Banten

Rupiah Menguat ke Rp17.905 per Dolar AS Usai BI Naikkan Suku Bunga ke 5,50 Persen, Efektif Redam Tekanan?

Viona Sebastian Nolani | 10 Juni 2026, 12:14 WIB
Rupiah Menguat ke Rp17.905 per Dolar AS Usai BI Naikkan Suku Bunga ke 5,50 Persen, Efektif Redam Tekanan?
Rupiah menguat ke Rp17.905 per dolar AS setelah Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,50 persen. (iStock)

AKURAT BANTEN - Nilai tukar Rupiah menunjukkan penguatan signifikan terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuan.

Pada perdagangan Rabu, 10 Juni 2026, Rupiah berada di level Rp17.905 per dolar AS, mencerminkan respons positif pasar terhadap langkah moneter yang ditempuh bank sentral.

Penguatan tersebut terjadi setelah BI menaikkan BI-Rate menjadi 5,50 persen melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan yang dipercepat pada Selasa, 9 Juni 2026.

Kebijakan itu mendapat sambutan positif dari pelaku pasar global dan dinilai mampu memperkuat stabilitas mata uang domestik di tengah tekanan eksternal.

Baca Juga: Harga BBM Pertamina Naik Hari Ini, Pertamax Tembus Rp16.250 per Liter

Berdasarkan data Kurs Transaksi Bank Indonesia pada Rabu (10/6/2026), Kurs Jual tercatat sebesar Rp18.231,71 per dolar AS, sementara Kurs Beli berada di level Rp18.050,29 per dolar AS.

Dibandingkan posisi sebelumnya di Rp18.058 per dolar AS, Rupiah menguat sekitar 153–154 poin atau setara 0,85 persen.

Keputusan kenaikan suku bunga tersebut dikonfirmasi langsung oleh Bank Indonesia melalui siaran pers resmi.

Langkah ini sekaligus menegaskan komitmen otoritas moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar Rupiah.

Baca Juga: Dilantik Prabowo, Said Iqbal Siap Bongkar Masalah Buruh dan Ketimpangan Ekonomi

“Rapat Dewan Gubernur memutuskan untuk kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,50 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,25 persen,” kata Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.

Perry menjelaskan bahwa kenaikan BI-Rate dilakukan untuk meredam tekanan terhadap Rupiah yang dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

Menurutnya, pelemahan nilai tukar yang terjadi sebelumnya telah melampaui perkiraan awal Bank Indonesia.

“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia ini, 9 Juni 2026, memutuskan untuk kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen,” ujarnya dalam pernyataan tertulisnya pada hari Selasa tersebut.

Baca Juga: Regulasi AI Indonesia Dinilai Mendesak, Terungkap Ada Risiko Besar Jika Terlambat

Dengan tambahan kenaikan terbaru ini, total penyesuaian suku bunga acuan BI sejak Mei 2026 telah mencapai 75 basis poin.

Sebelumnya, BI menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada RDG Bulanan 19–20 Mei 2026, kemudian kembali menaikkannya 25 basis poin dalam RDG Mingguan pada 9 Juni 2026.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi besar Bank Indonesia yang mencakup lima langkah kebijakan moneter dan implementasi empat paket operasi moneter.

Upaya ini diarahkan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar, menjaga likuiditas pasar, serta meningkatkan ketahanan sektor keuangan nasional.

Baca Juga: Indonesia-Rusia Perkuat Konektivitas Maritim, PT PAL Ambil Peran Penting

Sebelum menguat pada perdagangan hari ini, Rupiah sebenarnya telah menunjukkan tren positif sehari sebelumnya.

Pada Selasa, 9 Juni 2026, mata uang Garuda ditutup menguat 170 poin atau 0,94 persen ke posisi Rp18.000 per dolar AS.

Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI mencatat Rupiah berada di level Rp18.033 per dolar AS.

Secara kinerja, Rupiah saat ini membukukan penguatan bulanan sebesar 2,90 persen dan tahunan 10,30 persen.

Baca Juga: Kebijakan Ekspor Indonesia Bikin Harga Batu Bara Dunia Melambung, Ini Penyebabnya

Namun capaian tersebut datang setelah mata uang Indonesia sempat mengalami tekanan berat dan menyentuh level terlemah sepanjang sejarah pada Mei 2026, yakni Rp17.925 per dolar AS pada sesi I pukul 12.00 WIB.

Data pasar spot hingga pukul 12.00 WIB pada Rabu (10/6/2026) menunjukkan Rupiah masih bergerak di zona positif.

Meski demikian, untuk sisa perdagangan hari ini, pergerakan mata uang domestik diperkirakan berada di rentang Rp18.050 hingga Rp18.100 per dolar AS dengan potensi fluktuasi yang cenderung melemah.

Dalam jangka pendek, langkah intervensi agresif yang dilakukan Bank Indonesia diperkirakan mampu menjaga stabilitas Rupiah.

Sejumlah proyeksi memperkirakan nilai tukar mata uang Indonesia dapat bertahan di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.200 per dolar AS hingga akhir 2026, seiring berlanjutnya kebijakan stabilisasi yang diterapkan bank sentral.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.