Banten

Indonesia Bawa Inovasi Pertanian ke Laos, Kopi Huaphan Dipacu Jadi Produk Bernilai Tinggi

Viona Sebastian Nolani | 29 Juni 2026, 19:25 WIB
Indonesia Bawa Inovasi Pertanian ke Laos, Kopi Huaphan Dipacu Jadi Produk Bernilai Tinggi
Para peserta mengunjungi perkebunan kopi. (VT)

AKURAT BANTEN - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Vientiane bersama Pemerintah Provinsi Huaphan dan Kamar Dagang serta Industri Huaphan menggelar program “Kemitraan Agritech Indonesia-Laos: Meningkatkan Kopi Huaphan” pada 22-24 Juni di Distrik Xamneua, Provinsi Huaphan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah diplomasi ekonomi Indonesia dalam memperkuat hubungan kerja sama bilateral dengan Laos, khususnya di sektor pertanian.

Program tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan petani dan pelaku usaha kopi di Huaphan, sekaligus mendorong pengembangan rantai nilai kopi yang berkelanjutan melalui penerapan praktik pertanian modern, teknologi digital, penguatan kelembagaan, serta peningkatan peluang akses ke pasar global.

Program Kemitraan Agritech Indonesia-Laos ini menghadirkan lebih dari 70 peserta yang berasal dari berbagai unsur, mulai dari perwakilan pemerintah, asosiasi kopi, lembaga penelitian, koperasi, pelaku bisnis kopi, kelompok petani, hingga penyedia teknologi pertanian dari Indonesia dan Laos.

Baca Juga: Katering Pernikahan Wajib Bersertifikat Halal? Kemenag Ungkap Manfaat Besar untuk Bisnis Jasa Boga

Kuasa Usaha ad interim di Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Laos, Bapak Achmad Dahlan, menyampaikan bahwa Indonesia dan Laos memiliki peluang besar untuk memperluas kerja sama di bidang pertanian bernilai tambah, terutama dalam pengembangan industri kopi.

“Indonesia tidak hanya hadir sebagai mitra dagang, tetapi juga sebagai mitra pembangunan, siap berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam membangun industri kopi yang berkelanjutan, inklusif, dan berorientasi pasar. Melalui program ini, kami berharap dapat membina kolaborasi jangka panjang yang memberikan manfaat nyata bagi petani, koperasi, dan pengusaha kopi di Huaphan,” ujarnya.

Sebagai salah satu wilayah penghasil kopi Arabika di kawasan dataran tinggi Laos, Huaphan memiliki potensi besar untuk mengembangkan kopi spesial dengan cita rasa dan karakter unik.

Meski demikian, penguatan sektor kopi di wilayah tersebut masih membutuhkan peningkatan kapasitas dalam aspek budidaya, pengolahan pasca panen, penerapan sistem ketelusuran, serta perluasan akses menuju pasar dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Baca Juga: Ta'aruf Golek Garwo Kemenag Pecahkan Antusiasme, 354 Peserta Ikut Ikhtiar Cari Pasangan Hidup

Program ini dirancang sebagai solusi melalui pendekatan menyeluruh yang mencakup berbagai tahapan dalam rantai nilai industri kopi.

Selama pelaksanaan kegiatan selama tiga hari, para peserta mendapatkan pelatihan sekaligus berbagi pengalaman mengenai berbagai aspek penting dalam industri kopi.

Materi yang dibahas meliputi Praktik Pertanian yang Baik, pengelolaan masa panen, proses pengolahan dan fermentasi kopi, pengendalian kualitas, penguatan sistem koperasi, ketelusuran berbasis digital, standar pasar, hingga strategi peningkatan nilai produk melalui kemasan, branding, dan storytelling.

Delegasi Indonesia yang hadir dalam kegiatan ini membawa semangat kolaborasi lintas sektor, terdiri dari lembaga pemerintah, asosiasi usaha, organisasi penelitian, perusahaan teknologi pertanian, serta pelaku industri kopi.

Beberapa pihak yang terlibat antara lain Lembaga Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (ICCRI), Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), Platform Kopi Berkelanjutan Indonesia (SCOPI), dan PT Koltiva.

Sementara itu, delegasi Laos melibatkan perwakilan dari Kementerian Pertanian dan Lingkungan Hidup, Pemerintah Provinsi Huaphan, Dewan Kopi Laos, Kamar Dagang dan Industri Huaphan, perusahaan kopi, serta kelompok petani kopi di Huaphan.

Selain pembelajaran dalam ruangan, peserta juga melakukan kunjungan lapangan ke perkebunan kopi, fasilitas pasca panen, dan lokasi pengumpulan kopi.

Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung mengenai teknik budidaya, metode pengolahan, standar pengendalian mutu, serta simulasi dari sudut pandang pembeli dalam rantai pasok kopi internasional.

Program tersebut juga menjadi wadah untuk membuka peluang kerja sama antara pelaku usaha Indonesia dan Laos dalam bidang perdagangan, investasi, peningkatan kapasitas, serta pemanfaatan teknologi digital guna menciptakan rantai pasokan kopi yang lebih transparan, berkelanjutan, dan memiliki daya saing tinggi.

Melalui interaksi langsung antara pelaku bisnis, asosiasi, dan pemerintah dari kedua negara, program ini diharapkan mampu melahirkan berbagai peluang kemitraan konkret serta memberikan manfaat ekonomi bersama bagi Indonesia dan Laos.

Lewat program Kemitraan Agritech Indonesia-Laos, kedua negara kembali menegaskan komitmen untuk memperkuat kerja sama ekonomi bilateral, meningkatkan daya saing industri kopi, serta membangun rantai nilai pertanian yang inklusif dan berkelanjutan demi mendukung peningkatan kesejahteraan petani.

Inisiatif ini juga menjadi bukti komitmen Indonesia dalam menjalankan peran sebagai mitra strategis untuk mendorong pembangunan pertanian berkelanjutan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan hubungan ekonomi di kawasan ASEAN.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.