Terungkap Potensi Energi Panas Laut Bali Utara, Layak Jadi Lokasi Pembangkit Listrik OTEC 5 MW

AKURAT BANTEN - BRIN mengungkap potensi besar energi laut di Indonesia melalui penelitian terbaru yang menyoroti perairan Bali Utara sebagai salah satu lokasi paling menjanjikan untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga panas laut atau Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC).
Kajian ini menjadi langkah awal dalam mendukung transisi energi bersih di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil.
Berdasarkan hasil studi kelayakan yang menggabungkan pemodelan numerik dan data survei lapangan, wilayah perairan Bali Utara dinilai memiliki karakteristik oseanografi yang memenuhi syarat teknis untuk dikembangkan sebagai lokasi pembangkit listrik OTEC berkapasitas 5 megawatt (MW).
Temuan tersebut telah dipublikasikan dalam Karbala International Journal of Modern Science, Volume 12 Issue 3, pada 23 Juli 2026.
Baca Juga: Pelajaran Besar dari Blackout Sumatera, Sistem Kelistrikan Indonesia Harus Berubah Total
Penelitian dilakukan dengan memadukan data observasi lapangan dan pemodelan oseanografi guna menganalisis suhu laut, arus, gelombang, serta kondisi angin di enam titik perairan Bali Utara.
Dari hasil analisis tersebut, seluruh lokasi penelitian menunjukkan potensi yang baik secara teknis dan numerik sehingga layak dipertimbangkan sebagai kandidat proyek percontohan OTEC pada tahap pengembangan berikutnya.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Widodo Setiyo Pranowo, menjelaskan bahwa teknologi OTEC bekerja dengan memanfaatkan perbedaan suhu antara air laut di permukaan dan air laut pada kedalaman tertentu untuk menghasilkan energi listrik yang dapat diproduksi secara berkelanjutan.
"OTEC membutuhkan perbedaan suhu minimal 20 derajat Celsius agar dapat beroperasi secara optimal. Berdasarkan hasil penelitian, seluruh lokasi pengamatan di Bali Utara memenuhi persyaratan tersebut dengan kondisi suhu yang relatif stabil sepanjang tahun," jelas Widodo pada Selasa, (28/7).
Baca Juga: Tergoda Harga Diskon! Manchester United Intip Peluang Angkut Bomber Mematikan Club Brugge
Dalam penelitian ini, tim memanfaatkan data Conductivity Temperature Depth (CTD) hasil survei lapangan yang dipadukan dengan data pemodelan dari Marine Copernicus.
Analisis dilakukan terhadap distribusi suhu laut selama periode 2012–2020, kemudian dikombinasikan dengan kajian oseanografi lainnya untuk menilai kelayakan pemasangan platform OTEC terapung.
Hasilnya menunjukkan suhu permukaan laut di kawasan Bali Utara berada pada kisaran 27,7–29,7°C, sedangkan suhu laut dalam berkisar 5–6,5°C. Selisih suhu atau ΔT yang melebihi 20°C tersebut telah memenuhi syarat utama operasional sistem OTEC.
Selain itu, perubahan suhu antartahun tergolong kecil sehingga dinilai mampu mendukung pasokan energi yang stabil.
“Secara teknis, sistem OTEC yang disimulasikan menghasilkan efisiensi antara 29,03 hingga 30,78 persen, dengan potensi daya listrik bersih (net power) mencapai 2,84–3,22 MW. Angka tersebut merupakan hasil perhitungan model termodinamika, yang mengindikasikan bahwa sistem berkapasitas terpasang 5 MW,” jelasnya.
Potensi tersebut dinilai mampu memasok kebutuhan listrik dasar (baseload) bagi kawasan pesisir.
Meski demikian, pemanfaatannya masih memerlukan tahapan lanjutan berupa rekayasa teknik, pembangunan prototipe, hingga uji coba langsung di lapangan.
“Tidak hanya mempertimbangkan aspek termal, penelitian ini juga mengevaluasi faktor oseanografi lain yang memengaruhi keamanan instalasi pembangkit terapung. Kecepatan angin di lokasi penelitian berada jauh di bawah ambang batas operasional, arus permukaan relatif rendah,” ungkapnya.
Selain itu, tinggi gelombang di lokasi penelitian juga masih berada dalam batas aman bagi operasional platform OTEC terapung.
Kondisi tersebut semakin memperkuat kelayakan teknis kawasan Bali Utara sebagai lokasi pengembangan energi panas laut.
“Dari enam lokasi yang dianalisis, Stasiun L-4 di perairan dekat Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, ditetapkan sebagai lokasi paling prospektif. Selain memiliki efisiensi tertinggi sebesar 30,78% dan potensi daya bersih rata-rata 3,22 MW. Lokasi ini juga berjarak sekitar 16,23 kilometer dari daratan sehingga dinilai lebih menguntungkan dari sisi pembangunan infrastruktur transmisi listrik,” terangnya.
Widodo mengatakan, hasil penelitian ini menjadi landasan ilmiah awal bagi pengembangan energi laut sebagai salah satu sumber energi terbarukan di Indonesia.
Menurutnya, studi tersebut memperlihatkan bahwa perairan Bali Utara memiliki kombinasi kondisi oseanografi yang sangat mendukung untuk dikaji lebih lanjut sebagai lokasi pembangunan OTEC skala menengah.
“Perlu ditegaskan bahwa hasil ini masih berada pada tahap kajian kelayakan numerik. Ke depan, temuan ini dapat menjadi salah satu acuan awal dalam perencanaan proyek percontohan, yang masih memerlukan riset lanjutan lintas kepakaran sebelum benar-benar dapat diwujudkan secara nyata,” ujarnya.
Widodo menambahkan bahwa perjalanan menuju pembangunan fasilitas OTEC yang beroperasi secara nyata masih membutuhkan proses panjang serta dukungan berbagai disiplin ilmu.
Tahapan berikutnya meliputi rekayasa teknik kelautan dan perkapalan, desain platform beserta sistem konversi energi, penelitian material dan ketahanan struktur di lingkungan laut, analisis dampak lingkungan, studi kelayakan ekonomi dan pembiayaan, kajian sosial masyarakat pesisir, hingga penyusunan regulasi dan tata kelola.
“Kami memandang hasil ini sebagai fondasi ilmiah, bukan garis akhir. Pengembangan OTEC perlu ditempuh secara bertahap, kolaboratif, dan berkelanjutan agar potensi ini benar-benar dapat menjadi kenyataan,” tuturnya.
Melalui riset tersebut, BRIN tidak hanya memetakan potensi energi panas laut di perairan Bali Utara, tetapi juga menghadirkan metode yang lebih komprehensif dalam menentukan lokasi pengembangan OTEC.
Penilaian dilakukan tidak hanya berdasarkan perbedaan suhu laut, melainkan juga mempertimbangkan kestabilan temperatur jangka panjang, kondisi arus, gelombang, angin, serta kedekatan lokasi dengan daratan.
“Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga panas laut di wilayah pesisir Indonesia lainnya yang memiliki karakteristik oseanografi serup,” pungkasnya.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 7MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 8Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 9Liga Inggris 2026/2027 Dimulai! Arsenal Buka Perburuan Gelar, Jadwal MU dan Liverpool Ikut Jadi Sorotan
- 105 Alasan Manchester United Tak Akan Melepas Bruno Fernandes pada Musim Panas 2026






