Ekspor Perikanan Indonesia Tembus 6,27 Miliar USD, Terungkap Strategi Hilirisasi dan Tantangannya

AKURAT BANTEN - Berdasarkan data terbaru pada periode 2025-2026, kinerja ekspor produk perikanan Indonesia berhasil mencapai angka 6,27 miliar dolar AS.
Komoditas utama yang mendominasi meliputi udang, tuna, cakalang, cumi, sotong, rajungan, kepiting, hingga rumput laut.
Sektor perikanan budidaya, khususnya rumput laut serta budidaya di wilayah air payau, perlu terus diperkuat sebagai motor utama penggerak ekonomi biru sekaligus menjadi fondasi penting dalam mendukung swasembada pangan nasional.
"Dengan nilai pasar domestik yang juga sangat besar, sektor ini terbukti menjadi salah satu penggerak utama ekonomi yang nyata, baik di tingkat daerah maupun nasional," ujar Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN Yopi.
Baca Juga: BRIN Lakukan Uji Terbang Drone PUNA, Ini Peran Pentingnya untuk Indonesia
Sejalan dengan hal tersebut, Yopi menjelaskan bahwa Kementerian Kelautan dan Perikanan RI menetapkan target produksi perikanan nasional sebesar 24,58 juta ton per tahun.
Kebijakan ini penting untuk dipahami karena berfokus pada penguatan hilirisasi industri serta peningkatan ketahanan protein hewani melalui komoditas unggulan nasional.
"Target berdasarkan kelompok produk utama mencakup rumput laut sebagai prioritas pertama, kemudian perikanan tangkap, serta perikanan budidaya. Sementara itu, untuk kebutuhan industri, pasar global, dan program makan bergizi dalam negeri, KKP RI memfokuskan peningkatan volume dan stabilitas harga pada lima komoditas utama yaitu udang, tilapia, ikan nila salin, lobster, kepiting, serta rumput laut," ungkapnya.
Yopi menegaskan bahwa seluruh target tersebut diarahkan untuk memperkuat proses hilirisasi agar memiliki nilai tambah tinggi.
Baca Juga: Fenomena Judi Online di Indonesia Dinilai Makin Mengkhawatirkan, Ini Sorotan DPR
Secara keseluruhan, selain untuk memenuhi pasar global, target produksi ini juga disiapkan guna menjamin pasokan sekitar 30 juta ton kebutuhan protein ikan dalam negeri sekaligus memperkuat sistem logistik pangan nasional.
"Di balik angka-angka tersebut, kita juga tidak bisa menutup mata terhadap berbagai tantangan nyata di lapangan. Dalam beberapa tahun terakhir, tantangan utama terlihat pada sektor perikanan tangkap. Pemanfaatan teknologi masih belum merata, sebagian besar masih didominasi nelayan kecil dengan alat tangkap tradisional, serta penggunaan GPS dan alat navigasi masih terbatas. Selain itu, kerugian ekonomi akibat penurunan kualitas atau kerusakan hasil tangkapan di kapal juga masih cukup tinggi," jelasnya.
Tantangan di sektor perikanan budidaya, lanjutnya, juga masih cukup besar, mulai dari tingginya biaya operasional, keterbatasan akses modal, hingga minimnya pemanfaatan teknologi dalam proses pembenihan dan pembesaran.
Kondisi ini terutama terjadi pada tambak tradisional yang membuat produktivitas belum optimal.
"Di sisi pengawasan, praktik illegal fishing masih menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan sumber daya perikanan. Sementara itu, tantangan hilirisasi dan logistik juga masih perlu dibenahi, meskipun pemerintah terus mendorong transformasi dari ekspor bahan mentah menuju industri pengolahan bernilai tambah tinggi," paparnya.
Pasar perikanan Indonesia sendiri telah menjangkau 147 negara, dengan tujuan utama seperti AS, China, dan kawasan ASEAN.
Namun demikian, sekitar 60% produk udang masih diekspor dalam bentuk bahan baku beku. Industri hilir juga masih menghadapi kendala seperti tingginya biaya logistik, rantai dingin (cold chain) yang belum optimal, serta dominasi pelaku usaha skala mikro.
"Oleh karena itu Bapak-Ibu sekalian, melalui webinar ini BRIN menegaskan bahwa tantangan hilirisasi mulai dari pengolahan, pemasaran, hingga pemanfaatan teknologi harus menjadi pekerjaan bersama. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga riset, dan pelaku usaha untuk meningkatkan daya saing produk perikanan unggulan," ujar Yopi.
Melalui kegiatan ini, BRIN bersama BRIDA/BAPPERIDA diharapkan dapat mendampingi dinas terkait di berbagai daerah untuk membangun ekosistem inovasi yang terintegrasi.
Tujuannya adalah mempercepat pemanfaatan inovasi guna mendukung sektor perikanan sebagai penyedia utama protein hewani nasional.
"Kita perlu saling berbagi informasi terkait perkembangan teknologi terbaru, sekaligus menjadi penggerak utama ekosistem inovasi daerah dalam membangun apa yang disebut sebagai hub inovasi. Target akhirnya adalah memperkuat hilirisasi inovasi di daerah," tambahnya.
Yopi juga menekankan bahwa BRIDA/BAPPERIDA harus berperan sebagai integrator yang aktif dan responsif.
Lembaga ini bersama dinas terkait menjadi penghubung antara berbagai sumber teknologi.
"Baik dari pusat riset kami, kebijakan kementerian dan lembaga, maupun perguruan tinggi, semuanya harus disambungkan dengan kebutuhan nyata di lapangan seperti UMKM, nelayan, pembudidaya, hingga pelaku pengolahan hasil perikanan," jelasnya.
Menurutnya, pengembangan hub inovasi penting untuk memastikan transfer teknologi, pengelolaan produksi, dan standarisasi mutu dapat diadopsi dengan cepat oleh daerah.
"Sebagai komitmen bersama, BRIN bersama BRIDA/BAPPERIDA dan pemerintah daerah akan fokus memperkuat ekosistem hub inovasi di wilayah strategis berbasis maritim," harapnya.
Pengembangan hub inovasi di sejumlah wilayah percontohan diharapkan dapat menjadi model keberhasilan transformasi sektor perikanan, baik untuk pasar lokal, domestik, maupun global.
"Webinar ini bukan hanya diskusi ilmiah, tetapi juga forum teknis yang membahas implementasi langsung. Kami berharap hasil riset, kebijakan, inovasi, dan praktik baik dapat disebarluaskan dan diadopsi oleh daerah," ungkap Yopi.
Ada tiga harapan utama dari kegiatan ini, khususnya bagi BRIDA/BAPPERIDA di seluruh daerah.
Pertama, meningkatkan pemahaman terhadap kebijakan sektor perikanan yang sangat penting dalam pengembangan daerah.
Kedua, mengintegrasikan hasil pemikiran tersebut ke dalam dokumen perencanaan pembangunan berkelanjutan, termasuk Rencana Induk Pemajuan IPTEK yang didampingi BRIN.
"Kami mendorong daerah dengan potensi maritim agar memastikan komoditas unggulan perikanan mendapatkan intervensi teknologi yang tepat. Ketiga, merumuskan kebijakan yang konkret dengan strategi program yang benar-benar berdampak," tegasnya.
BRIN juga mendorong setiap daerah untuk menyusun langkah-langkah strategis serta rekomendasi kebijakan teknis yang mendukung implementasi program.
"Tujuannya agar UMKM dan pelaku perikanan bisa naik kelas melalui teknologi, efisiensi rantai pasok, dan peningkatan manajemen," tambahnya.
Sementara itu, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Sri Nuryanti, menyampaikan bahwa BRIN berperan sebagai penyedia teknologi, pendamping hilirisasi, akselerator inovasi, penghubung akademisi dan industri, serta mitra pemerintah daerah.
"BRIN memiliki berbagai teknologi tepat guna yang dapat dimanfaatkan, serta sejumlah kajian dan inovasi. Contohnya inovasi seperti pindang patin untuk kebutuhan ekspor, serta berbagai fasilitas pendukung ekspor produk olahan perikanan maupun sektor lainnya," jelasnya.
Ia menambahkan, BRIN juga mengembangkan hapa semi kerucut untuk pemeliharaan juvenil biota laut seperti teripang pasir, yang menggantikan bentuk hapa konvensional berbentuk kubus atau persegi panjang.
"Keunggulannya lebih efisien dalam penggunaan bahan, lebih mudah dalam pengelolaan, serta mempercepat proses pengumpulan benih teripang di dalam hapa," pungkas Yanti.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 4Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 7MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 8Ijazah SMA Gibran Kembali Dipertanyakan, Pernyataan Loyalis Jokowi Bikin Polemik Makin Panas
- 9Bukan Cuma Mbappé dan Vinicius, Mourinho Siapkan 4 Pilar Real Madrid untuk Era Barunya
- 10Rodri Dapat Nomor 16 Barcelona, Fermín López Rela Melepas: “Akan Berada di Tangan yang Tepat”









