Banten

Piala Dunia 2026 Terancam Cuaca Panas Ekstrem, Fenomena Kubah Panas Bikin Suhu Tembus 46 Derajat Celcius

Viona Sebastian Nolani | 30 Juni 2026, 12:12 WIB
Piala Dunia 2026 Terancam Cuaca Panas Ekstrem, Fenomena Kubah Panas Bikin Suhu Tembus 46 Derajat Celcius
Pemain Paraguay berlaga di Piala Dunia 2026. (instagram/@fifaworldcup)

AKURAT BANTEN - Cuaca panas ekstrem diprediksi akan menjadi tantangan bagi para penggemar dan pemain sepak bola di Piala Dunia pekan ini.

Kondisi tersebut terjadi akibat fenomena "kubah panas" yang melanda wilayah tengah dan timur Amerika Serikat, termasuk sejumlah area di Kanada, saat turnamen memasuki fase gugur.

Fenomena "kubah panas" merupakan kondisi ketika area bertekanan tinggi menahan udara panas dan kelembapan dalam waktu lama. Dampaknya, suhu dapat meningkat hingga level berbahaya.

Berdasarkan informasi dari Badan Layanan Cuaca Nasional AS, indeks panas diperkirakan berada di kisaran 40°C hingga 46°C di beberapa wilayah Midwest dan Pantai Timur.

Baca Juga: Roket Buatan Dalam Negeri Diuji TNI AU, WAFAR RD-702 Siap Dukung Kekuatan Udara Nasional

Gelombang panas ini diperkirakan masih berlangsung hingga akhir pekan perayaan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat pada 4 Juli yang bertepatan dengan peringatan 250 tahun.

Sejumlah lokasi pertandingan Piala Dunia, mulai dari Toronto, Kansas City, East Rutherford, New Jersey, hingga Philadelphia, diprediksi ikut merasakan pengaruh cuaca ekstrem tersebut.

"Bahkan setelah matahari terbenam, cuacanya masih akan sangat panas," kata Ahli Meteorologi Senior AccuWeather, Alan Reppert. "Kita berada pada pola cuaca yang akan sangat panas selama sebagian besar siang hari dan bahkan hingga malam hari."

Reppert juga memperkirakan wilayah New York, yang akan menjadi tujuan para penggemar untuk menyaksikan laga babak 16 besar di New Jersey pada 5 Juli, berpotensi mengalami suhu tertinggi sejak 2013.

Baca Juga: Balita 4 Tahun Tewas Terjebak Lubang Proyek di Manggarai, Kelalaian Pengawasan Infrastruktur Disoroti

Menurutnya, pertandingan yang digelar pada malam hari pun tetap berisiko terdampak panas ekstrem.

"Matahari akan terbenam. Itu akan membantu memperbaiki keadaan, tetapi tetap akan panas," katanya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.