan pada 2032.

Para peneliti menilai keberhasilan awal proyek tersebut menjadi bukti bahwa inovasi pertanian dan pengembangan sains dapat membantu menurunkan emisi tanpa mengurangi produksi pangan.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.