Banten

Blokade Selat Hormuz Ganggu Pasokan Minyak Dunia, Shell Prediksi Pemulihan Butuh Setahun

Viona Sebastian Nolani | 12 Juni 2026, 14:47 WIB
Blokade Selat Hormuz Ganggu Pasokan Minyak Dunia, Shell Prediksi Pemulihan Butuh Setahun
Ilustrasi kapal melintasi Selat Hormuz. (Flickr/Michael Gaylard)

AKURAT BANTEN - Penutupan Selat Hormuz memicu guncangan besar pada sektor energi dunia dan menciptakan gangguan pasokan yang disebut sebagai kondisi "belum pernah terjadi sebelumnya", menurut CEO perusahaan energi asal Inggris, Shell, pada Rabu (11/6/2026).

Dalam forum para pemimpin bisnis global yang digelar oleh Wall Street Journal, Wael Sawan mengungkapkan bahwa lebih dari 10 persen pasokan minyak dunia telah hilang dari pasar sejak konflik di Timur Tengah pecah.

Penutupan efektif Selat Hormuz sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari telah menghambat sekitar 20 persen distribusi minyak global.

Kondisi tersebut memicu ketidakstabilan pasar energi internasional dan meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi dunia.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Ungkap Target Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2027 Capai 6,5 Persen

Ketegangan juga terus meningkat setelah Iran dan AS kembali melancarkan serangan balasan dalam beberapa hari terakhir.

Situasi ini semakin mengancam keberlangsungan gencatan senjata yang telah diberlakukan sejak April lalu.

Perkembangan tersebut memunculkan keraguan terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebut proses negosiasi menuju penyelesaian permanen konflik berada di "tahap akhir".

Sawan menilai bahwa sekalipun perang dapat dihentikan dalam waktu dekat, proses pemulihan dan penyeimbangan kembali rantai pasok energi global tidak akan berlangsung cepat. Menurutnya, proses tersebut dapat memerlukan waktu hingga satu tahun atau bahkan lebih lama.

Baca Juga: TNI AL Gagalkan Penyelundupan Narkoba dari Malaysia di Karimun, Sita 1 Kg Sabu dan 582 Ekstasi

Di sisi lain, lonjakan harga minyak memang memberikan dampak positif terhadap kinerja keuangan Shell pada kuartal pertama tahun ini.

Namun, perusahaan juga mengakui bahwa konflik kawasan Timur Tengah telah memberikan tekanan signifikan terhadap sektor produksi gas mereka.

Salah satu dampak terbesar terjadi pada fasilitas LNG Ras Laffan di Qatar yang merupakan kompleks LNG terbesar di dunia.

Infrastruktur tersebut dilaporkan mengalami kerusakan serius akibat serangan yang terjadi di wilayah tersebut.

"Kami bekerja maksimal dalam hal perbaikan. Kami sudah membersihkan semua puing-puing," kata Sawan.

"Kami berharap menjelang akhir kuartal pertama tahun depan, fasilitas ini dapat kembali beroperasi," tambahnya.

Menurut Sawan, dampak krisis energi global paling terasa di kawasan Asia.

Sejumlah negara seperti India, Thailand, dan Vietnam terpaksa memberlakukan kebijakan penjatahan bahan bakar untuk menjaga ketersediaan energi domestik.

Sementara itu, Pakistan dan Filipina mengambil langkah penghematan energi dengan menerapkan sistem kerja empat hari dalam sepekan sebagai respons terhadap tekanan pasokan dan tingginya harga energi di pasar internasional.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.