Banten

Ukraina Klaim Hancurkan 7 Jet Tempur Rusia di Krimea, Kerugian Ditaksir Ratusan Juta Dolar

Viona Sebastian Nolani | 6 Juli 2026, 13:02 WIB
Ukraina Klaim Hancurkan 7 Jet Tempur Rusia di Krimea, Kerugian Ditaksir Ratusan Juta Dolar
Jet Tempur Sukhoi Su-34 Saat Lepas Landas. (Creative Commons)

AKURAT BANTEN - Ukraina mengklaim berhasil melancarkan serangan drone yang menghantam dua pangkalan udara militer Rusia di Semenanjung Krimea.

Dalam operasi tersebut, sejumlah hanggar pesawat tempur dilaporkan rusak berat, sementara kerugian yang ditimbulkan diperkirakan mencapai ratusan juta dolar AS.

Dinas Keamanan Ukraina (SBU) menyatakan serangan yang berlangsung pada 3 Juli itu menargetkan pangkalan udara Saki dan Hvardiiske, dua fasilitas militer utama Rusia di Krimea yang diduduki.

Menurut SBU, sedikitnya tujuh pesawat militer Rusia rusak atau hancur dalam serangan tersebut.

Baca Juga: Bupati Purwakarta Minta Maaf usai Lagu 'Lalaki Langit Lalanang Bejad' Viral dan Tuai Kritik

Ini menjadi serangan kedua yang dilaporkan menghantam pangkalan udara Saki dalam kurun waktu sepekan.

Berdasarkan informasi yang dirilis SBU, drone Ukraina menghantam tujuh hanggar di pangkalan udara Saki yang digunakan Angkatan Udara Rusia (VKS) untuk menempatkan pesawat tempur Sukhoi Su-30SM, Su-30, serta pesawat pembom tempur Su-24.

Sejumlah laporan juga menyebut beberapa pesawat pembom Su-34 yang lebih modern ikut menjadi sasaran dan diduga berhasil dihancurkan.

Pesawat Su-30SM yang diproduksi di pabrik Irkut diketahui dioperasikan oleh Resimen Penerbangan Serangan Angkatan Laut Independen ke-43 Angkatan Laut Rusia.

Baca Juga: KKB Diduga Bakar Pesawat AMA di Yahukimo, Pilot Warga AS Tewas

Intelijen Ukraina mengklaim memiliki bukti bahwa sedikitnya tujuh pesawat mengalami kerusakan atau hancur akibat serangan tersebut, termasuk lebih dari satu unit Su-30SM.

Setelah serangan berlangsung, kebakaran dilaporkan terjadi di hanggar yang menjadi lokasi penyimpanan pesawat tempur Su-30SM.

Kondisi itu dinilai sebagai indikasi bahwa sasaran berhasil dihantam, sebagaimana dilaporkan kantor berita Ukraina United24 Media.

Nilai setiap pesawat yang disebut terkena serangan diperkirakan berkisar antara 30 juta hingga 50 juta dolar AS, bergantung pada konfigurasi masing-masing.

Baca Juga: Kejagung Tetapkan Jenderal Polisi Aktif Jadi Tersangka Korupsi MBG, Diduga Atur Penjualan Ompreng

Dengan estimasi tersebut, total kerugian yang dialami Rusia diperkirakan mencapai ratusan juta dolar.

Citra satelit Vantor yang diambil usai serangan memperlihatkan kerusakan signifikan pada kompleks hanggar.

Empat hanggar mengalami kerusakan berat, terutama pada pintu pelindung yang hancur akibat ledakan drone.

Beberapa bangunan lain juga tampak mengalami kerusakan struktural.

Meski demikian, belum dapat dipastikan berapa jumlah pesawat yang berada di dalam hanggar saat serangan terjadi maupun tingkat kerusakan yang dialami setiap pesawat.

Baca Juga: DJP Resmi Tunjuk Strava hingga Kling AI Pungut PPN 11 Persen, Pengguna Layanan Berbayar Kena Dampaknya

Selain menyerang Saki, SBU juga melaporkan serangan terhadap dua hanggar di pangkalan udara Hvardiiske.

Fasilitas tersebut disebut digunakan Rusia untuk menyimpan drone serang Shahed beserta berbagai perlengkapan penerbangan lainnya.

Menurut SBU, Saki dan Hvardiiske merupakan dua pangkalan udara paling penting bagi operasi militer Rusia di Krimea.

Dari kedua pangkalan itu, pesawat tempur Rusia secara rutin diterbangkan untuk mendukung operasi militer dan melancarkan serangan ke wilayah selatan Ukraina.

Pada era Uni Soviet, pangkalan udara Saki juga dikenal sebagai pusat pelatihan utama bagi pilot kapal induk yang bertugas mengoperasikan kapal induk kelas Kuznetsov.

Baca Juga: Neraca Perdagangan Indonesia Defisit Pertama Kali dalam 6 Tahun, Dipicu Lonjakan Impor Migas

Peran strategis fasilitas tersebut bahkan disebut menjadi acuan bagi Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAN) dalam mengembangkan pusat pelatihan pilot kapal induk mereka.

“SBU terus melaksanakan tugas yang diberikan oleh presiden Ukraina dan secara sistematis mengurangi potensi militer Rusia,” kata Vasyl Maliuk, kepala dinas keamanan.

Serangan-serangan ini, seperti yang dijelaskan oleh seorang direktur perusahaan pertahanan Ukraina yang berbicara kepada National Security Journal, “bertujuan untuk membuat Krimea tidak dapat dipertahankan oleh Rusia – baik bagi penduduk Rusia maupun bisnis yang pindah ke sana untuk mengambil alih properti Ukraina, tetapi juga bagi militer Moskow.”

Pada malam yang sama, Ukraina juga melancarkan serangan drone jarak jauh ke jembatan rel di Kanal Kurmanskyi, yang sebelumnya dikenal sebagai Krasnohvardiiskyi.

Baca Juga: Alarm Deforestasi Indonesia! Taman Nasional Sebangau Digempur Sawit dan Tambang Ilegal

Jembatan tersebut merupakan bagian dari sistem Kanal Krimea Utara yang menjadi jalur logistik penting di wilayah tengah Krimea.

Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina menyebut Rusia memanfaatkan jembatan tersebut sebagai jalur utama distribusi personel, persenjataan, bahan bakar, dan amunisi.

Hingga kini, tingkat kerusakan maupun dampaknya terhadap operasional logistik Rusia masih dalam proses penilaian melalui battle damage assessment (BDA).

Di hari yang sama, Pasukan Sistem Tak Berawak Ukraina mengklaim jumlah serangan drone dan rudal yang berhasil mengenai target Rusia meningkat hingga 1.150 persen sejak awal tahun.

Baca Juga: Rusia Terpaksa Impor Bensin, Serangan Ukraina Bikin Pasokan BBM Nasional Terganggu

Sepanjang Juni, pasukan tersebut bersama unit militer lainnya mengaku telah menghancurkan atau merusak 172 fasilitas industri pertahanan Rusia serta infrastruktur bahan bakar dan energi.

Selain itu, sekitar 3.000 fasilitas militer skala kecil lainnya juga dilaporkan menjadi sasaran serangan selama periode yang sama.

Selama beberapa bulan terakhir, serangan Ukraina terus difokuskan pada infrastruktur energi, transportasi, hingga fasilitas militer Rusia di Krimea.

Pada Januari lalu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan target negaranya adalah mengusir seluruh pasukan Rusia dari semua wilayah Ukraina, termasuk Krimea.

Sejumlah analis militer menilai Krimea tetap menjadi ancaman strategis selama masih berada di bawah kendali Rusia.

Baca Juga: Rusia Terpaksa Impor Bensin dari India, Serangan Ukraina Bikin Putin Kewalahan

Hal itu terlihat dari penggunaan pangkalan-pangkalan udara di semenanjung tersebut untuk mendukung serangan ke wilayah Kherson dan Dnipro.

Karena itu, kemampuan udara Rusia di Krimea diperkirakan akan terus menjadi salah satu sasaran utama operasi militer Ukraina.

Para pejabat militer senior Ukraina juga menyatakan tujuan jangka panjang mereka adalah mengisolasi sepenuhnya Semenanjung Krimea dari daratan Rusia.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.