Banten

Misteri Qunutan: Mengungkap Asal Usul Tradisi Khas Ramadan di Nusantara

Saeful Anwar | 12 Maret 2025, 09:45 WIB
Misteri Qunutan: Mengungkap Asal Usul Tradisi Khas Ramadan di Nusantara

AKURAT BANTEN-Bulan Ramadan di Indonesia selalu diwarnai dengan tradisi-tradisi unik yang memperkaya khazanah budaya Islam Nusantara. 

Salah satu tradisi yang cukup populer adalah qunutan, yang biasanya dilaksanakan pada malam ke-15 Ramadan. 

Tradisi ini memiliki akar sejarah yang panjang dan sarat dengan nilai-nilai spiritual.

Baca Juga: Tambang Emas Ilegal Lebak 'Diracuni' Sianida: Polda Banten Bekuk Pemasok, Efek Berantai Dibongkar

Asal Usul 

Meskipun tidak ada catatan pasti mengenai awal mula tradisi ini, beberapa sumber menyebutkan bahwa qunutan telah ada sejak era Kesultanan Demak pada tahun 1524, ketika pengaruh Islam mulai menyebar ke wilayah barat, termasuk Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten.

Dikisahkan bahwa Sunan Gunung Jati, dengan dukungan pasukan Demak, berhasil menguasai Pelabuhan Banten dan mendirikan kesultanan di sana. 

Sebagai corak seremoni dan untuk mendapatkan berkah di bulan suci, ketupat kemudian dibagikan kepada masyarakat.

Baca Juga: Dari Hotman Paris hingga Denny Sumargo: Gelombang Hidayah Artis, Ustaz Derry Sulaiman Jadi Sorotan!

Makna Filosofis

Qunutan bukan sekadar tradisi makan bersama, tetapi juga memiliki makna filosofis dan spiritual yang mendalam, di antaranya:

 •Makna Spiritual: Mengingatkan Kembali Kepada Allah SWT.

 •Makna Sosial: Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah.

 •Makna Kultural: Melestarikan Tradisi dan Budaya.

 •Makna Filosofis: Mengingatkan Kembali Kepada Kebesaran Allah SWT.

Selain itu, qunutan juga menjadi momentum untuk menyambut malam Lailatul Qadar. Dan mengganti bacaan surat dalam salat tarawih. Juga bersyukur atas nikmat setengah bulan Ramadan.

Baca Juga: Tingginya Pengangguran di Kota Serang Jadi Isu Krusial

Praktik dan Ragam Tradisi Qunutan

Praktik qunutan dapat berbeda-beda di setiap daerah, tetapi umumnya melibatkan kegiatan-kegiatan berikut:

 - Salat tarawih berjamaah dengan membaca doa qunut.

 - Pembacaan doa-doa khusus setelah salat.

 - Pembagian makanan, terutama ketupat, kepada jamaah dan masyarakat sekitar.

 - Silaturahmi dan berkumpul bersama keluarga dan tetangga.

Baca Juga: Harta Kekayaan Wakil Wali Kota Serang Terus Meningkat, Kini Jadi Miliarder

Qunutan di Masa Kini

Tradisi qunutan masih lestari hingga kini, terutama di daerah Jawa Barat dan sekitarnya. 

Meskipun zaman telah berubah, nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ini tetap relevan dan menjadi pengingat akan pentingnya kebersamaan, kepedulian, dan ketaatan kepada Tuhan.

Qunutan adalah bagian dari kekayaan budaya Islam Nusantara yang patut dilestarikan. 

Tradisi ini bukan hanya tentang makanan dan perayaan, tetapi juga tentang nilai-nilai luhur yang memperkuat identitas dan spiritualitas umat Islam (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman