Banten

OPINI: Sri Mulyani Vs GURU, Wanita Penuh Gelar dan Penghargaan Internasional, Siapa Beban Negara?

AA LaNyalla Mahmud Mattalitti | 20 Agustus 2025, 20:41 WIB
OPINI: Sri Mulyani Vs GURU, Wanita Penuh Gelar dan Penghargaan Internasional, Siapa Beban Negara?

AKURAT BANTEN - Sri Mulyani adalah Lulusan Sarjana Ekonomi di Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia dan Master of Science of Policy Economics di University of lllinois Urbana Champaign, U.S.A, dan Ia adalah wanita sekaligus orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia.

Sri Mulyani tercatat sebagai Menteri Keuangan paling lama di Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan pada masa SBY, kemudian dipercaya pada masa Jokowi, dengan nama Kabinet Kerja dan Kabinet Indonesia Maju, saat ini kembali dipercaya Presiden Prabowo Subianto dalam Kabinet Merah Putih juga sebagai Menteri Keuangan periode 2024-2029.

Prestasi lainnya adalah dinobatkan sebagai Menteri Keuangan terbaik Asia oleh Emerging Markets pada 18 September 2006 di sela Sidang Tahunan Bank Dunia dan IMF di Singapura. Pada bulan Oktober 2007 terpilih menjadi wanita paling berpengaruh ke-2 di Indonesia versi majalah Globe Asia dan sebagai wanita paling berpengaruh ke-23 di dunia versi majalah Forbes tahun 2008.

Baca Juga: Kasus Pelecehan Anak di Kota Tangerang, Korban Tiga Kali Pendampingan Psikologis

Belakangan, melalui pernyataan kontroversinya, "Guru beban Negara" menjadi polemik, ketika Ia menghadiri forum Konvensi Sains, Teknologi dan Industri di ITB pada 7 Agustus 2025, hal ini menimbulkan kemarahan dan gelombang protes dari berbagai kalangan khususnya pemangku jabatan fungsional dalam bidang pendidikan diseluruh Indonesia.

Bisa jadi publik beranggapan adanya nuansa politik tercium sangat santer, yang jauh dari kata nurani seorang cendekiawan. Bagaimana tidak, nyatanya hingga saat ini, masih banyak tenaga pendidik swasta yang masih bertahan mengajar dengan gaji sangat minim.

Belum lagi, jika kita mendengar rintihan pendidik yang bertugas dipinggiran kota atau dipedalaman yang gajinya berkisar Rp150.000 hingga Rp300.000 per-bulan, bahkan lebih parah lagi, mereka hanya dibayar dengan hasil pertanian atau peternakan, tentunya ucapan tersebut justru dianggap melukai hati para pemberi cahaya bagi masa depan bangsa ini.

Baca Juga: Janji Andra Soni Sekolah Gratis untuk Puluhan Siswa, Berikut Nama-nama yang Dapat Bantuan dari Gubernur Banten

Miris lagi, jika kita mendengar keluhan guru yang sudah mengabdi dan mendedikasikan dirinya selama 30 tahun mengajar disekolah, ketika masa purna baktinya hanya menerima Tunjangan Hari Tua (THT) Rp70 juta, bandingkan dengan kemewahan anggota DPR RI yang memiliki pendapatan sehari Rp3 juta diluar tunjangan lainnya, Apakah ini adil?

Walaupun demikian, mereka tetap memilih bertahan dan tetap mendidik generasi penerus harapan bangsa, walaupun dengan kakinya melangkah terseok-seok atau mengayuh sepeda tuanya menuju sekolah karena panggilan akan rasa cinta tanah air.

Benar, bahwa Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, tapi negara seakan tidak memberi penghargaan layak, termasuk pemenuhan kesejahteraan anak dan istri mereka, untuk menikmati asupan makanan bergizi termasuk masa depan pendidikannya anak-anaknya hingga keperguruan tinggi.

Baca Juga: AHY : Heliport Bukan Hanya Untuk Bisnis Tapi Juga Pertahanan

Kegeraman masyarakat dan kalangan akademisi pun mulai bermunculan, seorang akademisi dari Universitas Muhammadiyah Surabaya menilai bahwa ucapan Sri Mulyani tersebut "sangatlah tidak manusiawi dan minim empati" jika dia adalah sosok cendekiawan dan pejabat negara yang secara konsisten terlibat dalam kabinet sejak masa SBY hingga Prabowo Subianto.

Selanjutnya Ia mengatakan “Bagaimana mungkin seorang pejabat tinggi negara melontarkan pernyataan seperti itu? Padahal guru justru menopang peradaban bangsa,” Ucap dia.

Layaknya pepatah, "Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari" jika pejabat tinggi negara berucap demikian, lalu patutkah dihargai?

Baca Juga: Guncang Istana dengan Suaranya Diva Aurel Tabola Bale, Ternyata Arti Lagunya Sangat Menyentuh?

Intinya, tak ada pejabat yang tiba-tiba mucul dari lobang semut jika tidak ada yang menuntunya dari dalam sarangnya yang gelap gulita. Artinya tanpa guru, tidak ada Raja, Presiden, Menteri dan pejabat lainnya.

Tahukah pejabat negara kondisi keluarga guru, disaat ekonomi Indonesia yang sedang carut marut peninggalan atau warisan Presiden RI ke-7 Joko Widodo (Jokowi)? Kalau pun mereka tahu, apakah mereka peduli?.

Sebenarnya, banyak guru harus mencari penghasilan tambahan untuk menghidupi keluarganya, dengan berjualan di pasar, menjadi ojek online, hingga buruh lepas harian. Sementara disisi yang berbeda Sri Mulyani dengan mulus jari jemarinya melalui goresan penanya, menandatangani anggaran untuk para pejabat korup, seperti; mobil dinas mewah, rapat di hotel berbintang, hingga konsumsi rapat dengan harga yang tidak masuk logika.

Baca Juga: Tubuh Balita Raya Dipenuhi Cacing hingga Otak, Dedi Mulyadi Gerak Cepat ke Puskesmas Desa

Niscaya suatu saat, kita berharap negeri ini akan mengalami perubahan, yaitu pejabat yang memiliki empati kepada rakyatnya, karena 85% rakyat menengah kebawah dengan suka rela membayar pajak demi kelangsungan NKRI bukan untuk membesarkan perut tikus-tikus kantor yang mengenakan jas mewah serta dasi yang menutupi dadanya yang membusung dan bukan pula untuk keangkuhan mereka yang selalu berdiri diatas penderitaan rakyat. (*******)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.