Banten

Kesepakatan Damai AS-Iran Bawa Kabar Baik untuk Indonesia, Ini Efeknya bagi Rupiah dan Harga Minyak

Viona Sebastian Nolani | 19 Juni 2026, 13:07 WIB
Kesepakatan Damai AS-Iran Bawa Kabar Baik untuk Indonesia, Ini Efeknya bagi Rupiah dan Harga Minyak
Presiden AS Donald Trump. (flickr/Gage Skidmore)

AKURAT BANTEN - Anggota Komisi I DPR RI, Nurul Arifin, menilai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang bertujuan meredakan ketegangan di Timur Tengah dapat memberikan efek positif bagi perekonomian Indonesia.

Menurutnya, stabilitas di kawasan tersebut memiliki pengaruh besar terhadap arus perdagangan internasional, harga energi global, hingga pergerakan nilai tukar rupiah.

“Indonesia jelas akan mendapatkan dampak positif. Aktivitas impor dan ekspor yang menjadi salah satu fondasi ekonomi nasional dapat kembali berjalan lebih lancar,” ujar Nurul Arifin.

Nurul menjelaskan bahwa meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi menciptakan kondisi ekonomi global yang lebih stabil setelah berbulan-bulan ketegangan di kawasan Teluk memicu ketidakpastian di pasar dunia.

Baca Juga: AIIB Kucurkan Dana US$17 Miliar untuk Indonesia, Menkeu Ungkap Kabar Besar dari Beijing

Salah satu dampak penting yang dapat terjadi adalah normalisasi kembali aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.

Politisi Fraksi Partai Golkar tersebut menilai kelancaran distribusi energi melalui Selat Hormuz akan membantu menjaga stabilitas harga minyak dunia.

Selama ini, fluktuasi harga minyak menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi ekonomi global.

“Dengan ditandatanganinya MoU ini, paling tidak Selat Hormuz dapat dibuka kembali. Ini tentu positif bagi iklim politik dan ekonomi global karena distribusi energi dunia menjadi lebih lancar,” katanya.

Baca Juga: Drone Ukraina Hantam Kilang Minyak Dekat Kremlin, Akankah Putin Balas dengan Eskalasi Besar?

Lebih lanjut, Nurul menyebut stabilitas di kawasan Timur Tengah juga dapat memberikan dampak positif terhadap pergerakan mata uang global.

Kondisi yang lebih kondusif dinilai mampu menjaga kestabilan dolar AS sekaligus membuka peluang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Kalau situasi di sana stabil, harga minyak berpotensi turun, nilai tukar dolar lebih stabil, dan rupiah juga bisa semakin menguat. Jadi dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara yang berkonflik, tetapi juga negara lain termasuk Indonesia,” jelasnya.

Menurut Nurul, membaiknya perekonomian global akan membantu mengurangi berbagai tekanan ekonomi yang selama ini dirasakan banyak negara.

Ia menegaskan bahwa kondisi ekonomi yang sehat sering kali menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas sosial dan politik suatu negara.

“Penguatan ekonomi ini juga diharapkan mampu mereduksi berbagai gejolak yang muncul akibat tekanan ekonomi global. Banyak persoalan politik yang berawal dari tekanan ekonomi, sehingga ketika ekonomi membaik maka stabilitas nasional juga akan lebih terjaga,” ungkapnya.

Meski mengapresiasi langkah perdamaian tersebut, Nurul mengingatkan bahwa dokumen yang ditandatangani saat ini masih berupa MoU dengan masa berlaku selama 60 hari.

Karena itu, masih diperlukan pembahasan lanjutan mengenai berbagai isu strategis, termasuk program nuklir Iran serta pencabutan sanksi ekonomi yang selama ini diterapkan oleh Amerika Serikat.

“Masih banyak hal yang harus disepakati. Saya berharap semua pihak dapat mengedepankan kebijaksanaan dan kedewasaan politik agar proses perdamaian ini tidak berhenti pada MoU semata, tetapi berkembang menjadi kesepakatan yang lebih permanen demi stabilitas dunia,” tuturnya.

Ia berharap komunikasi dan dialog antara Amerika Serikat dan Iran dapat terus berjalan secara konstruktif.

Dengan demikian, kepastian bagi perekonomian global dapat semakin terjaga dan memberikan manfaat jangka panjang bagi Indonesia maupun berbagai negara lainnya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.