Banten

Heboh Peneliti Indonesia Diduga Pakai Identitas Palsu di Forum Ilmiah Internasional

Viona Sebastian Nolani | 29 Mei 2026, 09:47 WIB
Heboh Peneliti Indonesia Diduga Pakai Identitas Palsu di Forum Ilmiah Internasional
Viral dugaan penelitian palsu oleh peneliti Indonesia pada konferensi ilmiah ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark. (Instagram/@wodd)

AKURAT BANTEN - Dugaan skandal riset palsu yang menyeret peserta asal Indonesia mencuri perhatian dalam konferensi ilmiah internasional di Denmark. 

Kasus ini mencuat setelah ditemukan indikasi penggunaan identitas berbeda hingga dugaan manipulasi penelitian berbasis kecerdasan buatan (AI).

Peristiwa tersebut terjadi dalam ajang International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) yang berlangsung di Kopenhagen pada 17–21 Mei 2026.

Konferensi ilmiah itu diikuti lebih dari 1.300 peserta dari 86 negara.

Baca Juga: Sapi Kurban Prabowo Beli Pakai APBN dan Menkeu Tidak Tahu, Publik Pertanyakan Transparansi Penggunaan Uang Negara

Bukannya membawa citra positif bagi Indonesia di forum akademik dunia, beberapa peserta asal Indonesia justru menjadi perhatian karena diduga menggunakan identitas palsu dan mempresentasikan penelitian yang diragukan keabsahannya.

Kasus ini pertama kali diungkap oleh epidemiolog Indonesia yang sedang menjalani studi doktoral di Universitas Oxford, Wa Ode Dwi Daningrat.

Dwi mengaku mulai merasa janggal ketika melihat salah satu pemateri menggunakan afiliasi Indonesia, tetapi namanya tidak dikenal dalam jaringan peneliti pneumonia.

Menurutnya, komunitas peneliti pneumonia di Indonesia tergolong kecil sehingga para penelitinya umumnya saling mengenal melalui publikasi maupun konferensi internasional.

Baca Juga: Bahasa Prancis Mau Masuk Semua Sekolah? Instruksi Prabowo Picu Kritik dan Dinilai Bukan Prioritas

"Kalau kita baca paper tentang pneumonia di Indonesia orangnya itu-itu aja. Makanya kami teliti sampai ketahuan kayak gini karena dia afiliasinya Indonesia," tutur Dwi dalam video di akun Instagram pribadinya.

Kecurigaan semakin menguat setelah peserta tersebut disebut memperkenalkan diri dengan nama berbeda kepada sejumlah orang selama konferensi berlangsung.

Dalam salah satu sesi presentasi, perempuan itu tampil memakai nama “Riana Dwi Kurniawati” dengan penelitian berjudul Urban Heat Islands dan Aging Lung Vulnerability: Mapping Pneumococcal Pneumonia Risk and Climate-Expose Older Adult Hotspots in LMIC Megacities.

Namun sekitar 10 menit kemudian, kata Dwi, perempuan yang sama kembali hadir di sesi berbeda dengan jilbab merah dan menggunakan identitas “Dimas Fajar Prasetyo”.

Pada presentasi kedua, ia membahas riset lain berjudul AI-Fused Satellite Climate, Urban Heat and PCV Uptake to Prioritize Pneumococcal Booster Strategies for Frail Older Adults in LMIC Megacities.

Dwi juga menemukan sejumlah kejanggalan dalam isi penelitian yang dipresentasikan.

Salah satu hal yang dianggap paling mencurigakan ialah klaim pengumpulan data primer di kawasan Pegunungan Andes, Peru, tanpa melibatkan kolaborator lokal.

"Mereka ngumpulin data di Andes dan enggak ada sama sekali kolaborator lokal di negara itu. Mustahil untuk melakukan penelitian kayak gitu di negara orang," ucapnya.

Selain dugaan pemalsuan identitas, penelitian tersebut juga diduga memanfaatkan AI untuk menghasilkan isi tulisan, data, hingga ilustrasi ilmiah.

Modus itu diduga dilakukan demi mendapatkan hibah perjalanan atau bantuan biaya konferensi sehingga pelaku bisa bepergian ke luar negeri secara gratis.

Dalam laman resmi ISPPD, nama Prihantini tercatat mengirimkan lima judul penelitian bersama dua nama lain, yaitu Rifaldy Fajar dan Rini Winarti.

Afiliasi yang dicantumkan meliputi AI-Biomedicine Research Group, IMCDS Biomed Research Foundation Jakarta, dan Departemen Biologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Nama Prihantini dan Rifaldy juga tercatat sebagai alumni UNY.

Dwi mengaku prihatin karena kasus tersebut dinilai berdampak terhadap reputasi peneliti dan pelajar Indonesia di luar negeri.

Menurutnya, peristiwa ini berpotensi memunculkan stigma negatif terhadap peneliti Indonesia di forum internasional.

Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menyebut Prihantini merupakan alumni penerima beasiswa LPDP yang telah menyelesaikan studi pada 2022.

“Berdasarkan pengecekan data awal internal, yang bersangkutan atas nama Prihantini tercatat sebagai alumni penerima beasiswa LPDP yang telah menyelesaikan studinya pada tahun 2022,” tutur Kepala Divisi Hukum dan Komunikasi LPDP M Lukmanul Hakim.

LPDP menegaskan bahwa hasil pendalaman kasus tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan langkah selanjutnya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.