Nilai Akademik Rendah, Apa yang Salah dengan Sistem Pendidikan Kita?

AKURAT BANTEN-Rendahnya nilai akademik peserta didik kembali menjadi sorotan.
Acap kali hasil asesmen nasional, asesmen kompetensi, atau laporan internasional dirilis, publik dihadapkan pada angka-angka yang memicu kekhawatiran.
Namun, seperti pertanyaan pada judul diatas, bukan sekadar berapa nilainya, yang lebih penting melainkan apa yang sebenarnya sedang tidak beres dengan sistem pendidikan kita.
Selama ini, nilai akademik kerap dijadikan tolok ukur utama keberhasilan pendidikan.
Baca Juga: Viral! Guru PPPK Paruh Waktu di Sumedang Terima Gaji Pertama Rp15 Ribu, Kok Bisa?
Mereka dianggap pintar atau gagal berdasarkan angka di rapor.
Padahal, nilai rendah sering kali bukan cerminan kemampuan murid semata, melainkan gambaran dari sistem yang belum sepenuhnya berpihak pada proses belajar yang bermakna.
Salah satu persoalan mendasar adalah pendekatan pembelajaran yang masih berorientasi pada hafalan dan penyelesaian soal.
Di banyak sekolah, murid dikejar target kurikulum dan materi, sementara ruang untuk memahami konsep secara mendalam menjadi terbatas.
Akibatnya, murid m eampu mengerjakan soal saat ujian, tetapi kesulitan ketika harus menerapkan pengetahuan dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Selain itu, sistem penilaian yang terlalu menekankan hasil akhir sering mengabaikan proses belajar.
Murid yang belajar perlahan, namun konsisten, kerap tertinggal secara angka.
Sebaliknya, mereka yang mahir menghafal dalam waktu singkat bisa terlihat unggul.
Kondisi ini tidak hanya memengaruhi nilai, tetapi juga membentuk pola pikir murid bahwa belajar adalah soal angka, bukan pemahaman.
Baca Juga: Mimpi Haji Murah Bukan Lagi Halu: Presiden Bongkar Rencana Besar Kampung Indonesia di Makkah!
Faktor lain yang tak kalah penting adalah kesenjangan kualitas pendidikan. Akses terhadap guru berkualitas, sarana pembelajaran, dan lingkungan belajar yang mendukung masih belum merata.
Tidak adil jika nilai rendah sepenuhnya dibebankan kepada murid, sementara mereka belajar dalam kondisi yang serba terbatas.
Tekanan psikologis juga menjadi persoalan tersendiri.
Beban akademik yang tinggi, tuntutan orang tua, dan budaya membandingkan nilai dapat membuat murid kehilangan motivasi belajar.
Dalam kondisi tertekan, potensi belajar justru sulit berkembang, dan nilai akademik pun ikut terpengaruh.
Jika nilai akademik terus rendah, maka solusinya bukan sekadar menambah jam pelajaran atau memperketat ujian.
Yang dibutuhkan adalah perbaikan cara pandang. Pendidikan seharusnya memanusiakan manusia, memberi ruang bagi murid untuk bertanya, berpikir kritis, dan menemukan makna dari apa yang dipelajari.
Nilai akademik tetap penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan pendidikan.
Ketika sistem mampu menyeimbangkan antara pengetahuan, keterampilan, dan karakter, maka nilai bukan lagi tujuan utama, melainkan hasil alami dari proses belajar yang sehat.
Pada akhirnya, rendahnya nilai akademik adalah alarm bagi kita semua—bahwa sudah saatnya sistem pendidikan tidak hanya mengejar angka, tetapi juga memastikan setiap anak benar-benar belajar, tumbuh, dan berkembang sesuai potensinya.
Baca Juga: Peringati HPSN, Pemkot Tangerang Ajak Masyarakat Tangani Sampah dari Hulu ke Hilir
Nilai memang penting, tapi ia hanyalah alat ukur, bukan tujuan akhir. Pendidikan yang berhasil adalah yang mampu menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual, keterampilan hidup, dan kekuatan karakter.
Kesimpulan
Rendahnya nilai akademik adalah alarm keras bagi kita semua.
Sudah saatnya kita berhenti memperlakukan anak-anak seperti robot penghasil angka.
Saat sistem pendidikan kita fokus pada proses tumbuh kembang yang sehat, maka nilai tinggi akan datang dengan sendirinya sebagai hasil alami—bukan sebagai beban yang mematikan kreativitas.
---------------------
Sumber: Abdul Marta Nurdin, ST. MPd. Kepala Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1, Kota Tangerang Selatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 6Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 7Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 8MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 9Ijazah SMA Gibran Kembali Dipertanyakan, Pernyataan Loyalis Jokowi Bikin Polemik Makin Panas
- 10Bikin Guru Terharu, Celine dari Pontianak Dipercaya Bawa Baki Merah Putih di Istana







