Banten

TPN Ganjar - Mahfud Minta Pemilu 2024 Tak Ada Ujaran Kebencian, Utamakan Adu Gagasan dan Program

Himayatul Azizah | 30 November 2023, 19:34 WIB
TPN Ganjar - Mahfud Minta Pemilu 2024 Tak Ada Ujaran Kebencian, Utamakan Adu Gagasan dan Program

AKURAT BANTEN - Semua kubu pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (Capres-Cawapres) sama-sama menginginkan agar pilpres 2024 berjalan damai dan aman. Hal itu dibuktikan dengan tiga pasangan capres-cawapres menandatangani naskah deklarasi Pemilu Damai di Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Jakarta Pusat, Senin (27/11/2023).

Kampanye damai dapat dilakukan baik melalui offline atau turun langsung ke sejumlah daerah dengan bertemu masyarakat, maupun kampanye melalui media sosial seperti Twitter.

Tim Juru Bicara TPN Ganjar Pranowo dan Mahfud MD, Iwan Setiawan mengatakan harus menghindari politisasi sara, ujaran kebencian di media sosial.

“Kampanye damai itu kampanye Kick Off atau turun langsung ke daerah. Mereka ingin merepresentasikan gagasan dan konsep yang disampaikan kepada masyarakat," ucap Iwan dalam diskusi publik yang diadakan Indonesia Politik Review dan IDNNOW.id di kawasan Ciputat, Tangerang, Kamis (30/11).

Selain turun langsung ke daerah, ada juga kampanye melalui media sosial seperti Twitter yang memposting konten video dan narasi yang dibuat.

"Jadi perlu kecerdasan kita dengan kampanye melalui media sosial, jangan saling serang menyerang di medsos,” tutur Iwan.

“Kampanye langsung itu melalui darat. Kalau di media sosial itu perang udara seperti ujaran kebencian, dan belum bisa ditindak oleh petugas. Karena saat diverifikasi ternyata akun fake atau Buzzer," sambungnya.

Ia juga mempunyai pengalaman tersendiri saat mengunggah konten video yang dibuat sebagai bahan kampanye pasangan capres Ganjar Pranowo dan Cawapres Mahfud MD.

"Konten-konten yang kita bikin dan di upload di medsos, langsung dikomentari oleh netizen atau Buzzer,” tegasnya.

Iwan Setiawan menambahkan kampanye seperti itu menggunakan Buzzer perlu dikurangi karena sudah ketinggalan masanya. Kalau dulu buzzer bisa mengiring opini publik karena dianggap robot.

“Kampanye itu jadi ajang bagaimana capres menjual gagasan seperti pertahanan, kesejahteraan, pertanian, perekonomian dan lain sebagainya,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Tim Pemenangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka (Jubir TPN Prabowo-Gibran), Azwar Muhammad berpendapat yang sama tentang kampanye damai yang telah ditunjukan melalui media sosial.

Menurutnya, setiap kubu Paslon capres-cawapres harus menjunjung tinggi sesuai penandatanganan naskah deklarasi pemilu damai.

Ia juga membahas mengenai julukan Gemoy yang disebut joget-joget ala Prabowo Subianto. Dia mengatakan julukan itu dari anak-anak muda. Siapa pun pasangan capres-cawapres yang bisa memikat dan merebut suara anak muda, diyakini berpeluang memenangi Pilpres 2024.

“Kita ingin memaknai pemilu itu tidak usah tegang. Suara pemilih muda dibawah umur 40 tahun, sangat signifikan di angka 60 persen dari total pemilih,” kata Azwar.

Ia mencontohkan bahwa capres-cawapres yang berpeluang menang itu harus mempunyai khas gaya kepemimpinan seperti Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Yang menang pilpres itu harus punya trenseter baru seperti blusukan dan menyelesaikan proyek yang mangkrak,” ujar Azwar.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin mengatakan bahwa kampanye damai itu dengan adu gagasan dan intelektualitas yang disampaikan ke masyarakat dan jiwa kepemimpinan membangun Indonesia yang lebih baik.

Menurut Ujang, kalau pemilu menjadi konflik, maka akan menganggu pembangunan nasional, jadi akan menjadi bangsa terbelakang dan jauh dari kemajuan.

"Kampanye damai menjadi kekuatan adu gagasan intelektualitas,” kata Ujang Komarudin

Oleh karena itu, sebagai generasi muda, harus bisa mengawal dan mengawasi agar pilpres berjalan dengan adil, jujur, tanpa adanya kecurangan.

“Kita sebagai generasi muda, penyelenggaran pilpres berjalan adil dan jujur,” ucap Ujang. []

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.