Detik-Detik Sebelum Tabrakan KA Argo Bromo dan KRL Terungkap, KNKT Beberkan Instruksi dari Pusdal

AKURAT BANTEN - Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT mengungkap fakta baru terkait rangkaian komunikasi yang diterima masinis KA Argo Bromo Anggrek sebelum tabrakan dengan KRL di wilayah Stasiun Bekasi Timur terjadi.
Insiden itu bermula ketika sebuah taksi listrik Green SM tertabrak KRL jurusan Jakarta di perlintasan rel dekat Stasiun Bekasi Timur.
Peristiwa tersebut memicu kerumunan warga di sekitar lokasi kejadian dan berdampak pada perjalanan kereta lain di jalur yang sama.
Akibat situasi itu, satu rangkaian KRL tujuan Cikarang berhenti di Stasiun Bekasi Timur.
Tidak lama berselang, KA Argo Bromo Anggrek yang melintas dari arah belakang akhirnya menabrak KRL tersebut.
Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono menjelaskan bahwa pusat pengendali perjalanan kereta atau Pusdal sebenarnya telah memberikan instruksi kepada masinis sesaat sebelum kecelakaan terjadi.
Baca Juga: Permintaan Data Perizinan Reklame Ditolak, Reklame Bando di Kota Serang Masih Menjamur
Namun, arahan yang diberikan hanya berupa pengurangan kecepatan serta memperbanyak penggunaan Semboyan 35.
Semboyan 35 sendiri merupakan tanda peringatan suara berupa bunyi suling atau klakson panjang yang dibunyikan oleh masinis lokomotif sebagai sinyal kewaspadaan.
Menurut Soerjanto, masinis KA Argo Bromo Anggrek langsung merespons informasi tersebut dengan melakukan pengereman setelah menerima kabar adanya insiden di depan jalur kereta.
Baca Juga: Kasus Ijazah Jokowi Berbuntut Panjang, Kubu Dokter Tifa Bongkar Misteri 3 Sprindik Polda Metro Jaya!
“Tadi saya sampaikan bahwa dari jarak 1.300 meter setelah menerima berita bahwa di depan ada temperan, masinis sudah melakukan pengereman,” ujar Soerjanto.
Ia menjelaskan, kondisi di pusat pengendali saat itu belum sepenuhnya diketahui secara rinci karena komunikasi yang diterima hanya melalui sambungan suara tanpa dukungan visual langsung dari lokasi kejadian.
Akibat keterbatasan informasi tersebut, petugas pengendali operasi hanya bisa memberikan instruksi dasar agar kereta mengurangi laju perjalanan dan terus membunyikan semboyan peringatan.
“Cuma karena situasinya kan di Pusdal itu tidak tahu yang sebenarnya karena komunikasinya kan lewat suara saja, lewat voice,” kata Soerjanto.
Ia menambahkan, pengendali operasi di Manggarai tidak memperoleh gambaran nyata terkait situasi di lapangan ketika kecelakaan awal antara KRL dan taksi listrik terjadi.
Karena itulah, arahan penghentian total perjalanan kereta belum sempat diberikan kepada masinis KA Argo Bromo Anggrek.
“Jadi kondisi lapangannya seperti apa dia enggak tahu, cuma memberi tahu bahwa ada temperan di depan, rem-rem dikit terus kemudian banyak-banyak melakukan semboyan 35,” ujarnya.
Dalam keterangannya, KNKT juga memastikan bahwa masinis telah menjalankan instruksi sesuai arahan dari pusat pengendali operasi.
“Nah itu aja yang disampaikan, sehingga masinis sudah melakukan merespons apa yang disampaikan oleh Pusdal dari pengendali operasi di Manggarai,” kata Soerjanto.
Baca Juga: AI Indonesia Mulai Tancap Gas, Pemerintah Gandeng Industri Semikonduktor Dunia
Lebih lanjut, KNKT turut menjelaskan alasan mengapa pusat pengendali tidak langsung memerintahkan penghentian penuh perjalanan kereta sesaat setelah menerima laporan awal insiden.
Menurut Soerjanto, petugas di Pusdal saat itu masih beranggapan kondisi di lapangan belum berada dalam kategori yang memerlukan penghentian total laju kereta.
Mereka hanya meminta masinis meningkatkan kewaspadaan sambil mengurangi kecepatan perjalanan.
“Ya karena memang di Pusdal kan temperan seperti apa, mereka belum tahu kondisi lapangannya seperti apa, maka dia positive thinking saja bahwa kurangi kecepatan lah intinya untuk berhati-hati dan banyak-banyak memberikan semboyan 35 atau memberi klakson,” ujarnya.
Peristiwa tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur kini masih dalam proses investigasi lanjutan oleh KNKT guna mengetahui secara menyeluruh penyebab dan faktor yang memicu kecelakaan tersebut.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Dadan Hindayana Jadi Tersangka, Tiyo Ardianto: Dari Awal Saya Bilang MBG Itu 'Maling Berkedok Gizi'
- 2GEMPAR! Mantan Ketua BEM UGM Bongkar Rahasia 'Lembaga Berbintang' yang Coba Menyuapnya
- 3Sempat Dibela Dadan Hindayana, 41 Dapur MBG Anak Pejabat DPRD Sulsel Tuai Sorotan, Aktivis Desak Audit Menyeluruh
- 4Demo Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, BEM UI Bawa 5 Tuntutan Keras untuk Pemerintah
- 5Mahfud MD Heran Nanik S Deyang Tak Tersentuh Pemeriksaan Kasus MBG, Desak Kejagung Buka Alasannya
- 6Iran Protes Keras ke FIFA Jelang Piala Dunia 2026, Hanya Boleh Masuk Amerika Serikat Saat Hari Pertandingan
- 7Prediksi Portugal vs Chile: Ronaldo dan Generasi Emas Portugal Siap Kirim Peringatan ke Rival Piala Dunia
- 8Cedera Hancurkan Mimpi Wesley di Piala Dunia 2026, Ederson Resmi Dipanggil Brasil
- 9Jerman Peringatkan Rusia Bisa Ancam NATO pada 2029, Eropa Mulai Siaga Perang
- 10Tiga Kartu Merah dan Dua Gol, Meksiko Buka Piala Dunia 2026 dengan Kemenangan Meyakinkan








