Banten

Tak Banyak yang Tahu, PUMMA Jadi Senjata Baru BRIN untuk Deteksi Tsunami di Indonesia

Viona Sebastian Nolani | 1 Juni 2026, 12:36 WIB
Tak Banyak yang Tahu, PUMMA Jadi Senjata Baru BRIN untuk Deteksi Tsunami di Indonesia
BRIN Kenalkan PUMMA, Alat Pemantau Tsunami Buatan Dalam Negeri. (brin.go.id)

AKURAT BANTEN - Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) yang berada di bawah Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan PUMMA (Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut).

Selama enam tahun terakhir, perangkat ini aktif digunakan untuk memantau kondisi perairan pesisir Indonesia. Secara internasional, alat tersebut dikenal sebagai Inexpensive Device for Sea-Level Measurement (IDSL) dan dirancang untuk mendukung penguatan sistem peringatan dini tsunami di Indonesia.

Pengembangan PUMMA dilatarbelakangi oleh tingginya risiko bencana geologi yang dihadapi Indonesia.

Baca Juga: PKM Universitas Pamulang Serang Dorong Digitalisasi Absensi Guru di SMK Darma Nusantara

Sebagai negara yang berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik, Indonesia memiliki banyak zona pertemuan lempeng tektonik aktif.

Selain itu, sejumlah wilayah pesisir yang berdekatan dengan zona megathrust memiliki potensi gempa bumi besar yang dapat memicu tsunami.

Peneliti Ahli Utama dari Kelompok Riset Volkano Tsunami dan Gelombang Panjang PRKG BRIN, Semeidi Husrin, menjelaskan bahwa fungsi PUMMA tidak hanya untuk mendeteksi tsunami.

Menurutnya, alat ini juga dapat dikombinasikan dengan berbagai upaya mitigasi bencana pesisir yang ramah lingkungan, seperti penanaman vegetasi pantai, pembangunan tanggul alami, serta pemanfaatan material alami lainnya untuk menjaga dinamika kawasan pesisir dan melindungi Pantai Utara Jawa.

Baca Juga: Kebakaran Misterius 51 Kali Gegerkan Sleman, Dugaan Gas Metana Jadi Fokus Penyelidikan Para Ahli

“PUMMA hadir sebagai jawaban atas keterbatasan sistem peringatan dini yang selama ini bertumpu pada sensor seismik.

PUMMA diunggulkan karena sesuai dengan karakteristik tsunami dan kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan,” ujarnya kepada tim humas BRIN, Selasa (26/5).

Semeidi menjelaskan bahwa istilah “murah” pada nama PUMMA tidak hanya merujuk pada biaya pembuatannya yang ekonomis.

Nama tersebut juga mencerminkan konsep efisiensi tanpa mengurangi kualitas dan keandalan alat.

PUMMA mampu memantau anomali permukaan laut secara langsung dengan pembaruan data setiap 15 detik atau mendekati waktu nyata (near-real time).

“Ada usulan untuk mengganti kata 'murah' menjadi 'multiguna', karena memang fungsi alat ini tidak terbatas hanya untuk mendeteksi tsunami tetapi juga untuk hal lain, seperti mitigasi bencana pesisir dan pengelolaan sumber daya di wilayah pesisir,” paparnya.

Lebih lanjut, Semeidi menyebut bahwa pengembangan PUMMA disesuaikan dengan karakteristik kebencanaan Indonesia.

Hal ini karena sebagian besar tsunami yang terjadi di Indonesia bersifat nearfield dan atipikal, sehingga membutuhkan metode deteksi yang berbeda dibandingkan sistem peringatan dini konvensional.

“Salah satu keunggulan PUMMA adalah penempatannya yang memanfaatkan pulau-pulau kecil sebagai natural offshore buoy atau pelampung alami di tengah laut. Dengan menempatkan sensor di pulau terdekat dari sumber bencana, seperti kompleks Gunung api Anak Krakatau, informasi mengenai kenaikan air laut yang tidak wajar dapat dikirimkan ke server dalam waktu kurang dari 5 menit,” ia menjelaskan.

Pada periode 2020 hingga 2021, sebanyak delapan unit IDSL telah dipasang di sejumlah wilayah Indonesia.

Lokasinya tersebar di Lampung, Banten, Jawa Barat sebanyak dua unit, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatra Barat sebanyak dua unit, serta Jakarta.

“Kemampuan PUMMA sudah teruji dalam situasi nyata. Ketika tsunami akibat letusan Gunung api Hunga Tonga menghantam perairan Indonesia pada Januari 2022, PUMMA berhasil mendeteksi gelombang tersebut dan mengirimkan sekitar 36 notifikasi peringatan kepada pihak berwenang,” Semeidi mengatakan.

Ia juga mengungkapkan bahwa selama beroperasi di berbagai kawasan pesisir, tidak ada satu pun perangkat PUMMA yang mengalami tindakan vandalisme. Keberhasilan tersebut dinilai tidak lepas dari program sosialisasi yang dilakukan kepada masyarakat sekitar.

Selain mudah dipahami dan dioperasikan, keberadaan alat ini turut menumbuhkan rasa memiliki di kalangan warga sehingga mereka ikut menjaga perangkat yang berperan dalam mendukung keselamatan masyarakat.

“Kini, PUMMA tidak hanya dikembangkan untuk deteksi tsunami. Alat ini mulai dimanfaatkan untuk memantau fenomena banjir rob. Salah satunya di kawasan Muara Gembong, Bekasi, hal ini ditujukan agar pembangunan infrastruktur perlindungan pantai di Pantura Jawa bisa lebih terarah,” ia menambahkan.

Meski demikian, pengembangan sistem peringatan dini tsunami di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan.

Semeidi menjelaskan bahwa potensi terjadinya volcano tsunami akibat aktivitas gunung api di Indonesia masih cukup besar.

Karena itu, dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak untuk memperluas pemasangan sistem pemantauan gunung api dan jaringan peringatan dini di berbagai daerah.

Ia berharap cakupan jaringan pemantauan dapat diperluas hingga ke kawasan Indonesia Timur yang saat ini masih memiliki keterbatasan fasilitas pemantauan.

Menurutnya, perluasan jaringan tersebut menjadi langkah penting untuk memastikan perlindungan yang lebih merata bagi seluruh masyarakat pesisir di Indonesia.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.