Banten

Indonesia Tancap Gas AI Tetapi Tantangan Infrastruktur Masih Jadi Penghambat Utama

Viona Sebastian Nolani | 23 Juni 2026, 14:52 WIB
Indonesia Tancap Gas AI Tetapi Tantangan Infrastruktur Masih Jadi Penghambat Utama
Presiden Indonesia Prabowo Subianto. (Instagram/@prabowo)

AKURAT BANTEN - Indonesia tengah merancang langkah besar dengan memasukkan kecerdasan buatan (AI) ke dalam sejumlah program prioritas pemerintah, termasuk program makan gratis senilai 15 miliar dolar AS.

Rencana ini tercantum dalam draf peraturan presiden yang dikutip Reuters dan menjadi bagian dari strategi nasional yang diproyeksikan mampu mendorong pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) hingga 12% pada tahun 2030.

Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, perkembangan AI di Indonesia masih tergolong lambat.

Kedua negara tersebut lebih agresif dalam membangun ekosistem teknologi dan berhasil menarik investasi miliaran dolar dari perusahaan global untuk pengembangan infrastruktur cloud dan layanan AI yang terus meningkat kebutuhannya.

Baca Juga: Rebutan Bintang Inggris Dimulai! Arsenal vs PSG vs MU Incar Morgan Rogers

Dalam draf regulasi tersebut, pemerintah menetapkan peta jalan implementasi AI bagi kementerian dan pemerintah daerah pada periode 2026 hingga 2029.

Fokus utamanya adalah mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan, fasilitasi, dan pemanfaatan AI, khususnya pada program-program prioritas presiden.

Dokumen yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya itu saat ini masih menunggu tanda tangan Presiden Prabowo Subianto.

Pemerintah juga menegaskan bahwa salah satu tujuan utama kebijakan ini adalah meningkatkan daya saing Indonesia dalam pemanfaatan AI di tingkat regional maupun global.

Baca Juga: Messi vs Ronaldo di Piala Dunia 2026: Rekor Pecah, Kontras Karier Kian Terlihat Jelas

Sejumlah perusahaan teknologi besar seperti Meta Platforms, IBM, dan Microsoft dilaporkan ikut berkontribusi dalam penyusunan draf tersebut, menurut Wahyudi Djafar, analis teknologi yang terlibat dalam penyusunan regulasi sekaligus anggota gugus tugas AI pemerintah.

Hingga kini, perusahaan-perusahaan tersebut belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar.

Sebelumnya, pada 2024, Microsoft telah mengumumkan rencana investasi sebesar 1,7 miliar dolar AS untuk memperluas layanan cloud dan pengembangan AI di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

Namun, sejumlah analis menilai Indonesia masih belum siap menjadi pengembang utama teknologi AI.

Keterbatasan infrastruktur, termasuk akses terhadap chip, serta minimnya tenaga kerja dengan keahlian AI menjadi tantangan utama yang harus segera diatasi.

Profesor kecerdasan buatan dari Universitas Bina Nusantara Jakarta, Derwin Suhartono, menilai bahwa Indonesia belum cukup kompetitif dalam persaingan global AI dan berpotensi hanya menjadi konsumen teknologi yang dikembangkan oleh perusahaan asing.

Ia juga menambahkan bahwa meskipun pemerintah memiliki peluang untuk menerapkan AI dalam berbagai program melalui peta jalan yang terstruktur, implementasinya sejauh ini masih dinilai belum maksimal dan “semuanya hanya retorika” di tingkat pelaksanaan.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.