Amerika Serikat Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Iran Langsung Balas Sindiran Donald Trump!

AKURAT BANTEN - Tersingkirnya Amerika Serikat dari Piala Dunia 2026 ternyata tidak hanya menjadi perbincangan di lapangan hijau, tetapi juga memicu perang sindiran yang melibatkan dunia politik.
Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) melontarkan pernyataan bernada tajam setelah Amerika Serikat harus mengakhiri langkahnya usai dibantai Belgia 1-4 pada babak 16 besar.
Kekalahan telak yang dialami tim tuan rumah di Seattle menjadi akhir perjalanan skuad asuhan Mauricio Pochettino di depan pendukung sendiri.
Belgia tampil dominan sepanjang pertandingan dan memastikan tiket ke perempat final, sementara Amerika Serikat harus menerima kenyataan gagal memenuhi ekspektasi sebagai salah satu tuan rumah turnamen.
Baca Juga: Spanyol Lolos Dramatis, Luis de la Fuente Bongkar Alasan Mikel Merino Selalu Jadi Penyelamat!
Tak lama setelah peluit panjang berbunyi, Federasi Sepak Bola Iran mengunggah pernyataan yang langsung menarik perhatian publik. Dalam pesan resminya, mereka menulis:
"Sekarang seluruh dunia sedang menari untuk merayakan kekalahan politik oleh sepak bola."
Kalimat tersebut bukan sekadar respons terhadap hasil pertandingan, melainkan balasan atas komentar sejumlah pejabat Amerika Serikat yang sebelumnya merayakan kegagalan Iran lolos dari fase grup.
Sebelumnya, Menteri Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat, Markwayne Mullin, sempat menyatakan dirinya melakukan "tarian kegembiraan" setelah Iran tersingkir dari Piala Dunia 2026.
Pernyataan itu memicu reaksi keras dari Teheran yang menilai olahraga tidak seharusnya dijadikan alat untuk kepentingan politik.
Baca Juga: Usai Tekuk Meksiko, Inggris Diminta Tetap Membumi! Tuchel: Jangan Terlena Kemenangan Ini
Ketegangan antara kedua negara memang sudah terasa bahkan sebelum turnamen dimulai. Sejak awal, Iran mengeluhkan berbagai pembatasan yang mereka alami selama mengikuti Piala Dunia 2026.
Berbeda dengan peserta lain, skuad Iran ditempatkan di Meksiko dan hanya diizinkan memasuki wilayah Amerika Serikat sehari sebelum pertandingan.
Setelah laga selesai, rombongan mereka juga diwajibkan segera meninggalkan wilayah AS. Selain itu, sebelas anggota delegasi Iran, termasuk Presiden Federasi Sepak Bola Iran Mehdi Taj, dilaporkan tidak memperoleh visa untuk memasuki Amerika Serikat.
Iran menilai kondisi tersebut membuat mereka tidak mendapatkan perlakuan yang setara dibanding peserta lain.
Dalam pernyataan lanjutan, Federasi Sepak Bola Iran juga menyindir sikap pemerintah Amerika Serikat yang dianggap tidak menghormati prinsip-prinsip sebagai tuan rumah ajang olahraga dunia.
Baca Juga: Arsenal Bidik Eks Bek Manchester United! Performa Gemilang di Piala Dunia 2026 Bikin Arteta Kepincut
"Iran sudah terbiasa dengan perlakuan buruk dan kebohongan pejabat Amerika Serikat. Pernyataan itu menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki komitmen terhadap hukum internasional maupun prinsip-prinsip yang seharusnya dimiliki negara tuan rumah ajang olahraga dunia," tulis federasi tersebut.
Di sisi lain, Iran justru menyampaikan apresiasi kepada Meksiko yang menjadi tempat mereka bermarkas selama turnamen.
Federasi menyebut keramahan masyarakat Meksiko menjadi contoh bahwa menjadi tuan rumah Piala Dunia bukan hanya soal stadion megah atau penyelenggaraan pertandingan, tetapi juga menyangkut rasa hormat, kemanusiaan, dan martabat terhadap seluruh peserta.
Kontroversi ini menjadi babak terbaru dari hubungan yang memang telah memanas sejak jauh sebelum Piala Dunia dimulai.
Baca Juga: Prediksi Skor Argentina vs Mesir: Duel Messi vs Salah, Siapa Melangkah ke Perempat Final?
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya beberapa kali memicu polemik terkait keikutsertaan Iran di turnamen, termasuk pernyataan mengenai pembatasan keberadaan tim Iran di wilayah Amerika Serikat selama kompetisi berlangsung. Meski demikian, FIFA tetap memastikan Iran dapat mengikuti turnamen sesuai regulasi yang berlaku.
Kekalahan Amerika Serikat dari Belgia pun menjadi lebih dari sekadar hasil pertandingan sepak bola. Di tengah rivalitas politik yang telah berlangsung lama, hasil di lapangan berubah menjadi simbol saling balas sindiran antara kedua negara.
Piala Dunia 2026 sekali lagi memperlihatkan bahwa sepak bola kerap bersinggungan dengan dinamika politik internasional, terutama ketika melibatkan dua negara dengan hubungan yang sudah lama berada dalam ketegangan.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 6Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 7Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 8MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 9Ijazah SMA Gibran Kembali Dipertanyakan, Pernyataan Loyalis Jokowi Bikin Polemik Makin Panas
- 10Bikin Guru Terharu, Celine dari Pontianak Dipercaya Bawa Baki Merah Putih di Istana







