Banten

Rusia Terpaksa Impor Bensin dari India, Serangan Ukraina Bikin Putin Kewalahan

Viona Sebastian Nolani | 2 Juli 2026, 08:58 WIB
Rusia Terpaksa Impor Bensin dari India, Serangan Ukraina Bikin Putin Kewalahan
Antrean kendaraan di SPBU Rusia mencerminkan kelangkaan bensin yang dipicu gangguan pasokan energi di tengah perang dengan Ukraina. (Tangkapan Layar)

AKURAT BANTEN - Perang Rusia-Ukraina kini memasuki babak baru yang dampaknya semakin dirasakan langsung oleh warga sipil Rusia.

Jika sebelumnya ancaman serangan udara dan rudal lebih identik dengan kehidupan sehari-hari warga Ukraina, kini masyarakat Rusia mulai menghadapi kelangkaan bensin, kenaikan harga energi, hingga pemadaman listrik akibat serangan terhadap infrastruktur energi negara tersebut.

Sejak konflik berlangsung, Rusia dan Ukraina saling melancarkan serangan tanpa henti.

Warga sipil di kedua negara telah terbiasa hidup di bawah ancaman rudal dan drone, bahkan harus berulang kali berlindung di bunker.

Namun belakangan, strategi Ukraina berubah dengan menjadikan kilang minyak, fasilitas pengolahan, serta infrastruktur transportasi dan energi Rusia sebagai sasaran utama.

Baca Juga: Putin Mulai Terpojok? Serangan Drone Ukraina ke Moskow Bikin Rusia Kewalahan

Serangan tersebut mulai memberikan tekanan besar terhadap pasokan energi Rusia.

Kelangkaan bensin terjadi di berbagai wilayah, disertai pemadaman listrik yang semakin sering.

Harga bahan bakar melonjak, memunculkan kekhawatiran di kalangan masyarakat Rusia bahwa perang telah memasuki fase baru, di mana warga sipil harus menanggung konsekuensi ekonomi dan keamanan yang semakin berat.

Tekanan terhadap sektor energi bahkan memaksa Moskow mempertimbangkan langkah yang sebelumnya nyaris tak terpikirkan, yakni mengimpor minyak dan bensin dari negara lain.

Langkah ini menjadi ironi bagi Rusia, negara yang selama ini dikenal sebagai salah satu raksasa energi dunia dengan cadangan minyak mentah dan gas alam yang melimpah.

Baca Juga: Prabowo Anugerahkan Bintang Bhayangkara Nararya kepada 3 Anggota Polri di Hari Bhayangkara ke-80

“Diskusi sedang aktif dilakukan,” kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada wartawan, seperti yang dicatat oleh Politico, menambahkan bahwa impor akan dimulai jika pembelian minyak dan gas dapat dicapai “pada titik harga yang dapat diterima.”

Dia tidak menyebutkan negara mana yang terlibat.

Meski demikian, Reuters melaporkan pada 1 Juli bahwa pasokan impor tersebut berasal dari India.

Selama bertahun-tahun, India dikenal sebagai salah satu mitra penting Rusia.

Walaupun sektor energi Rusia bukan satu-satunya pemain utama dunia, negara itu selama ini merupakan eksportir besar minyak dan gas ke pasar internasional.

Keputusan India memasok bahan bakar ke Rusia diperkirakan memicu ketidakpuasan Amerika Serikat dan negara-negara Barat.

Baca Juga: Hari Bhayangkara ke-80 Digelar di Cikeas, Ini Alasan Polri Pilih Satlat Brimob

Bagi NATO dan Washington, terganggunya pasokan energi Rusia selama ini dipandang sebagai salah satu keberhasilan strategi perang ekonomi terhadap Moskow.

“Sebuah sumber industri mengatakan setidaknya 60.000 metrik ton bensin telah dikirim dari India ke Rusia. Sumber lain mengatakan bahwa dua kapal tanker, masing-masing membawa muatan 30.000 hingga 40.000 ton, telah dikirim,” menurut Reuters.

Krisis energi ini menjadi perkembangan yang tidak biasa bagi Rusia, negara yang selama ini bahkan kerap dijuluki sebagai "pompa bensin" bersenjata nuklir.

Sejak era Uni Soviet, ekspor minyak telah menjadi salah satu sumber utama devisa yang menopang perekonomian Rusia.

Kini, muncul kemungkinan negara tersebut berubah menjadi importir bersih hidrokarbon, sebuah situasi yang dinilai menjadi pukulan bagi Presiden Vladimir Putin yang selama ini mengandalkan kekayaan sumber daya alam negaranya.

Baca Juga: Mulai 1 Juli 2026, PPh 22 Dipungut Marketplace, Pemerintah Pastikan UMKM Tak Kena Pajak Baru

Sebagai pengekspor minyak dan gas alam terbesar kedua di dunia serta pemasok produk minyak olahan terbesar ketiga, kondisi kekurangan bahan bakar yang dialami Rusia dinilai sangat memalukan, sebagaimana dijelaskan Politico.

Putin sendiri mengakui bahwa kondisi pasokan energi negaranya sedang berada dalam tekanan.

Rusia dilaporkan telah kehilangan sekitar 1,7 juta metrik ton cadangan bensin.

Menyusutnya stok tersebut diyakini berkaitan langsung dengan meningkatnya serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia.

“Wakil Perdana Menteri Alexander Novak menggambarkan impor sebagai salah satu alat utama pemerintah untuk menstabilkan pasar, sementara anggota parlemen Rusia pekan lalu menyetujui perubahan pajak yang menciptakan subsidi untuk membantu membiayai pembelian bensin dari luar negeri,” menurut Politico.

Baca Juga: Gelombang Panas Eropa Tewaskan 1.300 Orang, DPR Desak Kemlu Lindungi WNI

Dampaknya mulai terasa di berbagai daerah.

Antrean panjang terlihat di sejumlah SPBU Rusia, sementara kebijakan penjatahan dan kenaikan harga bahan bakar mulai diberlakukan.

Kondisi ini menjadi pengalaman baru bagi banyak warga Rusia yang selama bertahun-tahun menikmati pasokan energi yang relatif stabil.

Keberhasilan Ukraina menyerang fasilitas produksi serta kilang minyak dan gas disebut telah membuka salah satu titik lemah paling penting dalam sistem logistik Rusia.

Di sisi lain, kebutuhan bahan bakar Rusia mencapai lebih dari 110.000 ton setiap hari, terutama saat musim panas ketika konsumsi meningkat.

Meski impor dari India mulai dilakukan, pasokan tersebut diperkirakan belum mampu sepenuhnya menutup kekurangan yang terjadi.

Baca Juga: Nagelsmann Bikin Jerman Hancur di Piala Dunia 2026? Kesalahan Taktik yang Jadi Sorotan

Belarus juga ikut membantu sekutunya dengan mengirim sekitar 70.000 ton produk energi sepanjang Juni, atau tiga kali lebih banyak dibandingkan volume pengiriman normal.

Meski begitu, tantangan yang dihadapi Putin belum berakhir.

Gangguan pasokan mungkin bisa diredam sementara, tetapi Ukraina masih memiliki kemampuan melanjutkan serangan drone dan rudal terhadap fasilitas minyak serta gas Rusia.

Perkembangan ini menjadi salah satu perubahan penting dalam dinamika perang.

Untuk pertama kalinya dalam skala besar, warga sipil Rusia mulai merasakan langsung dampak ekonomi akibat konflik melalui kenaikan harga energi dan memburuknya pasokan bahan bakar.

Situasi tersebut turut menggerus citra Rusia sebagai salah satu kekuatan energi terbesar dunia.

Baca Juga: Brasil Comeback Dramatis Lawan Jepang di Piala Dunia 2026, Rahasia Taktik Carlo Ancelotti Terungkap

Dampaknya diperkirakan tidak hanya memengaruhi kondisi domestik, tetapi juga posisi Rusia di pasar energi global.

Selama serangan terhadap fasilitas energi terus berlangsung, impor minyak dan bensin kemungkinan tetap menjadi pilihan yang harus diambil Moskow.

Kerja sama dengan negara-negara sekutu menjadi langkah yang sulit dihindari untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan.

Di saat yang sama, Rusia juga menghadapi ancaman terhadap bisnis ekspor energinya sendiri.

Jika dalam jangka panjang berubah menjadi importir bersih, negara itu berisiko kehilangan salah satu sumber pemasukan terbesar yang selama ini menopang anggaran negara, termasuk pembiayaan perang.

Bagi Ukraina, kondisi tersebut dipandang sebagai keberhasilan strategi militer.

Baca Juga: Jerman Tersingkir Lebih Cepat di Piala Dunia, Keputusan Nagelsmann Tuai Kritik Tajam

Serangan terhadap industri minyak dan gas Rusia dinilai efektif melemahkan kemampuan logistik lawan dan diperkirakan akan terus berlanjut.

Terbatasnya sistem pertahanan udara Rusia membuat tidak semua kota maupun kawasan industri energi dapat terlindungi secara optimal.

Kondisi ini membuka peluang bagi Ukraina untuk terus menekan sektor energi Rusia, sekaligus memperbesar beban ekonomi Moskow di tengah perang yang semakin menguras sumber daya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.