Banten

Dorong Vaksin Anak Tanpa Suntik, Kemenkes Diminta Hadirkan Metode Imunisasi yang Lebih Ramah Anak

Viona Sebastian Nolani | 24 Juni 2026, 14:19 WIB
Dorong Vaksin Anak Tanpa Suntik, Kemenkes Diminta Hadirkan Metode Imunisasi yang Lebih Ramah Anak
Ilustrasi jarum suntik untuk imunisasi. (Pixabay/ Jair Ferreira Belafacce)

AKURAT BANTEN - Pelaksanaan program imunisasi nasional dinilai perlu terus didukung dengan berbagai inovasi agar proses pemberian vaksin menjadi lebih nyaman, terutama bagi anak-anak yang menjadi kelompok penerima vaksin terbesar.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menghadirkan metode vaksinasi yang lebih bersahabat bagi anak dan tidak selalu bergantung pada penggunaan jarum suntik.

Anggota Komisi IX DPR RI Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz mendorong Kementerian Kesehatan untuk memperkuat inovasi dalam sistem pemberian vaksin.

Baca Juga: Komisi Ojol Dipangkas Jadi 8 Persen, Ini Dampak Skema Baru 8:92 untuk Pengemudi Gojek dan Grab

Menurutnya, pengembangan metode baru diperlukan agar kegiatan imunisasi tidak lagi menjadi pengalaman yang menakutkan bagi anak-anak.

Hal itu disampaikan Neng Eem saat mengikuti Rapat Kerja Komisi IX DPR RI bersama Menteri Kesehatan RI di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (23/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa sebagian besar target utama program imunisasi adalah anak-anak dan balita.

Oleh karena itu, faktor kenyamanan serta kondisi psikologis anak perlu menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program kesehatan tersebut.

Baca Juga: Gaji Guru Diusulkan Naik Rp 30 Juta per Bulan, Ini Syarat Agar Bisa Terwujud

“Nah, yang divaksin ini kebanyakan adalah anak-anak. Saya masih ingat dulu waktu SD ketika ada vaksin, anak-anak semua ketakutan. Bahkan ada yang berusaha tidak sekolah kalau tidak dipaksa oleh orang tuanya,” ujar Neng Eem.

Politisi Fraksi PKB tersebut menilai rasa takut yang muncul pada anak-anak bukan disebabkan oleh vaksinasi itu sendiri, melainkan karena proses pemberiannya yang selama ini identik dengan suntikan.

Padahal, perkembangan teknologi kesehatan saat ini membuka peluang untuk menciptakan alternatif metode vaksinasi yang lebih nyaman.

“Divaksin itu sesuatu yang menakutkan bagi anak-anak karena caranya disuntik. Memasukkan cairan ke dalam tubuh itu kan tidak harus dengan suntik,” katanya.

Ia berharap Kementerian Kesehatan dapat berkolaborasi dengan para ahli, peneliti, serta industri farmasi untuk menghadirkan inovasi vaksinasi yang lebih mudah diterima anak-anak.

Salah satunya melalui pengembangan vaksin dalam bentuk cair atau metode lain yang lebih praktis.

“Kenapa tidak bagaimana vaksin itu misalnya dalam bentuk cairan atau metode lain. Sehingga anak-anak tidak takut lagi divaksin, mereka merasa nyaman ketika mendapatkan imunisasi,” ujarnya.

Menurut Neng Eem, inovasi dalam layanan kesehatan menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan keberhasilan program imunisasi nasional.

Sebab, pencapaian cakupan vaksinasi tidak hanya bergantung pada ketersediaan vaksin, tetapi juga pada tingkat penerimaan masyarakat, terutama anak-anak dan orang tua.

Ia menambahkan, kemajuan teknologi kesehatan harus dimanfaatkan secara maksimal untuk menciptakan sistem imunisasi yang lebih efektif, aman, nyaman, dan mudah dijangkau oleh masyarakat.

“Saya kira ini penting untuk dipikirkan oleh Kementerian Kesehatan agar pelayanan imunisasi semakin baik dan semakin ramah bagi anak-anak,” pungkasnya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.