Banten

Keajaiban Makam Karomah Wali Allah Syekh Asnawi Caringin Labuan, Tidak Hancur Ditelan Tragedi Tsunami 2018

Saeful Anwar | 9 Oktober 2023, 16:50 WIB
Keajaiban Makam Karomah Wali Allah Syekh Asnawi Caringin Labuan, Tidak Hancur Ditelan Tragedi Tsunami 2018

 

 

AKURAT BANTEN - Syekh Asnawi bin Abdurrahman al-Bantani atau yang lebih dikenal dengan nama Syekh Asnawi Caringin (1850-1937) adalah seorang ulama dari Banten.

Syekh Asnawi lahir di Kampung Caringin, Labuan, Banten sekitar tahun 1850 Masehi di tengah keluarga yang religius. Sang ayah, Syekh Abdurrahman bin Syekh Afifuddin, dan ibunya Nyi Mustajah Binti Ki Ambah Bin Syekh Cinding Bin Syekh Abdurrahman (Ciliwulung) Bin Syekh Hasan (Raden Kenyep/Ki Renyep) Bin Waliyuddin (Pangeran Jaga Lautan), berasal dari keluarga yang kental beragama islam. Bahkan, disebutkan pula bahwa Syekh Asnawi masih keturunan Sultan Agung dari Mataram atau keturunan Raden Patah.

Pada usia yang masih sangat belia, yaitu pada umur sembilan tahun, Syekh Asnawi sudah dikirim ayahnya untuk menuntut ilmu ke Mekkah. Di Tanah Suci, Asnawi kemudian bertemu dengan gurunya, Syekh Nawawi al-Bantani, yang merupakan guru di Masjidil Haram. Bukan sekadar karena sama-sama kelahiran Banten Asnawi dapat dekat dengan sang guru. Namun, kecerdasannya juga membuat Syekh Nawawi mengajarkan banyak hal padanya.

Baca Juga: Misteri Keramat Solear, Makam Panglima Islam Kesultanan Banten yang Dijaga Ketat Pasukan Kera Ekor Panjang

Bertahun-tahun Asnawi belajar di tanah kelahiran Islam. Hingga ketika dirasa telah mumpuni dalam agama, ia pun dipercaya untuk mendakwahkan Islam. Maka, Syekh Asnawi pun pulang kembali ke tanah lahirnya, Banten.

Ia pun mulai mengajar dan mengundang ketertarikan banyak pemuda hingga menjadi muridnya. Tersiarlah nama Asnawi sebagai ulama di kawasan Banten dan sekitarnya. Kepiawaiannya dalam berdakwah membuat nama Syekh Asnawi tersohor sebagai ulama besar di Banten.

Tak hanya mengajarkan agama, Syekh Asnawi juga terkenal semangatnya yang menggebu-gebu dalam melawan penjajah. Ia mengobarkan semangat pemuda untuk melawan dan menentang kolonialisme Belanda. Apalagi, saat itu seluruh wilayah Banten berhasil dikuasai penjajah. Bahkan, tak hanya mengobarkan semangat kemerdekaan lewat lisan, tapi juga aksi. Syekh Asnawi juga dikenal memiliki ilmu bela diri yang sakti.

Baca Juga: Makam Keramat Nyi Buyut Marisah, Sering Diziarahi Warga: Minta Karomah dan Kesaktian

Syekh Asnawi yang tangguh dan berhasil mengajak pemuda untuk melawan penjajah pun menjadi ancaman bagi Belanda. Apalagi, Banten dikenal sebagai tempat lahirnya para ‘pemberontak’ Belanda, bukan hanya dari kalangan rakyat biasa, melainkan juga dari kalangan ulama. Alhasil, kiai pernah ditahan oleh penjajah di Tanah Abang serta diasingkan ke Cianjur. Ia dihukum lebih dari setahun dengan tuduhan melakukan pemberontakan. Namun, selama ditahan dan diasingkan, kiai tetap aktif menyampaikan dakwah Islam. Ia mengajarkan syariat Islam kepada masyarakat sekitar di manapun ia berada.

Setelah banyak kiprah yang ditorehkan bagi masyarakat, terutama masyarakat Banten, Syekh Asnawi menghembuskan napas terakhir pada 1937 Masehi. Ia meninggalkan banyak sekali anak, yakni 23 putra dan putri. Ia dimakamkan di dekat masjid yang ia bangun, Masjid Caringin. Hingga kini, banyak masyarakat yang rajin berziarah ke makamnya.

 

Pada saat terjadinya Tsunami tahun 2018 Tim Tanggap Darurat Badan Geologi Provinsi Banten menyusuri jejak tsunami di Selat Sunda pada 22 Desember 2018. Hasilnya antara lain, ketinggian tsunami yang terukur di Pantai Caringin mencapai 5,26 meter. Sedangkan rendaman tsunami di darat yang tertinggi 3,9 meter di daerah Sumur, Sumberjaya.

Hal ini mengakibatkan banyak bangunan disekitar pinggir pantai yang mengalami hancur dan roboh. Namun tidak demikian dengan keberadaan bangunan Makam Syekh Asnawi dan Masjid Caringin yang masih kokoh dan berdiri tegak.

"Pernah terjadi tragedi Tsunami pada tahun 2018, air ombak yang menerjang pantai caringin tidak memporak-porandakan bangunan makam syekh Asnawi Caringin yang tetap kokoh . Air sampai tidak masuk kelokasi makam" ujar salah seorang penduduk Caringin.

Baca Juga: Meriahkan Malam Tahun Baru Islam, Lurah Bencongan Tangerang Kenalkan Situs Sejarah Makam Bencongan

Tahun berikutnya makam syekh Asnawi Caringin banyak dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai wilayah di provinsi Banten.

Demikian salah satu kebesaran Allah, yang dapat melindungi ulama kharismatik, dalam rangka memperjuangkan agama Islam (rm).***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.