Banten

Putin Mulai Terpojok? Serangan Drone Ukraina ke Moskow Bikin Rusia Kewalahan

Viona Sebastian Nolani | 2 Juli 2026, 08:50 WIB
Putin Mulai Terpojok? Serangan Drone Ukraina ke Moskow Bikin Rusia Kewalahan
Tentara Ukraina menerbangkan drone untuk menyerang posisi pasukan Rusia di sekitar Bakhmut, wilayah Donetsk. (aljazeera.com)

AKURAT BANTEN - Serangan drone Ukraina yang semakin intensif ke wilayah Rusia dinilai mulai memberikan tekanan besar kepada Presiden Rusia Vladimir Putin.

Selain mengganggu infrastruktur strategis, serangan tersebut juga memperlihatkan bahwa Moskow kini tidak lagi sepenuhnya aman dari dampak perang Rusia-Ukraina.

Tekanan itu semakin terasa ketika Ukraina berulang kali berhasil menghantam target militer dan fasilitas penting di dalam wilayah Rusia.

Kondisi tersebut memunculkan anggapan bahwa Putin mulai kehilangan ruang gerak dalam menghadapi konflik yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.

Situasi ini juga dimanfaatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk melancarkan perang psikologis.

Baca Juga: Prabowo Anugerahkan Bintang Bhayangkara Nararya kepada 3 Anggota Polri di Hari Bhayangkara ke-80

Setiap kali serangan drone berhasil menembus pertahanan Rusia, Zelenskyy secara terbuka menyindir Kremlin, sementara Putin dinilai belum memiliki jawaban yang mampu membalikkan keadaan.

Pada Selasa malam, drone Ukraina kembali menyerang sebuah perusahaan satelit Rusia di luar Moskow.

Target serangan adalah Pusat Komunikasi Antariksa Dubna yang berlokasi sekitar 310 mil dari perbatasan Ukraina.

Fasilitas tersebut digunakan Rusia untuk mengumpulkan intelijen sekaligus mengoordinasikan operasi pasukan di wilayah Ukraina yang diduduki.

Ini menjadi serangan kedua terhadap kompleks Dubna dalam kurun waktu sekitar sepekan.

Baca Juga: Hari Bhayangkara ke-80 Digelar di Cikeas, Ini Alasan Polri Pilih Satlat Brimob

Gubernur Wilayah Moskow Andrey Vorobyov mengatakan sebuah drone menghantam "gedung administrasi" di kota tersebut tanpa menimbulkan korban jiwa.

Namun, ia tidak secara langsung mengonfirmasi bahwa fasilitas komunikasi antariksa itu menjadi sasaran serangan.

Sementara itu, Wali Kota Moskow Sergey Sobyanin menyebut sistem pertahanan udara Rusia berhasil menembak jatuh lebih dari 60 drone.

Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah mencegat atau menghancurkan total 419 drone Ukraina.

Presiden Ukraina Zelenskyy mengatakan, “Ini adalah fasilitas komunikasi satelit khusus yang digunakan, antara lain, untuk pengumpulan intelijen dan koordinasi kegiatan pasukan pendudukan Rusia di Ukraina.”

Baca Juga: Mulai 1 Juli 2026, PPh 22 Dipungut Marketplace, Pemerintah Pastikan UMKM Tak Kena Pajak Baru

Ia kemudian kembali menyindir Putin dengan menambahkan bahwa "tindakan terkait juga sedang dipersiapkan terhadap fasilitas musuh serupa lainnya."

Mantan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Leon Panetta menilai serangan drone Ukraina, termasuk serangan terhadap infrastruktur minyak dan gas Rusia, telah menempatkan Putin dalam posisi yang semakin sulit.

Dalam wawancaranya dengan Leland Vittert di program "On Balance" milik NewsNation, Panetta mengatakan dirinya “tidak berpikir ada keraguan” bahwa Putin “sedang terpojok.”

“Saya rasa sekarang sudah jelas bahwa Putin terpojok dalam situasi ini dan tidak yakin apa yang harus dilakukan,” kata Panetta.

“Sejujurnya, dia seharusnya menegosiasikan semacam gencatan senjata, tetapi mengingat Putin, dia akan terus menolak hal itu, dan Rusia akan menanggung akibatnya.”

Baca Juga: Gelombang Panas Eropa Tewaskan 1.300 Orang, DPR Desak Kemlu Lindungi WNI

Panetta juga menilai bantuan terpenting yang dapat diberikan Amerika Serikat kepada Kyiv adalah "apa pun yang dibutuhkan dalam hal persenjataan agar Ukraina dapat menghadirkan ancaman yang lebih besar bagi Rusia," yang akan "mengirim pesan kepada Putin" dan menyebabkan Rusia kalah dalam perang empat tahun tersebut.

Ia juga mendesak Presiden Donald Trump untuk mengambil sikap tegas terhadap Putin.

“Putin tidak akan menang dalam keadaan apa pun,” tambah Panetta.

“Akan bijaksana bagi presiden untuk memilih pihak yang akan memenangkan perang ini, dan itu adalah Ukraina.”

Di sisi lain, Kremlin mengecam serangan terbaru Ukraina.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan tiga warga sipil terluka dan seorang bayi berusia enam bulan meninggal dunia akibat serangan tersebut.

Baca Juga: Lionel Messi di Piala Dunia 2026 Bawa Argentina Sempurna, Tapi Kutukan 24 Tahun Mulai Menghantui

“Kami ingin sekali lagi menarik perhatian komunitas internasional terhadap perilaku kriminal rezim Kyiv ini,” kata Peskov, seperti yang dilaporkan oleh media berita milik negara Rusia, TASS.

“Warga sipil telah terkena dampaknya, dan anak-anak telah meninggal akibat tindakan rezim Kyiv.Dan semua orang harus tahu dan mengingat hal itu.”

Pernyataan tersebut menuai sorotan mengingat sejak invasi skala penuh dimulai pada 24 Februari 2022, justru serangan Rusia telah menyebabkan korban sipil dalam jumlah besar di Ukraina.

Misi Pemantauan Hak Asasi Manusia PBB di Ukraina (HRMMU) telah memverifikasi sedikitnya 16.126 warga sipil Ukraina tewas, termasuk ratusan anak-anak, sementara lebih dari 46.000 lainnya mengalami luka-luka.

Meski demikian, Perserikatan Bangsa-Bangsa menegaskan angka tersebut kemungkinan masih lebih rendah dari jumlah korban sebenarnya karena proses verifikasi masih terus berlangsung.

Baca Juga: Setelah Fregat Merah Putih, PT PAL Indonesia Gebrak Dunia dengan Landing Dock 124 Meter LD Philippines #1

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiha meyakini tekanan militer yang terus meningkat pada akhirnya akan memaksa Putin mempertimbangkan perdamaian.

Dalam wawancara dengan Simon Ostrovsky dari PBS, Sybiha menegaskan Rusia kini tidak lagi memiliki wilayah yang benar-benar aman.

Mengenai Rusia dan Putin yang terpaksa mencoba mengakhiri perang, Sybiha mengatakan, “Kami telah membuktikan bahwa tidak ada tempat aman di Rusia, dan kami dapat menjangkau hingga 2.000 km.”

“Hal terpenting sekarang adalah mengakhiri perang ini. Ukraina ingin mengakhiri perang ini. Kami memiliki proposal yang dapat dilaksanakan.”

Kita berada dalam posisi untuk menggunakan pengaruh kita untuk menekan Rusia, bukan untuk melonggarkan sanksi, tetapi sebaliknya, untuk meningkatkan tekanan pada Rusia dan menaikkan harga agresi lebih lanjut secara pribadi bagi Putin.

Baca Juga: Warisan Sejarah Tahun 901 M di Purworejo Dalam Bahaya, Tebing Sungai Bogowonto Terus Terkikis

“Dia harus mengakui bahwa dia tidak akan pernah mencapai tujuannya di medan perang,” tambahnya.

Meski serangan drone Ukraina terus meningkatkan biaya perang bagi Rusia dan memberi tekanan politik terhadap Putin, langkah tersebut sejauh ini belum mampu memaksa Kremlin duduk di meja perundingan.

Sebaliknya, pemerintah Rusia memilih meningkatkan intensitas serangan balasan sekaligus menerapkan berbagai penyesuaian kebijakan di dalam negeri.

Namun, dampak perang kini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat Rusia.

Serangan terhadap fasilitas energi menyebabkan kelangkaan bensin yang memicu antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar.

Aktivitas penerbangan juga terganggu akibat ancaman drone, sementara sebagian warga mulai mempertanyakan kelanjutan perang dan menginginkan perdamaian.

Baca Juga: Daya Saing Indonesia Anjlok 21 Peringkat, Kalah dari Malaysia hingga Vietnam di Ranking Dunia 2026

Sejumlah analis militer Rusia bahkan mulai menyebut jalur darat menuju Krimea sebagai "jalan raya maut" karena tingginya ancaman terhadap jalur logistik pasukan Rusia.

Selain menghantam infrastruktur minyak dan gas, Ukraina juga melancarkan serangan terkoordinasi terhadap sistem pertahanan udara Osa, lima stasiun radar pantai di Krimea, pusat komando Rusia, fasilitas UAV, gudang persenjataan, hingga kendaraan logistik di berbagai wilayah semenanjung tersebut.

Strategi Ukraina membawa perang hingga mendekati Moskow dinilai telah menimbulkan kerugian besar bagi sektor minyak dan gas Rusia.

Serangan itu juga mempersempit jalur pasokan menuju Krimea, menghambat distribusi logistik pasukan Rusia di wilayah selatan dan barat Ukraina, serta memberikan tekanan terhadap perekonomian Rusia.

Bahkan Putin sendiri mengakui bahwa serangan drone terhadap industri minyak dan gas telah "menimbulkan masalah" bagi Rusia.

Baca Juga: Messi Bertemu Vozinha di Piala Dunia 2026, Mimpi Kiper Tanjung Verde Akhirnya Jadi Kenyataan

Dengan eskalasi serangan yang terus meningkat, konflik yang sebelumnya diperkirakan menguntungkan Rusia kini justru berkembang ke arah yang semakin tidak sesuai dengan perhitungan awal Putin.

Perang yang ia mulai perlahan membawa konsekuensi yang mungkin tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.