Banten

Pelajaran Besar dari Blackout Sumatera, Sistem Kelistrikan Indonesia Harus Berubah Total

Viona Sebastian Nolani | 29 Juli 2026, 14:46 WIB
Pelajaran Besar dari Blackout Sumatera, Sistem Kelistrikan Indonesia Harus Berubah Total
Ilustrasi mati lampu. (Unsplash/Jarrod Reed)

AKURAT BANTEN - Peristiwa blackout yang melanda wilayah Sumatera pada 22–24 Mei 2026 menjadi bahan evaluasi penting dalam upaya memperkuat sistem kelistrikan nasional di masa mendatang.

Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eka Rakhman Priandana, menjelaskan bahwa sistem kelistrikan merupakan infrastruktur yang sangat vital karena berperan menopang aktivitas masyarakat, sektor industri, pelayanan publik, hingga berbagai bidang strategis yang mendukung pembangunan nasional.

"Pembelajaran dari kejadian blackout menunjukkan bahwa sistem kelistrikan modern membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Tidak cukup hanya memastikan kecukupan daya, tetapi juga memperkuat jaringan transmisi, meningkatkan kesiapan sistem proteksi, koordinasi operasi, kecepatan pemulihan pascagangguan, digitalisasi jaringan, interkoneksi antarwilayah, serta integrasi energi terbarukan," ujar Eka.

Eka menuturkan bahwa keandalan sistem kelistrikan tidak hanya dinilai dari tersedianya pasokan listrik, tetapi juga dari kemampuan jaringan untuk tetap stabil ketika menghadapi gangguan, melakukan pemulihan dalam waktu singkat, serta mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan kebutuhan energi.

Baca Juga: Tergoda Harga Diskon! Manchester United Intip Peluang Angkut Bomber Mematikan Club Brugge

Oleh sebab itu, Pusat Riset Teknologi Kelistrikan (PRTK) BRIN terus mengembangkan berbagai kajian berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi serta menyusun rekomendasi ilmiah di sektor ketenagalistrikan.

Kajian tersebut mencakup teknologi sistem tenaga listrik, smart grid, integrasi energi baru dan terbarukan, hingga berbagai inovasi yang mendukung transformasi energi nasional.

Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar, menyampaikan bahwa webinar tersebut menjadi forum strategis untuk memperkuat diskusi ilmiah mengenai berbagai isu penting di sektor energi.

Menurutnya, kegiatan riset dan inovasi harus selaras dengan kebutuhan pembangunan nasional serta mampu menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat agar menghasilkan manfaat nyata dan dampak yang dapat diukur.

Baca Juga: Gak Perlu Jauh-Jauh Lagi! Bansos PKH Dan BPNT Kini Bisa Diambil Dekat Rumah!

"Semua kegiatan riset perlu diarahkan untuk mendukung Program Kerja Prioritas Nasional. Kami berharap Pusat Riset Teknologi Kelistrikan (PRTK) dapat menyusun proposal riset yang lebih besar dan berdampak, bukan lagi riset-riset yang berdiri sendiri," katanya.

Cuk juga menegaskan bahwa modernisasi sistem kelistrikan tidak hanya berkaitan dengan penerapan teknologi terbaru.

Transformasi tersebut juga mencakup perencanaan sistem yang lebih baik, pengoperasian jaringan yang lebih efisien, penguatan mitigasi risiko, integrasi energi terbarukan, pemanfaatan teknologi penyimpanan energi, pengembangan smart grid, hingga peningkatan ketahanan sistem dalam menghadapi berbagai potensi gangguan.

Sebagai keynote speaker, Prof. Tumiran, Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), menilai bahwa pengembangan sistem ketenagalistrikan Indonesia ke depan tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas maupun skala jaringan.

"Indonesia tidak cukup hanya membangun sistem ketenagalistrikan yang lebih besar. Indonesia harus membangun sistem yang lebih tangguh, fleksibel, digital, produktif, berkelanjutan, dan semakin mandiri," tegas Prof. Tumiran.

Ia menambahkan bahwa listrik tidak sekadar dipandang sebagai komoditas yang dihitung dalam satuan kilowatt-hour (kWh), tetapi merupakan infrastruktur strategis yang menjadi fondasi utama pembangunan nasional.

Karena itu, pengembangan sistem kelistrikan harus mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat daya saing industri nasional, sekaligus menjaga kemandirian dan kedaulatan energi Indonesia.

Melalui penyelenggaraan ENMA Webinar Series, BRIN berharap kolaborasi antara lembaga riset, perguruan tinggi, dunia industri, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan semakin erat dalam menghasilkan inovasi yang mampu memperkuat ketahanan energi nasional.

Selain itu, forum ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat agenda riset strategis dalam mewujudkan sistem kelistrikan Indonesia yang lebih andal, tangguh, adaptif, modern, dan berkelanjutan.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.