Banten

Nyaris Ricuh! 21 Penyusup Berbawa Molotov Ditangkap Polisi Sebelum Demo Mahasiswa Meledak

Abdurahman | 18 Agustus 2026, 18:36 WIB
Nyaris Ricuh! 21 Penyusup Berbawa Molotov Ditangkap Polisi Sebelum Demo Mahasiswa Meledak
Situasi demo BEM UI pada 18 Agustus 2026 saat masih tertahan di UOB. (Threads/nurulfachiindri - egiiy)

AKURAT BANTEN — Jantung ibu kota mendadak berdenyut lebih kencang pada Selasa, 18 Agustus 2026.

Kawasan strategis Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, dipadati gelombang massa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) yang turun ke jalan guna menyuarakan mosi tidak percaya sekaligus melayangkan sederet tuntutan kritis kepada pemerintah.

Namun, di balik semangat moral mahasiswa yang menggebu-gebu, sebuah fakta mengejutkan terkuak.

Aparat kepolisian berhasil membongkar rencana busuk kelompok provokator yang berupaya menunggangi aksi unjuk rasa damai tersebut.

Baca Juga: Bursa Transfer Panas Liga Primer Inggris: Gila! Rekor £216 Juta Pecah Sekaligus, Pergerakan Transfer Tergila dalam Sejarah Liga Primer Inggris!

21 Penyusup Dicokok: Dari Petasan hingga Botol Molotov

Sebelum ribuan mahasiswa tiba di titik aksi sekitar pukul 13.00 WIB, jajaran kepolisian dari Polda Metro Jaya bergerak cepat menyisir area sekitar.

Hasilnya, sebanyak 21 orang penyusup yang gerak-geriknya mencurigakan berhasil diamankan tanpa perlawanan berarti.

Yang membuat bulu kuduk merinding, tangan-tangan dingin para penyusup ini kedapatan membawa barang-barang berbahaya yang sama sekali tidak relevan dengan mimbar akademik mahasiswa.

Mulai dari petasan berdaya ledak, flare, hingga botol-botol kosong yang disinyalir kuat dipersiapkan untuk meracik bom molotov.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, dalam keterangan resminya di Mapolda Metro Jaya mengungkapkan bahwa seluruh pihak yang diamankan langsung digelandang ke Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) untuk menjalani pemeriksaan maraton.

Polda Metro Jaya mengamankan 21 orang yang saat ini dimintai keterangan di Ditreskrimum terkait membawa barang-barang yang dapat membahayakan peserta aksi, petugas pengamanan, serta masyarakat di sekitar. Tujuannya adalah membuat konflik antara petugas pengamanan dengan peserta yang menyampaikan pendapat di muka umum Kombes Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya

Ketika disinggung apakah puluhan orang tersebut terafiliasi dengan aliansi mahasiswa, pihak kepolisian menegaskan masih mendalami motif serta status keterlibatan mereka secara mendalam dan profesional.

Baca Juga: Liga Inggris 2026/2027 Dimulai! Arsenal Buka Perburuan Gelar, Jadwal MU dan Liverpool Ikut Jadi Sorotan

Siaga 1: 9.242 Personil Gabungan Turun Gunung

Menyadari potensi ancaman keamanan yang masif, Polda Metro Jaya tidak mau kecolongan.

Eskalasi pengamanan langsung dinaikkan dengan menyiagakan 9.242 personel gabungan guna mengawal aksi unjuk rasa sekaligus mengamankan berbagai titik vital aktivitas publik di wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur.

Benteng pengamanan ketat ini merupakan wujud sinergi lintas instansi yang terdistribusi secara strategis:

  • Polda Metro Jaya: 5.670 personel

  • BKO Mabes Polri: 1.850 personel

  • TNI: 1.500 personel

  • Polres Jajaran: 222 personel

Kehadiran aparat dalam jumlah besar ini berhasil menciptakan perimeter keamanan yang kokoh, sehingga potensi gesekan fisik yang coba diciptakan para penyusup berhasil diredam sejak dini.

Baca Juga: Pertengkaran Internal Meledak, Todd Boehly Bersiap Layangkan 'Bendera Putih' di Chelsea!

8 Tuntutan Menggelegar BEM UI di Depan Penguasa

Terlepas dari drama penyusupan yang berhasil digagalkan, fokus utama aksi tetap tertuju pada mimbar aspirasi mahasiswa.

BEM UI membawa 8 poin tuntutan fundamental yang merepresentasikan kegelisahan publik atas berbagai krisis multidimensional yang mendera negeri:

  1. Hentikan penjajahan negara atas rakyat sendiri.

  2. Hentikan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).

  3. Wujudkan reforma agraria sejati.

  4. Turunkan harga kebutuhan pokok dan BBM.

  5. Evaluasi total PSN serta hentikan MBG dan KDMP.

  6. Tolak pemusatan kekuasaan, pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD), dan soroti otonomi daerah.

  7. Tetapkan status bencana nasional untuk daerah Sumatra dan Flores serta percepat pemulihan wilayah terdampak bencana.

  8. Hentikan represifitas dan intervensi TNI-Polri dalam ruang sipil serta bubarkan YON TP.

Hingga laporan ini diturunkan, situasi di sekitar Bundaran HI berangsur kondusif di bawah pengawalan ketat aparat keamanan, sementara proses hukum terhadap 21 orang penyusup pembawa bahan peledak terus dikembangkan oleh kepolisian.(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman