Tragedi Ekologis! Orangutan Tapanuli, Spesies Paling Langka di Dunia, Ditemukan Membusuk di Lokasi Banjir Tapanuli

AKURAT BANTEN– Di tengah kepiluan operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) korban jiwa akibat banjir dan longsor di Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Tapanuli Tengah (Tapteng), sebuah temuan tragis kembali mencuatkan alarm darurat ekologi: bangkai seekor Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) ditemukan tak bernyawa.
Spesies endemik yang hanya bisa ditemukan di Sumatera Utara dan dinobatkan sebagai orangutan paling langka di dunia ini, menjadi korban tak terhindarkan dari bencana alam yang menerjang kawasan tersebut sejak akhir November 2025.
Baca Juga: PENTING! Perubahan Jadwal KRL Commuter Mulai Besok, Sabtu: Cek Rangkasbitung & Cikarang Sekarang!
Ditemukan saat Menyisir Korban Manusia
Temuan memilukan ini terungkap pada 3 Desember 2025, ketika tim relawan SAR, yang terdiri dari FAJI Divisi Kebencanaan Tapanuli Selatan, KPA Forester, dan personel Basarnas, tengah menyisir area terdampak bencana di kawasan Pulo Pakkat, Kabupaten Tapanuli Tengah.
Decky Chandrawan, salah satu pendiri KPA Forester, yang berada di lokasi, menjelaskan detik-detik penemuan satwa dilindungi tersebut.
“Kami fokus mencari kemungkinan masih adanya korban banjir. Di tengah proses itu, kami melihat satu individu orangutan,” ujar Decky saat dikonfirmasi, (12/12/2025).
Menurutnya, bangkai orangutan malang itu ditemukan sudah dalam kondisi membusuk dan tersangkut di antara bebatuan besar serta tumpukan kayu yang hanyut diseret arus deras. Pulo
Pakkat, tempat temuan ini, diketahui menjadi salah satu titik yang terdampak parah, dekat dengan aliran Sungai Anggoli dan Sungai Garoga yang menjadi jalur utama pencarian.
Prioritas Evakuasi Manusia: Satwa Dilindungi Terpaksa Ditinggalkan
Dalam situasi darurat kemanusiaan tersebut, tim SAR dihadapkan pada pilihan sulit.
Decky menjelaskan bahwa karena tidak adanya petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di lokasi dan adanya laporan penemuan jenazah manusia di titik lain secara bersamaan, prioritas terpaksa dialihkan.
“Prioritas kami tetap keselamatan dan evakuasi korban manusia. Orangutan itu kami dokumentasikan sebagai temuan lapangan saja, karena yang dievakuasi adalah manusia dan tidak ada petugas BKSDA di lokasi, satwa tersebut tidak bisa kami tangani,” tambahnya.
Meski demikian, dokumentasi temuan ini menjadi bukti nyata dampak fatal bencana terhadap populasi satwa kritis di area penyangga.
Sinyal Kematian Ekosistem Batang Toru
Kematian orangutan Tapanuli ini segera memicu reaksi keras dari pegiat lingkungan.
Ketua DPW Sarekat Hijau Indonesia Sumatera Utara menilai kejadian ini sebagai sinyal serius dan gamblang rusaknya ekosistem Hutan Batang Toru, yang merupakan satu-satunya habitat alami bagi spesies tersebut.
“Kematian orangutan ini mengindikasikan kerusakan tutupan hutan yang cukup massif.
Bencana alam kini bukan hanya mengancam manusia, tetapi juga spesies langka yang bergantung pada hutan yang sehat,” tegasnya.
Data ilmiah menunjukkan populasi Orangutan Tapanuli diperkirakan hanya tersisa sekitar 800 individu di dunia.
Setiap kematian individu, apalagi akibat bencana ekologis, adalah kerugian tak ternilai yang mempercepat ancaman kepunahan.
Temuan tragis ini menjadi pengingat paling menyakitkan bagi semua pihak: perlindungan kawasan Hutan Batang Toru bukan hanya masalah konservasi, melainkan isu mitigasi bencana.
Jika hutan sebagai penjaga air dan tanah rusak, bencana alam akan merenggut korban, baik dari populasi manusia maupun dari satwa paling langka di bumi (**).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










