Banten

Brasil vs Maroko, Ujian Perdana Ancelotti dalam Misi Mengakhiri Puasa Gelar Selecao

Aullia Rachma Puteri | 12 Juni 2026, 22:09 WIB
Brasil vs Maroko, Ujian Perdana Ancelotti dalam Misi Mengakhiri Puasa Gelar Selecao
Timnas Brasil.

AKURAT BANTEN - Brasil akan memulai perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 dengan menghadapi Maroko pada laga pertama Grup C yang berlangsung di New York New Jersey Stadium, East Rutherford, Amerika Serikat, Sabtu (13/6) waktu setempat atau Minggu (14/6) pukul 05.00 WIB.

Pertandingan ini menjadi salah satu laga paling dinanti pada pekan pembuka turnamen karena mempertemukan salah satu favorit juara dunia dengan tim yang mencuri perhatian pada edisi sebelumnya.

Bagi Brasil, duel ini menandai dimulainya misi merebut gelar Piala Dunia keenam yang telah dinantikan sejak 2002. Sementara bagi Maroko, pertandingan tersebut menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa keberhasilan mencapai semifinal Piala Dunia 2022 bukanlah kebetulan semata.

Piala Dunia 2026 akan menjadi babak baru bagi Timnas Brasil. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Selecao akan tampil di bawah arahan pelatih asing pada putaran final Piala Dunia.

Baca Juga: Nobar Piala Dunia 2026 Bisa Jadi Mesin Ekonomi Daerah, Bukan Sekadar Pesta Sepak Bola

Sosok yang mendapat kepercayaan besar itu adalah Carlo Ancelotti, pelatih asal Italia yang telah memenangkan berbagai gelar bergengsi di level klub bersama AC Milan, Chelsea, Paris Saint-Germain, Bayern Muenchen, dan Real Madrid.

Bagi Brasil, pertandingan ini bukan sekadar upaya mengamankan tiga poin. Laga melawan Maroko juga menjadi langkah awal dalam misi besar membawa pulang trofi Piala Dunia keenam yang telah dinantikan sejak 2002.

Ancelotti dan Harapan Baru Brasil

Penunjukan Ancelotti menandai perubahan besar dalam pendekatan sepak bola Brasil. Selama lebih dari satu abad sejarah Selecao, kursi pelatih tim nasional selalu dipercayakan kepada sosok asal Brasil.

Namun kegagalan beruntun di Piala Dunia membuat Federasi Sepak Bola Brasil (CBF) memilih langkah berbeda. Setelah tersingkir di perempat final Piala Dunia 2022 dan belum mampu kembali mencapai final sejak 2002, Brasil memutuskan menyerahkan proyek besar mereka kepada pelatih yang dikenal sebagai salah satu manajer tersukses dalam sejarah sepak bola modern.

Baca Juga: Lebih Besar, Lebih Panjang, dan Penuh Kejutan, Inilah Wajah Baru Piala Dunia 2026

Ancelotti datang dengan modal yang tidak main-main. Ia merupakan satu-satunya pelatih yang pernah menjuarai lima liga top Eropa dan pemegang rekor gelar Liga Champions terbanyak sebagai pelatih.

Meski demikian, sukses di level klub tidak selalu menjamin keberhasilan bersama tim nasional. Karena itu, setiap keputusan Ancelotti akan mendapat sorotan besar sepanjang turnamen.

Maroko Bukan Lagi Tim Kejutan

Jika melihat sejarah, Brasil memang unggul dari hampir semua lawan yang pernah mereka hadapi di Piala Dunia. Namun Maroko datang dengan status yang berbeda dibanding satu dekade lalu.

Tim berjuluk Atlas Lions itu mencetak sejarah pada Piala Dunia 2022 dengan menjadi negara Afrika pertama yang berhasil mencapai babak semifinal. Dalam perjalanan menuju empat besar, Maroko menyingkirkan sejumlah tim kuat seperti Belgia, Spanyol, dan Portugal.

Baca Juga: Bukan Argentina atau Prancis, Sosok yang Sukses Tebak 3 Juara Piala Dunia Beruntun Pilih Tim Ini untuk Angkat Trofi 2026

Prestasi tersebut mengubah cara dunia memandang sepak bola Afrika. Maroko kini tidak lagi dianggap sebagai tim pelengkap, melainkan pesaing yang mampu menyulitkan negara-negara elite.

Kekuatan utama mereka terletak pada organisasi permainan yang disiplin, pertahanan yang solid, dan kemampuan melakukan serangan balik cepat. Karakter seperti inilah yang sering menjadi masalah bagi tim-tim yang lebih dominan dalam penguasaan bola.

Awal Perjalanan Menuju Bintang Keenam

Brasil tetap datang ke Piala Dunia sebagai salah satu favorit juara. Mereka masih menjadi satu-satunya negara yang selalu lolos ke setiap edisi Piala Dunia sejak turnamen pertama digelar pada 1930.

Selain itu, lima gelar juara yang diraih pada 1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002 masih menjadi rekor terbanyak hingga saat ini.

Baca Juga: Bukan Pemain atau Suporter, Kini Wasit Piala Dunia 2026 yang Jadi Korban Kebijakan Imigrasi AS

Namun satu fakta yang terus menghantui adalah panjangnya penantian menuju gelar berikutnya. Sudah lebih dari dua dekade berlalu sejak Ronaldo, Rivaldo, dan Ronaldinho membawa Brasil menjadi juara dunia di Korea Selatan dan Jepang.

Sejak saat itu, berbagai generasi datang silih berganti. Dari era Kaka hingga Neymar, semuanya gagal mengakhiri puasa gelar tersebut.

Kini harapan itu berada di tangan generasi baru yang dipimpin Vinicius Junior, Rodrygo, dan sejumlah bintang muda lainnya.

Lebih dari Sekadar Tiga Poin

Laga melawan Maroko mungkin hanya pertandingan pertama dalam fase grup. Namun maknanya jauh lebih besar bagi Brasil.

Baca Juga: Piala Dunia 2026 Punya Calon Kejutan Besar, Dipimpin Haaland dan Dua Bintang yang Mulai Mencuri Perhatian

Kemenangan akan memberikan kepercayaan diri sekaligus memperkuat keyakinan bahwa era Ancelotti dapat membawa Selecao kembali ke puncak dunia. Sebaliknya, hasil negatif berpotensi memunculkan keraguan terhadap proyek yang sudah lama dinantikan publik Brasil.

Karena itu, ketika peluit kick-off dibunyikan, yang dipertaruhkan bukan hanya tiga poin. Di balik pertandingan tersebut, terdapat harapan besar sebuah negara yang selama 24 tahun menunggu kesempatan untuk kembali menambahkan satu bintang lagi di atas lambang kebanggaannya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.