Teknologi Baru Bongkar Praktik Susu Palsu, Kandungan Berbahaya Kini Mudah Dideteksi

AKURAT BANTEN - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) tengah mengembangkan metode cepat untuk mendeteksi pemalsuan susu dengan memadukan teknik elektrokimia dan kemometrik.
Teknologi ini dirancang untuk mengenali keberadaan zat pencemar seperti melamin dan urea yang sering digunakan dalam praktik pemalsuan produk susu.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN, Budi Riza Putra, menjelaskan bahwa susu menjadi salah satu produk pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat, tetapi memiliki risiko tinggi terhadap praktik pemalsuan.
“Melamin dan urea sering digunakan untuk meningkatkan kadar nitrogen sehingga produk tampak memiliki kualitas protein yang lebih baik daripada kondisi sebenarnya. Pengembangan metode deteksi yang cepat dan akurat menjadi langkah penting untuk memastikan keamanan produk susu yang beredar di masyarakat” ujarnya.
Baca Juga: Indonesia Siap Masuk Era Nuklir? BRIN Dorong PLTN Jadi Penopang Energi Masa Depan
Budi mengatakan, kedua bahan tersebut dapat memberikan dampak serius bagi kesehatan.
Melamin diketahui sebagai senyawa beracun yang bisa memicu batu ginjal, gagal ginjal akut, bahkan kematian, khususnya pada bayi dan anak-anak.
Sementara konsumsi urea berlebihan dapat menyebabkan gangguan metabolisme, masalah pencernaan, hingga risiko kesehatan jangka panjang lainnya.
Dalam pengembangannya, metode ini memanfaatkan kombinasi teknik elektrokimia dan pendekatan kemometrik.
Baca Juga: Resmi Masuk Istana, Said Iqbal Dapat Jabatan Setingkat Menteri dari Prabowo!
Budi menerangkan bahwa teknik elektrokimia dipakai untuk menangkap sinyal khas dari sampel susu.
Kandungan asam amino dalam susu akan mengalami proses oksidasi dan reduksi yang menghasilkan pola pengukuran elektrokimia tertentu.
“Ketika susu dicampur dengan melamin atau urea, pola sinyal yang dihasilkan dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan kadar atau tingkat pemalsuan. Namun, pola sinyal tersebut tidak dapat dibedakan secara visual dan memerlukan analisis lebih lanjut untuk mengidentifikasi perbedaannya. Oleh karena itu, digunakanlah pendekatan kemometrik untuk mengolah data hasil pengukuran elektrokimia,” ia menjelaskan.
Pada penelitian ini, Budi memanfaatkan sejumlah metode analisis statistik seperti Principal Component Analysis (PCA), Partial Least Squares Regression (PLSR), dan Hierarchical Cluster Analysis (HCA).
“PCA digunakan untuk mereduksi dimensi data dan memvisualisasikan perbedaan pola antara susu murni dan susu yang telah dicampur melamin atau urea. Sementara itu, PLSR digunakan untuk membangun model prediksi kadar bahan pencemar dengan tingkat akurasi yang tinggi. Adapun HCA berfungsi mengelompokkan sampel berdasarkan kemiripan respons elektrokimianya” ia memaparkan.
Selain menawarkan tingkat akurasi yang tinggi, metode yang dikembangkan ini juga dinilai berpotensi menjadi sistem deteksi lapangan yang praktis.
Proses pengukuran dilakukan memakai potentiostat portabel yang terhubung dengan elektroda portabel sehingga tidak membutuhkan fasilitas laboratorium yang rumit.
“Ke depan, metode ini sangat berpeluang dikembangkan menjadi alat deteksi cepat yang dapat digunakan secara in-situ. Penggunaannya memungkinkan dilakukan langsung di sentra pengumpulan susu atau koperasi peternak untuk melakukan skrining mandiri terhadap kualitas susu sebelum diproses lebih lanjut,” ia mengungkapkan.
Budi berharap teknologi deteksi cepat tersebut dapat memperkuat pengawasan mutu pangan sekaligus melindungi masyarakat dari risiko kesehatan akibat mengonsumsi susu palsu.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Geger! Survei SMRC Ungkap Skor Kepemimpinan Tokoh Nasional, Mahfud MD di Puncak, Gibran Terbawah
- 2Tiga Hari Lagi! Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026, Ini Daftar Produk yang Harus Punya Sertifikat
- 3Sengketa Honor LKM Ciomas: Penagihan Kredit Tembus Rp856 Juta, Upah Tim Likuidasi Malah Menggantung
- 4Adik Eks Kepala BNPB Diduga Gunakan Dana Bencana untuk Beli Saham, KPK Bongkar Kasusnya
- 5UMKM Wajib Tahu! Cara Daftar Sertifikat Halal Online, Ada 1,35 Juta Kuota Gratis pada 2026
- 6Real Madrid Menang Dramatis di Markas Roma, Mourinho Malah Tak Mau Selebrasi: Alasannya Bikin Haru!
- 7Mbappe Ukir Sejarah saat Real Madrid Comeback 4-3! Rekor Messi Resmi Terlewati, Golnya Tambah Catatan Gila
- 8Haaland Langgar Aturan Aneh Maresca di Liga Champions, Tapi Justru Jadi Pahlawan Man City di Tengah Kekalahan
- 9Yarmolyuk Menanduk Jacquet di Kotak Penalti, Kok Liverpool Malah Tak Dapat Penalti? Ini Aturannya!
- 10Chelsea Ketar-ketir Tanpa Reece James, 3 Gelandang Ini Masuk Radar Xabi Alonso untuk Januari 2027








