Banten

OPINI: Oceh Anak Pinggiran, Bau Busuk Bangkonol, Solusi Instan Sampah Tangsel, Bom Waktu Bagi Pandeglang!

Irsyad Mohammad | 30 Juli 2025, 15:54 WIB
OPINI: Oceh Anak Pinggiran, Bau Busuk Bangkonol, Solusi Instan Sampah Tangsel, Bom Waktu Bagi Pandeglang!

AKURAT BANTEN - Di balik gemerlapnya kota yang digadang-gadang sebagai acuan tata kelola dan pembangnan kota modern, Tangerang Selatan (Tangsel) ternyata masih tertatih-tatih memikul beban berat dibahunya serta tumpukan kertas dimeja kerja yang hanya melahirkan retorika, seperti masalah sampah yang tak kunjung usai.

"Alih-alih mandiri, Pemkot Tangsel memilih jalan pintas, Lempar Batu Sembunyi Tangan alias LBST, terus ambil langkah seribu, lari secepat kilat bahkan tanpa jejak," Seloroh Anak Pinggiran ditepian Kali sembari melempar umpan berharap ada ikan menghampiri.

Artinya, Tangsel terkesan tak bertanggung jawab dengan mengirimkan ratusan ton sampah domestiknya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bangkonol, Pandeglang setiap hari.

Baca Juga: Gempa Rusia Berpotensi Tsunami Sampai Indonesia, Kok Bisa?

Kerjasama ini, yang sering disebut sebagai solusi, justru menyimpan potensi malapetaka lingkungan dan sosial bagi Pandeglang.

Secara tegas, Anak Pinggiran ini mengatakan, "Bahwa bukan sekadar urusan logistik sampah, ini adalah cerminan kegagalan sistematis Tangsel dalam mengelola limbahnya sendiri," ujarnya, sembari menikmati hisapan terakhir rokok kreteknya yang masih menyala.

Dengan APBD yang fantastis, Tangsel seharusnya mampu berinvestasi pada teknologi pengolahan sampah modern atau setidaknya memaksimalkan pengelolaan dari hulu.

Baca Juga: Fitnah Sarwendah di Tiktok Viral, Mantan Istri Ruben Onsu Langsung Ambil Tindakan!

Namun, yang terjadi justru sebaliknya, beban sampah Tangsel kini dialihkan ke lahan tidur di Pandeglang yang kapasitas dan infrastrukturnya jelas-jelas jauh tertinggal. Ini adalah sebuah ironi yang mencolok.

Dari Cipeucang yang "Muntah" ke Bangkonol yang Terancam Kolaps

Kita tahu betul, TPA Cipeucang di Tangsel sendiri sudah lama kritis dan "muntah". Krisis sampah akut yang berulang kali terjadi di sana seharusnya menjadi alarm keras bagi Pemkot Tangsel untuk berinovasi.

Namun, alih-alih mencari solusi yang berkelanjutan dan berdikari, mereka memilih jalan termudah: membuang masalahnya ke rumah tetangga. Pandeglang, dengan TPA Bangkonol-nya, kini menjadi "tong sampah raksasa" bagi Tangsel.

Baca Juga: Ternyata Arya Daru Latihan Bunuh Diri Sejak 2013 Hingga Hubungi Orang Penting Ini Agar Berhasil?

Masyarakat sekitar Bangkonol, yang mayoritas hidup sederhana, adalah pihak yang paling dirugikan. Bau busuk menyengat, pencemaran air tanah, wabah penyakit, hingga potensi longsor sampah adalah ancaman nyata yang mereka hadapi setiap hari.

Ini bukan lagi kerjasama yang setara, melainkan pemindahan bom waktu lingkungan dari Tangsel ke Pandeglang. Sebuah keputusan yang, jika dilihat dari kacamata etika lingkungan, sangat dipertanyakan.

Di mana program pengurangan sampah dari sumber? Di mana upaya daur ulang masif? Di mana investasi pada teknologi Waste-to-Energy atau setidaknya fasilitas pengolahan sampah terpadu yang modern? Seolah-olah, selama Bangkonol mau menampung, masalah sampah Tangsel dianggap selesai.

Baca Juga: Perubahan Usia Pensiun PNS 70 Tahun! Akhirnya Bisa Kerja dan Gajian Sampai Tua

Pola pikir seperti ini adalah kemunduran serius dalam tata kelola lingkungan yang bertanggung jawab. Tangsel terkesan terlena dengan opsi termudah, tanpa memikirkan dampak jangka panjang bagi daerah tetangga yang menjadi korban.

Tindakan ini juga memperlihatkan ketidakmandirian Tangsel dalam hal pengelolaan sumber daya. Sebuah kota modern seharusnya mampu mengatasi persoalan dasarnya sendiri, bukan malah mengandalkan "jasa buang" dari daerah lain yang mungkin tidak memiliki daya tawar setinggi Tangsel.

Sudah saatnya Tangsel tidak hanya mengandalkan TPA Bangkonol. Perlu ada upaya serius, konkret, dan berani untuk mengelola sampah secara mandiri, dari hulu ke hilir, dengan strategi yang lebih berkelanjutan.

Jika tidak, "kerjasama" ini hanya akan meninggalkan jejak bau busuk ketidakmampuan, dan Pandeglang akan terus menanggung beban yang bukan seharusnya mereka pikul.

Sampai kapan bom waktu di TPA Bangkonol akan meledak, menumpahkan segala masalah Tangsel ke pelukan masyarakat Pandeglang? Pertanyaan ini harus dijawab dengan.

 

Penulis : Engkos Kosasih

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.