Banten

Satelit NEO-1 Meluncur Januari 2027, BRIN Ungkap Langkah Besar Indonesia Kuasai Teknologi Antariksa

Viona Sebastian Nolani | 9 Juli 2026, 14:50 WIB
Satelit NEO-1 Meluncur Januari 2027, BRIN Ungkap Langkah Besar Indonesia Kuasai Teknologi Antariksa
BRIN Targetkan Satelit NEO-1 Meluncur Januari 2027, Perkuat Kemandirian Teknologi Satelit Indonesia. (brin.go.id)

AKURAT BANTEN - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menargetkan peluncuran satelit Nusantara Earth Observation-1 (NEO-1) pada Januari 2027.

Satelit ini diproyeksikan menjadi satelit observasi bumi pertama yang sepenuhnya dikembangkan melalui penguasaan teknologi satelit nasional dari tahap awal hingga akhir (end-to-end).

Kehadiran NEO-1 menjadi langkah strategis dalam memperkuat kemandirian teknologi antariksa Indonesia sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap teknologi satelit dari luar negeri.

Target tersebut disampaikan Kepala BRIN Arif Satria saat menghadiri peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia: Kedaulatan Digital dari Ruang Angkasa yang berlangsung di Auditorium Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Baca Juga: Bandar Antariksa Biak Bisa Hemat Biaya Peluncuran Satelit hingga 500 Ribu Dolar, Indonesia Siap Kuasai Industri Antariksa Global

Arif Satria menjelaskan bahwa pengembangan NEO-1 merupakan bagian dari strategi nasional untuk membangun kapasitas Indonesia dalam menguasai seluruh rantai teknologi satelit.

Penguasaan tersebut mencakup proses perancangan misi, integrasi sistem, pengujian, peluncuran, hingga pengoperasian satelit secara mandiri.

Menurutnya, makna kemandirian satelit saat ini tidak lagi sekadar memiliki satelit, tetapi juga kemampuan bangsa dalam menciptakan, mengembangkan, dan memanfaatkan teknologi tersebut demi kepentingan nasional.

"Kemandirian satelit bukan sekadar kemampuan memiliki satelit. Kemandirian berarti kemampuan bangsa untuk merancang, membangun, mengintegrasikan, menguji, meluncurkan, mengoperasikan, serta memanfaatkan satelit secara mandiri sehingga memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat kedaulatan digital Indonesia," ujar Arif.

Baca Juga: Jersey Tandang Belgia Bawa Hoki di Piala Dunia 2026? Ini Kisah dan Filosofi di Balik Desainnya

Satelit NEO-1 akan dimanfaatkan untuk menyediakan data citra satelit nasional yang mendukung berbagai sektor strategis.

Data tersebut dapat digunakan untuk pemetaan wilayah, pemantauan sektor pertanian, kehutanan, kelautan, mitigasi bencana, pemantauan kondisi lingkungan, hingga pengawasan aktivitas kapal melalui sistem Automatic Identification System (AIS).

Kehadiran satelit observasi bumi ini diharapkan mampu memperkuat kemandirian Indonesia dalam penyediaan data penginderaan jauh sekaligus meningkatkan kemampuan teknologi satelit nasional.

Lebih lanjut, Kepala BRIN menegaskan bahwa cita-cita Indonesia tidak berhenti pada pembangunan satelit observasi bumi.

Pengembangan teknologi satelit telekomunikasi, pembangunan Bandar Antariksa Nasional, hingga tumbuhnya industri antariksa nasional menjadi bagian dari strategi besar untuk menciptakan ekosistem keantariksaan yang mampu memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asing.

"Melalui peluncuran NEO-1, pengembangan Bandar Antariksa Nasional, tumbuhnya industri antariksa, serta penguatan kebijakan pengelolaan orbit dan ruang angkasa yang berkelanjutan, kita sedang meletakkan fondasi agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi antariksa, tetapi menjadi produsen teknologi, penyedia layanan, dan pemain utama dalam ekonomi antariksa global," katanya.

Arif juga menilai Indonesia memiliki keunggulan strategis karena berada di kawasan ekuator yang menawarkan efisiensi lebih tinggi dalam peluncuran satelit.

Potensi geografis tersebut perlu dioptimalkan menjadi keunggulan teknologi, ekonomi, dan geopolitik melalui penguatan riset, inovasi, pengembangan sumber daya manusia, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Wayan Toni Supriyanto, menyampaikan bahwa peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia harus menjadi momentum baru untuk memperkuat kemandirian satelit nasional.

Menurutnya, satelit merupakan infrastruktur strategis yang berfungsi menghubungkan wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal, sekaligus menjadi penopang layanan pendidikan, kesehatan, penanggulangan bencana, hingga pertahanan negara.

"Konektivitas satelit bukan semata urusan teknis, melainkan urusan kedaulatan. Siapa yang menguasai infrastruktur satelitnya sendiri, dialah yang menguasai masa depan ketahanan informasi dan komunikasi bangsa," ujarnya.

Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI), Risdianto Yuli Hermansyah, menilai perkembangan teknologi satelit, termasuk mega-konstelasi satelit, Internet of Things (IoT), dan layanan berbasis data penginderaan jauh, membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat industri satelit nasional agar semakin kompetitif.

Menurutnya, penguatan riset, inovasi, regulasi, serta peningkatan tingkat kandungan dalam negeri menjadi langkah penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga mampu tampil sebagai pelaku utama dalam industri satelit global.

Pandangan serupa juga disampaikan Ketua Umum Asosiasi Antariksa Indonesia (ARIKSA) Adi Rahman Adiwoso.

Ia menyebut keberhasilan Satelit Palapa telah menjadi fondasi penting bagi perkembangan sektor keantariksaan Indonesia selama 50 tahun terakhir.

Ke depan, Indonesia membutuhkan kebijakan antariksa jangka panjang melalui Space Policy 2045, penguatan kualitas sumber daya manusia, serta dukungan terhadap industri nasional agar mampu memanfaatkan posisi strategis Indonesia di kawasan ekuator sebagai keunggulan dalam pengembangan teknologi dan layanan antariksa.

Peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, lembaga riset, dunia industri, akademisi, dan komunitas keantariksaan.

Bagi BRIN, sinergi tersebut menjadi fondasi utama dalam mewujudkan kemandirian teknologi satelit nasional yang tidak hanya memperkuat kedaulatan digital Indonesia, tetapi juga mendorong lahirnya industri antariksa nasional yang mampu bersaing di tingkat global.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.