Sungai Ciujung Menghitam, DLH Keluarkan Hasil Lab Uji Baku Mutu Air

AKURAT BANTEN - Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Banten merilis hasil uji laboratorium terkait tercemarnya sungai Ciujung yang menghitam saat musim kemarau.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah B3, beserta Pengendalian Pencemaran DLHK Provinsi Banten Ruli Riatno.
Secara umum kata Ruli, sungai Ciujung masih dalam kondisi bagus namun memang dari hasil uji lab yang dilakukan ada beberapa parameter yang melebihi baku mutu air.
"Ya kalau secara umum bagus, tadi ada beberapa parameter mungkin yang tinggi, tapi ga tinggi banget melebihi baku mutu, yang lainya juga ada diatas baku mutu," katanya.
Ia mengatakan, pihaknya telah mengambil dari lima titik untuk dijadikan sample uji lab, dari lima titik tersebut ada satu yang memang tidak bagus kualitas baku mutu airnya.
Menurutnya dari satu titik sampel itu ada sembilan paramater dan dari satu titik yang tidak bagus tersebut ada beberapa parameter yang tidak bagus.
"Kalau ga salah ngambil Sempel itu di lima titik, empat titik bagus, satu titik ga bagus, ga semuanya, satu titik ada beberapa parameter, ada sembilan atau berapa, ada yang dari sembilan parameter itu ada empat yang lebih tinggi, ga tinggi banget tapi melebihi baku mutu," ucapnya
Lebih lanjut kata Ruli, untuk mengetahui pasti hal tersebut harus dilakukan analisis lanjut oleh ahli, sebab BOD (Biological Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand) ada yang melebihi baku mutu.
Baca Juga: Air Sungai Ciujung Berwarna Hitam Pekat dan Bau Busuk, Ikan Mati dan Terasa Gatal di Kulit
"Kalau ukuran itumah harus dianalisis oleh ahli kimia, disana ada yang namanya BOD dan COD itu ada yang melebihi baku mutu, karena kita menggunakan standar kelas 2 ya jadi sungainya termasuk tinggi," cetusnya
Ia juga menjelaskan bahwa air memiliki tingkatan yakni kelas 1 kelas 2 sampai ke kelas 4, pada peraturan perundangannya sendiri pemerintah pun belum menetapkan standar baku mutunya.
"Malah kita masuk ke standar kelas dua. Karena kita tidak menetapkan standar baku mutu, kita masuk ke kelas dua, kelas dua itu termasuk yang tinggi, salah satu contoh baku mutu kelas dua BODnya itu 3, sungai itu di titik ada 6, jadi di jembatan Ciujung 6 ya artinya kebutuhan untuk oksigen itu air yang terkandung didalamnya dibawah ketentuan atau baku mutu yang sebenarnya," jelasnya.
Baca Juga: Sungai Ciujung Surut dan Keruh di Musim Kemarau, Warga Manfaatkan Jadi Tempat Perlombaan HUT RI
Hal itu kata Ruli, dikarenakan debit air yang berkurang sehingga mempengaruhi kepada akumulasi limbah domestik, maupun limbah lainya.
"Sementara pengencernya dalam tanda kutip air, itu debit airnya berkurang, sehingga level BODnya meningkat termasuk untuk polyfoamnya juga naik karena mungkin banyak yang buang hajat juga di sungai, itu ukurannya kalau memang dititik itu," katanya
"Yang lainnya secara kimia bagus yang di ujung Pamarayan bagus, yang di Jongjing bagus, sama di jembatan ini di beberapa parameter, ini juga harus dianalisis dulu sama ahli kimianya dulu lebih dominan," tandasnya. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





